Katrol Nilai dan Subsidi BBM

Ah, ramai benar perdebatan tentang bahan bakar minyak yang baru saja dikurangi nilai subsidinya. Ya, itu istilah yang tepat. Yaitu pengurangan subsidi BBM. Bukan menaikkan harga BBM.

Masih bingung? Baiklah. Harga BBM yang dibeli, baik impor atau produksi sendiri, oleh pemerintah melalui Pertamina tetap relatif sama. Oleh karena jumlahan subsidinya dikurangi maka masyarakat harus membeli BBM dengan harga yang disesuaikan tersebut.

Sayangnya banyak ormas dan mahasiswa ‘yang kurang pintar’ yang berdemo dengan embel-embel ‘tolak kenaikan harga BBM’. Oleh karena itu, masyarakat awam yang kurang bijaksana otomatis berpikir bahwa harga BBM naik. Tanpa mengerti bahwa ada subsidi dan pengalihan alokasi dana pemerintah ke sektor lainnya yang lebih produktif.

Tapi bukannya harga BBM naik dua ribu perak?

Ya. Benar adanya. Seharusnya harga BBM jauh lebih mahal dari harga BBM yang baru. Hanya saja pemerintahan Jokowi tak mau benar-benar menghilangkan subsidi BBM karena bisa menyebabkan inflasi. Tak baik bagi perkembangan ekonomi.

Dampak positif dari pengurangan subsidi tersebut, secara teori karena belum terbukti, adalah bertambahnya dana pemerintah yang selama ini tersedot untuk BBM semata ke sektor lain yang jauh lebih membutuhkan.

Bahkan bila merunut beberapa tahun belakangan, konsumsi BBM meningkat drastis karena kurangnya kesadaran masyarakan untuk menghemat BBM. Makin banyak orang yang memutuskan untuk membeli sepeda motor atau mobil secara kredit—baca: berhutang—untuk keperluan pribadi. Padahal masih bisa menggunakan transportasi umum.

Maklum karena BBM tempo hari harganya relatif murah. Seperti laiknya pulsa telepon selular. Murah meriah makanya tak perlu berhemat. Bisa telepon sana-sini selama mungkin.

Coba bila pulsa telepon selular mahal maka masyarakat luas akan secara otomatis menggunakan telepon selular dengan lebih efisien. Berhemat.

Lagipula, subsidi BBM itu seperti katrol nilai di sekolah dasar. Makin tinggi katrol nilainya maka makin malas pula siswa belajar. Toh, untuk apa belajar bila nantinya nilainya ‘diangkat’ oleh gurunya. Guru dan sekolah senang karena makin sedikit yang tinggal kelas sehingga akreditasi sekolah meningkat. Murid senang karena tak perlu kerja keras menghasilkan nilai bagus.

Dengan subsidi yang kelewat banyak, pemakaian BBM menjadi tak efisien. Terjangkau oleh banyak orang. Tak perlu berhemat. Padahal dengan BBM yang disubsidi tersebut, pemerintah selama bertahun-tahun selalu sibuk mencari pinjaman internasional untuk menalangi selisih harga BBM di SPBU dengan harga BBM dari produsen minyak.

Ironisnya pula pemerintah menjadi tak sempat atau tak menyempatkan diri untuk menaikkan pendapatan negara untuk membayar hutang-hutang yang menumpuk karena, salah satunya, membayari sekian banyak subsidi BBM. Demi kesejahteraan rakyat? Atau supaya rakyat tak menjadi vokal karena dininabobokan dengan harga BBM yang lebih murah.

Bagaimana dengan saya sendiri?

Tentu ada dampak yang bisa dirasakan yaitu menambah pengeluaran untuk membeli bensin. Di sisi lain, saya tak lagi seboros dulu menggunakan kendaraan pribadi saya. Mencoba lebih berhemat.

Namun saya tetap setuju saat subsidi BBM dikurangi. Bila memang pemerintahan yang baru bisa mengalokasikan dana tersebut untuk kepentingan yang lebih krusial seperti membangun puluhan waduk, belasan pelabuhan dan meningkatkan kualitas infrastruktur wilayah tertinggal; tentunya kehidupan di negara ini menjadi meningkat kualitasnya. Kesejahteraan bagi banyak orang.

Oleh karena itu saya cukup prihatin dengan demo-demo menolak kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa yang gagal paham dengan kebijakan pemerintahan baru yang jelas-jelas lebih transparan dan bijak dibanding era pemerintahan yang lalu.

Meskipun saya belum menjadi orang kaya, naiknya harga BBM karena dikurangi subsidinya, masih bisa dipahami dan dimaklumi demi masa depan bersama yang lebih baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s