Protes Boleh Tapi Tetap Santun

Berita tentang #OccupyCentral di Hong Kong mewarnai berbagai liputan berita. Gerakan tersebut digerakkan oleh siswa sekolah yang menolak pemilihan pemimpin Hong Hong yang diatur sedemikian rupa oleh Pemerintah Pusat Tiongkok. Rupanya para siswa tersebut sadar bahwa pemilihan pemimpin Hong Kong haruslah dilakukan secara langsung tanpa campur tangan Tiongkok. Usia muda belia tak membuat mereka tak paham politik dan hukum.

Jelas berbeda dengan para wakil rakyat – yang seharusnya paham politik dan umurnya tak lagi muda – di tanah air yang tergabung dalam koalisi yang entah mengapa sepertinya ingin sekuat tenaga memuluskan RUU Pilkada. Yang bila sudah gol maka membuat rakyat Indonesia tak lagi bisa secara langsung memilih kepala daerah di mana mereka tinggal. Ironis, bukan? Para wakil rakyat di tanah air bisa-bisanya gagal paham arti demokrasi. Kalah dengan para siswa belasan tahun di Hong Kong; yang melawan Tiongkok yang hendak mengungkung kebebasan demokrasi yang dianut oleh Hong Kong.

Namun biarlah peristiwa gagal paham itu menjadi diskusi tersendiri. Ada hal yang jauh lebih menarik tentang #OccupyCentral. Yaitu para protestan tetap santun meski mereka menggelar protes yang melibatkan banyak orang; yang mana sebagian besar pelaku protes masih duduk di bangku sekolah.

Hamparan rumput dengan tanda dilarang menginjak rumput mereka turuti. Sehabis protes kelar, sampah-sampah dipunguti. Bahkan hingga mendaur ulang sampah yang kebanyakan berupa botol minuman. Mereka yang protes juga meninggalkan pesan minta maaf kepada publik karena sudah mengganggu kenyamanan jalanan terutama di distrik tempat penyelenggaraan protes. Tak ada bakar-bakaran. Kebanyakan hanya berupa gerakan tubuh serempak penuh makna simbolis tanpa teriakan-teriakan yang memekakkan telinga. Hanya diam membisu. Teroganisir. Rapi. Santun.

Penggalan kisahnya dapat dibaca di http://qz.com/273446/hong-kongs-umbrella-revolution-may-be-the-politest-protest-ever/.

Kesantunan mereka dalam melakukan protes membuat banyak orang yang tadinya melihat menjadi simpatik. Turut ikut membantu gerakan protes para siswa sekolah. Media di dalam dan di luar negeri pun menyorot kesantunan protes tersebut. Benar bahwa gerakan tersebut membuat gangguan tersendiri namun tetap mendapat apresiasi positif.

Dan mereka masih duduk di bangku sekolah. Belasan tahun. Namun bisa memobilisasi para pendukung protes dengan terorganisir. Lagi-lagi harus saya tulis: rapi dan santun. Padahal aksi mereka sempat dilawan oleh polisi Hong Kong yang gunakan semprotan merica dan gas air mata. Eh, tetap santun.

Beda. Beda sekali 180 derajat dengan aksi ribuan massa di Bulan Agustus 2014 yang merangsek di depan halaman MK, Jakarta. Bahkan saking nekatnya, ada pendukung salah satu capres dan cawapres yang kalah pilpres yang gunakan tiga unit Unimog, kendaraan besar yang sekilas mirip panser. Tujuannya untuk menembus perimeter yang dibuat oleh aparat keamanan.

Sekelar protes, sampah berserakan. Nasi bungkus, botol minuman dan aneka atribut unjuk rasa. Taman kota pun hancur berantakan. Padahal untuk merawat dan memperbaikinya tidak murah dan dananya berasal dari pajak rakyat. Pun tujuan protesnya juga tak masuk akal. Banyak didapati peserta unjuk rasa yang ikut dan ikut-ikutan karena mendapat konsumsi dan uang saku; alias bayaran semata. Tanpa mengerti apa yang hendak diperjuangkan.

Sungguh perbedaan dua kumpul massa tersebut memberikan rasa prihatin.

Di sana, para siswa sekolah mampu protes dengan santun untuk memperjuangkan demokrasi.

Di sini, para pelaku unjuk rasa ‘memperjuangkan’ kepentingan kelompok yang gagal paham dan gagal menang di arena Pilpres yang jelas-jelas diselenggarakan dengan demokratis. Itupun ikut karena dibayar dan diberi nasi bungkus.

Aduh… Revolusi Mental jelas dibutuhkan di negeri ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s