Serbuan Mall di Yogyakarta

Menurut saya sebagai orang Yogya, provinsi ini tidak besar tapi juga tidak kecil. Provinsi yang lebih sering dikenal sebagai Kota Yogya berkembang pesat dari segi jumlah penduduknya. Dulu wilayah yang relatif sepi. Sekarang lebih ramai. Lebih dinamis. Ada sisi tradisional yang tumbuh bersama sisi modernitas.

Namun ada yang membuat saya heran. Berapa mall yang wilayah ini butuhkan? Ada Malioboro Mall dan Ambarukmo Plaza. Saya kira cukup untuk memenuhi kebutuhan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan satu kotamadya dan empat kabupaten. Selebihnya bangun saja pasar-pasar tradisional dan sentra kerajinan di seluruh pelosok Yogyakarta.

Sayangnya tidak. Ada lima tempat di mana sudah atau akan hadir pusat perbelanjaan baru. Sahid Jogja Lifestyle, Malioboro City, Lippo Mall Saphir, Jogja City Mall dan Hartono Lifestyle Mall. Tak tanggung-tanggung. Ada lima yang akan beroperasi secepatnya.

Hebat, bukan? Yang menjadi pertanyaan saya, apakah pemerintah daerah tidak memikirkan beberapa poin penting seperti berikut.

Pertama, kehadiran bangunan besar jelas akan menjadi landmark. Namun efek negatifnya juga besar. Apakah benar uji amdalnya sudah sesuai? Bayangkan cadangan air dalam tanah yang terserap. Belum lagi pengaturan limbah dan sampah. Bahkan secara tata kota juga tak terlihat indah.

Kedua adalah matinya berbagai roda bisnis dalam skala kecil dan menengah. Alih-alih membantu kalangan Usaha Kecil dan Menengah, pemberian izin mall bisa memberikan tekanan yang luar biasa bagi pebisnis lokal. Akibatnya kebangkrutan dan pengurangan tenaga kerja.

Ketiga adalah pudarnya identitas Yogyakarta. Sekarang masih layak disebut kota yang sarat dengan kebudayaan. Kota pendidikan karena adanya berbagai institusi dan industri edukasi. Boleh jadi kota ini akan menjadi kota yang hiper-konsumtif. Menjadi kota besar dengan biaya hidup yang meningkat drastis yang menjadikannya kota yang tak lagi nyaman untuk ditinggali.

Tentu kehadiran mall-mall tersebut akan menyerap banyak tenaga kerja. Putaran uang yang beredar pun menjadi lebih besar. Ada pajak besar yang bisa berkontribusi untuk pembangunan daerah.

Hanya saja, imbas negatifnya lebih banyak ketimbang positifnya. Ada kerugian yang bisa dinilai secara nominal. Pun kerugian yang tak dapat dihitung nominalnya bisa jadi jauh lebih besar.

Sayang sekali. Sangat disayangkan. Semoga tak ada lagi rencana untuk membangun lebih banyak mall. Tujuh mall sudah lebih dari cukup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s