Peliput Ebola

Tadi pagi saya membaca tentang seorang jurnalis yang meliput epidemi Ebola di Afrika. Pengalamannya menegangkan. Salah-salah bisa menjadi korban Ebola yang berujung kematian.

Saya salut dengan keberaniannya. Bukan, bukan kenekatan. Ada beda besar antara berani dan nekat. Bila nekat tentu tak selamat dari penyebaran Ebola yang betul-betul menyebar dengan cepat. Ada keberanian yang dibarengi dengan disiplin tinggi jurnalis tersebut. Yaitu rajin melindungi tubuhnya dengan perangkat standar sebagai pencegahan penyebaran virus Ebola.

Bahkan meski tak tertular Ebola, jurnalis ini secara sukarela mengkarantina dirinya sendiri di rumahnya selama 21 hari. Selama masa normal inkubasi Ebola. Tentu supaya berjaga-jaga bila ternyata dia mengidap virus Ebola. Untungnya tidak.

Peliput Ebola jelas sangat riskan. Korban sudah berjatuhan. Ada peliput yang terpapar virus Ebola dan akhirnya meninggal. Epidemi Ebola memang sesuatu yang nyata terjadi. Tanpa peliput yang berani tentu orang lain yang awan seperti kita tak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Salut untuk para peliput Ebola.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s