Kota Minim Iklan Luar Ruang

Kota Sau Paulo di Brazil. Kota Grenoble di Perancis. Kedua kota tersebut tak berbatasan. Budayanya pun tak sama. Uniknya mereka sama-sama memiliki komitmen untuk menjaga keindahan dan pemandangan kota. Caranya?

Ini dia caranya. Dua kota tersebut melarang iklan luar ruang untuk bertebaran di penjuru kota. Baliho iklan yang menjulang tinggi dihilangkan. Tempelan iklan besar yang menempel di bangunan dan infrastruktur kota dibersihkan.

Memang tak mudah untuk seratus persen menghilangkan iklan luar ruang di kedua kota tersebut. Masih ada iklan luar ruang meski jumlahnya sangat sedikit. Kesuksesan usaha mereka berkat kegigihan pemerintah kota mereka untuk membuat regulasi yang sungguh berani.

Maklum saja kalau upaya mereka ditentang oleh para pelaku usaha. Terutama mereka yang bergerak dalam bidang iklan luar ruang. Yang mana juga berimbas pada hilangnya pendapatan kota yang didapat dari pajak usaha iklan luar ruang.

Toh, kedua kota tersebut, Sao Paulo dan Grenoble, sanggup membuat keinginan menjadi kenyataan. Penjuru kota menampakkan pohon, arsitektur kota, langit dan interaksi masyarakatnya. Pasti cukup mudah mendapatkan foto-foto yang indah di kedua kota tersebut tanpa terhalang oleh spanduk iklan yang mencolok. Otomatis kota-kota tersebut menjadi surga bagi para fotografer.

Di lain sisi, hilangnya iklan luar ruang membuat masyarakat terhindar dari kegiatan yang konsumtif. Meski tak disadari, iklan luar ruang mampu memberikan persuasi bagi yang melihat untuk melakukan pembelian barang yang ditawarkan.

Bagaimana dengan kota-kota di Indonesia? Sepertinya kota besar sudah terlalu padat dengan iklan luar ruang yang jumlahnya tak karuan. Kota-kota kecil pun tak ketinggalan. Maklum karena regulasi sering dan sengaja ditabrak. Baliho dan spanduk makin menjamur. Tiap saat berganti. Entah iklan mobil, makanan instan atau rokok sekalipun.

Salah satu kota dengan reklame luar ruang yang keterlaluan banyaknya adalah Yogyakarta. Banyak arsitektur kota peninggalan masa lalu yang terkubur di balik iklan berukuran besar. Tantangan tersendiri untuk memotret keindahan kota. Sayangnya meski banyak yang berteriak tak setuju tetap saja papan-papan dan spanduk iklan makin rapat bertebaran di mana-mana.

Sayang sekali, bukan? Andaikata pemerintah lokal di banyak kota seberani pembuat keputusan di Sao Paulo dan Grenoble, pastilah mata kita akan dimanjakan pemandangan kota yang berkesan, rapi dan asri.

Gunung Kemukus

Gunung ini sedang ramai menjadi bahan pembicaraan di dalam negeri dan di luar negeri; terutama di Australia. Padahal gunung ini sebenarnya bukan gunung berapi atau sejenisnya. Gunung Kemukus merupakan daerah perbukitan di mana ada tempat ziarah di daerah Sragen.

Gunung Kemukus menjadi terkenal mendadak karena diliput oleh stasiun televisi asing. Liputannya mengenai wilayah ini yang juga dikenal sebagai Sex Mountain. Gunung seks?

Wajar memang karena ada aktivitas ziarah yang tak seperti biasanya. Menurut cerita, entah benar atau tidak, para peziarah disarankan untuk melakukan hubungan intim sebelum melakukan ritual doa. Dengan melakukan aktivitas seksual maka keinginan bisa lebih mudah terkabul. Benar atau tidak tergantung dari para pelaku ziarah sendiri.

Sayangnya syarat ziarah ini membuka peluang bagi prostitusi yang makin merebak di Gunung Kemukus. Ada kesempatan emas. Makin banyak yang berziarah, makin banyak pula kebutuhan untuk bercinta. Peziarah untung. Pramunikmat pun juga untung. Klop!

Padahal ada yang lebih diuntungkan yaitu para pemilik penginapan dan warung di sekitar Gunung Kemukus. Pasalnya ada kebutuhan untuk menginap (baca: melakukan aktivitas seksual) dan kebutuhan makan minum.

Pasalnya para warga sekitar Gunung Kemukus justru merasa tidak diuntungkan. Jelas tidak senang ketika wilayah mereka menjadi terkenal karena berubah menjadi daerah lokalisasi yang terselubung. Masyarakat percaya bahwa perbuatan asusila jelas memberikan azab tersendiri bagi wilayah tersebut. Selain rasa malu yang sangat karena daerah mereka terkenal karena ‘wisata seks’; bukannya wisata religi.

Sebelum liputan stasiun televisi asing tersebut, sebenarnya banyak orang sudah tahu bahwa Gunung Kemukus identik dengan ziarah yang tak lepas dari hubungan intim. Pemerintah daerah pun tak berbuat apa-apa.

Setelah liputan tersebut ramai dibicarakan, nah, pemerintah daerah baru bertindak. Kebakaran jenggot. Pasalnya ketika area lokalisasi di mana-mana sudah ditutup justru wilayah mereka menjadi wilayah lampu merah yang makin ramai.

Banyak yang tak tahu tentang Gunung Kemukus ini bila media massa tak pernah meliput dan menyiarkannya. Namun sekarang sudah tersohor bahwa Gunung Kemukus adalah Sex Mountain. Yang jelas menimbulkan rasa penasaran banyak orang.

http://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Kemukus

Upah Minimum Provinsi dan BBM

Upah Minimum Provinsi dan BBM laiknya dua sekawan yang akrab. Tiap saat harga BBM bergejolak maka UMP pun ikut bergejolak. Harga BBM naik selalu identik dengan usaha sekian banyak buruh untuk meningkatkan besaran UMP.

Wajar memang karena harga BBM yang naik bakal memperbesar pengeluaran para buruh. Bila UMP tak naik boleh jadi keuangan para buruh menjadi defisit. Tekor. Yang seringkali berujung pada keputusan mengambil hutang untuk menutup pos pengeluaran yang tak tertutupi.

Posisi yang paling tidak enak tentu dirasakan para pelaku usaha. Ketika pengeluaran operasional bertambah karena naiknya harga BBM, justru di saat yang bersamaan buruh ingin upah mereka dinaikkan. Banyak pengusaha yang berjuang sekuat tenaga supaya upah buruh tak naik supaya perusahaan tak merugi. Sayangnya buruh jelas ingin upahnya naik.

Alhasil banyak perusahaan yang didemo oleh buruhnya. Demo berarti terganggunya proses produksi. Merugi. Kemudian pada akhirnya tak mampu menggaji buruh lagi. Bangkrut. Perusahaan lainnya ada yang dengan sadar meski berat hati menaikkan upah buruh. Oleh karena ada pengeluaran yang besar untuk menggaji upah yang mendadak lebih besar dari biasanya maka keuangan perusahaan terseok-seok. Lalu pailit. Entah rute yang mana yang ditempuh, ujung-ujungnya gulung tikar.

Tentu tak semua perusahaan akan bangkrut. Banyak juga perusahaan yang dikelola dengan baik mampu melewati situasi kritis ketika harga BBM naik dan UMP naik. Perusahaan-perusahaan ini justru bertambah kuat ketika harga BBM sudah normal kembali karena mereka mampu mengendalikan tingkat UMP para buruhnya.

Persoalan UMP dan BBM memang soal yang rumit. Dilematis. Namun memang itulah resiko yang harus ditempuh oleh para pelaku usaha di negeri yang masih berjuang untuk menjadi lebih baik.

Bagi Anda yang ingin tahu seperti apa sih besaran UMP di masing-masing provinsi, silakan ulik artikel Wikipedia di bawah ini.

http://id.wikipedia.org/wiki/Upah_minimum_provinsi

Sate Asli Madura

Reputasi Sate Madura sudah terkenal di mana-mana. Rasanya enak dengan komposisi bumbu yang pas dan cita rasa yang mudah diterima oleh banyak orang. Bahkan tak jarang orang berpendapat kalau mau makan sate yang enak ya beli saja di warung sate yang penjualnya asli dari Madura. Selalu memuaskan lidah. Jadi jangan lupa untuk selalu bertanya apakah penjual satenya asli Madura atau tidak.

Daerah lain juga memiliki masakan sate yang khas rasanya. Seperti Sate Padang dan Sate Kudus. Namun keberadaannya tak sepopuler Sate Madura di berbagai pelosok Nusantara.

Uniknya Sate Madura justru sulit untuk ditemukan di Pulau Madura. Sepertinya Sate Madura memang salah satu keterampilan kuliner yang dipelajari atau diturunkan dari generasi ke generasi sebagai salah satu sarana orang Madura untuk bertahan hidup di perantauan.

Sate Madura yang banyak didapati di mana-mana muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang berbentuk warung sate sehingga orang bisa makan dan minum di tempat. Biasanya penjual sate yang seperti ini bisa dibilang cukup sukses. Sudah banyak pelanggannya dan tak perlu lagi berkeliling mencari pembeli. Bila sudah cukup besar biasanya sudah memiliki asisten atau pelayan warung; yang umumnya juga berasal dari Madura.

Ada yang berjualan sate dengan berkeliling menggunakan gerobak yang bentuknya sangat khas. Yaitu berbentuk perahu. Beberapa berpendapat bahwa perahu itu simbol perantauan. Maklum karena mereka harus menyeberangi Selat Madura dengan perahu. Mungkin sekarang agak berbeda karena warga Pulau Madura bisa menyeberang ke Pulau Jawa melalui Jembatan Suramadu.

Begitu juga ada yang berjualan sate dengan alat bakar kecil dan tenggok yang dibawa dengan diletakkan di atas kepala; berjalan menyusuri area perkampungan dan sekolah. Biasanya yang berjualan adalah ibu-ibu. Kualitas satenya memang tak selezat mereka yang berjualan di warung sate atau dengan perahu namun masih bisa dibilang enak. Sate Ayamnya biasanya lebih tipis karena memang harga jualnya lebih murah karena disesuaikan dengan pembelinya yaitu ibu rumah tangga dan anak-anak sekolah.

Oleh karena itu bila ingin makan sate yang enak, pastikan saja apakah penjualnya asli Madura atau tidak. Bila satenya memang sate asli Madura, bolehlah mengudap sate sepuasnya. Ada kepuasan tersendiri.

Catatan. Artikel ini dibuat setelah tadi malam mengudap Sate Ayam yang rasanya enak. Ibu penjualnya bilang kepada saya bahwa dia memang asli Madura yang sudah tinggal lama di Yogyakarta. Dan benar, rasa satenya memang enak.

Hak Interpelasi Dewan Perwakilan Rakyat

Terus terang saya jarang mendengar istilah Hak Interpelasi DPR pada era pemerintahan yang lalu-lalu. Herannya hak istimewa para wakil rakyat ini santer terdengar di berbagai pemberitaan padahal pemerintahan yang baru hanya berjalan sekira satu bulan.

Ada apa ini? Rencana untuk menggoyang Kabinet Kerja yang rajin bekerja? Ada upaya untuk mengganggu roda pemerintahan baru yang baru saja mulai memerintah? Apa memang betul-betul ingin memperjuangkan kepentingan rakyat?

Ingin tahu alasan sebenarnya? Tanyakan saja sendiri pada beberapa wakil rakyat yang ‘sangat bersemangat’ untuk menggunakan hak interpelasi terkait pengurangan subsidi BBM.

Pada dasarnya karena fungsi DPR adalah wakil rakyat maka mereka memiliki kewenangan untuk bertanya kepada Presiden dan pembantu-pembantunya tentang kebijakan dan keputusan yang menyangkut nasib rakyat. Kata kuncinya adalah bertanya; bukan mempertanyakan.

Coba bila DPR tak punya hak interpelasi maka bisa saja Presiden dan Kabinetnya bertindak dengan sewenang-wenang atau salah jalan karena tak ada yang mengawasi atau melakukan tindakan pencegahan.

Hanya saja hak interpelasi harus digunakan dengan bijaksana. Tak asal memakai. Hanya bila kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sudah menimbulkan kontroversi yang mengganggu kesinambungan pemerintahan maka hak bertanya bisa digunakan.

Saat menilik pemberitaan di berbagai media massa, terlihat Presiden Jokowi dan Kabinet Kerja jelas-jelas bekerja keras untuk kepentingan rakyat. Kebijakan dan tindakan mereka benar-benar menghasilkan dampak positif yang direspon dengan baik oleh masyarakat luas. Jadi untuk apa hak interpelasi coba digulirkan? Toh, presiden dan menteri-menterinya dengan rajin selalu memberikan informasi secara terbuka baik di media massa maupun sosial media. Rakyat bisa langsung tahu apa yang akan, sedang dan sudah dikerjakan. Tanpa perlu memakai hak interpelasi yang sungguh hanya akan mengganggu jalannya pemerintahan.

Kalau sedikit-sedikit hak interpelasi dipakai padahal pemerintahan baru saja berjalan kurang dari seumuran jagung, justru terkesan mengganggu. Ditambah dengan catatan bahwa kondisi DPR—yang juga baru dilantik—masih belum kondusif karena masih menghadapi masalah krusial terkait DPR tandingan dan pembahasan beberapa RUU yang masih belum kelar. Itupun masih dibumbui dengan rencana DPR untuk membangun gedung DPR yang baru dengan dana triliunan rupiah dan reses (libur?) yang akan berlaku di akhir tahun. Nah, lho?

Oleh karena interpelasi itu dulunya jarang terdengar sehingga banyak yang tak paham benar, ada baiknya mengulik dulu apa sih hak istimewa untuk bertanya yang dimiliki oleh mereka yang duduk di kursi DPR. Dengan begitu ada pemahaman sebelum buru-buru ikut berkomentar yang kurang cerdas.

http://id.wikipedia.org/wiki/Hak_Interpelasi_Dewan_Perwakilan_Rakyat

Prihatin dengan Fenomena Enjo Kosai

Entah mengapa saat menjelajahi Internet, tiba-tiba ada artikel menyoal Enjo Kosai—compensated dating—yang dulu pernah saya ulas di blog ini.

https://munggur.wordpress.com/2008/08/18/enjo-kosai/

Artikel itu membuat saya prihatin bahwa gadis-gadis belia ini menjadi ‘pelacur amatir’ demi bisa memuaskan dahaga mereka akan barang-barang mewah dan kesenangan duniawi semata.

Lebih sedih lagi bila banyak dari mereka yang terjerumus ke praktek tersebut hanya gara-gara situasi rumah dan orang tua yang kurang bisa mendidik anaknya. Juga karena tekanan masyarakat dan sekolah yang sangat ketat. Pun tak banyak yang bisa memberi mereka pengertian sehngga mereka sadar. Biasanya banyak orang dewasa yang tak dewasa karena sekedar menyalahkan mereka. Lalu memberikan stigma yang sulit lepas dari benak anak-anak remaja tersebut.

Lagipula apapun istilahnya tak mengubah kenyataan bahwa ada remaja-remaja putri yang menderita baik tubuh maupun mentalnya di luar sana. Entah itu enjo kosai, kimcil atau cabe-cabean. Apapun namanya itu.

Ingat bahwa meskipun memakai istilah Jepang, Enjo Kosai terjadi di banyak tempat di dunia ini. Istilahnya saya yang berbeda. Intinya sama yaitu ‘kencan berbayar’. Prostitusi dalam bentuk yang tersamar.

Bagaimana Kehidupan Setelah 70 Tahun?

Makin jarang orang-orang di sekitar saya yang umurnya lebih dari 70 tahun. Memang ada beberapa orang yang mencapai umur hingga 80 dan 90 tahun. Tapi tak banyak.

Sepertinya 70 tahun merupakan batas yang makin susah ditembus oleh kehidupan banyak orang. 60 tahun sudah punya komplikasi penyakit. 50 tahun sudah sering berkunjung ke rumah sakit. 40 tahun sudah tak lagi bertenaga karena satu dua penyakit. Malahan ada yang di bawah 30 tahun yang sudah meregang nyawa karena tak bisa diri dan menderita sakit yang tak perlu.

Sakit yang tak perlu? Ya. Seperti gagal ginjal karena berlebihan mengonsumsi minuman beralkohol gara-gara unjuk gigi minum oplosan. Ada juga yang liver tak berfungsi lagi karena bekerja tanpa mengenal istirahat.

Lainnya ya kejadian seperti kebut-kebutan maut, selfie di atas gedung bertingkat lalu jatuh atau coba-coba bermain senjata api.

Oleh karena itu, makin sedikit orang yang bisa menikmati kehidupan setelah 70 tahun. Boleh dibilang, orang sekarang nyawanya banyak didiskon karena perilakunya sendiri. Disamping ada pengaruh lingkungan yang kurang sehat karena polusi, bertambahnya tingkat kriminalitas dan depresi yang melanda banyak orang tanpa pandang usia.

Bagaimana dengan Anda sendiri, apakah Anda ingin tahu kehidupan seperti apa setelah Anda mencapai umur 70 tahun? Bila ya, tentu harus menjaga diri sebaik-baiknya sehingga tubuh bisa bertahan hingga umur segitu.

Bila tak sabar, cukup dengan berinteraksi atau bertanya dengan anggota keluarga atau tetangga yang umurnya lebih dari 70 tahun. Tentu ada yang bahagia dan masih sehat. Ada pula yang sudah tinggal menunggu waktu kontrak hidup selesai dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan.

Kehidupan setelah 70 tahun itu ‘sesuatu banget’. Tak semua orang bisa menikmatinya. Hanya berharap. Karena tak semua orang tak benar-benar berusaha untuk tetap bijak dan tetap sehat.

Catatan. Saya terinspirasi untuk menulis ini setelah pagi tadi bertemu dengan tiga nenek-nenek di keluarga saya yang umurnya lebih dari 70 tahun. Satu nenek berumur 90 tahun sedangkan yang dua lainnya berumur 80 tahun. Saya kagum bahwa mereka bisa melalui banyak hal dan masih bertahan hidup dengan relatif sehat hingga saat ini.