Wikipedia Sebagai Bacaan Sehari-hari

Ensiklopedi yang dibuat dan dikembangkan oleh sekian banyak kontributor–baik ahli maupun amatir—dari berbagai belahan dunia tersebut memang menambah wawasan. Ada sekian banyak pengetahuan dan informasi yang bisa didapatkan dari ratusan ribu laman Wikipedia.

Tak perlu khawatir dengan bahasa asing. Wikipedia sudah dialihbahasakan ke dalam beragam bahasa di dunia. Bila lebih nyaman membaca laman Wikipedia dengan Bahasa Indonesia maka uliklah Wikipedia Indonesia. Tak ada salahnya juga membaca laman Wikipedia dalam bahasa asing karena bisa dipakai untuk melatik kemampuan membaca sumber wawasan dari bahasa asing. Semisal Wikipedia dalam Bahasa Inggris.

Tak perlu memaksa diri untuk membaca berlembar-lembar laman Wikipedia. Cukup sempatkan satu laman atau topik setiap hari. Yang biasanya membutuhkan antara 5 menit hingga 30 menit saja. Dalam waktu sebulan atau setahun akan ada sekian banyak wawasan yang tercerna oleh otak.

Bila merasa mampu dan mau membagi pengetahuan, siapa saja boleh memberikan kontribusi kepada perkembangan Wikipedia. Dengan menambahkan entri topik atau laman baru. Bisa juga dengan membantu proses alih bahasanya.

Wikipedia tersedia secara gratis karena bantuan dari komunitas, kontributor dan donatur. Gunakan saja untuk menambah wawasan setiap harinya. Iseng-iseng atau serius membaca Wikipedia banyak gunanya. Lebih berguna ketimbang membaca berita tak penting tentang kehidupan selebritas atau berita tentang peperangan dan kriminalitas.

Peringatan: Rokok Membunuhmu

Sudah jelas tertulis dengan gamblang di semua bungkus rokok di tanah air. Anehnya tetap saja banyak yang merokok. Padahal itu barang berbahaya. Tulisannya besar-besar dengan gambar yang menjijikkan. Semua orang menjadi tahu bahwasannya apa yang ada di dalam bungkusan tersebut berbahaya.

Rokok membunuhmu.

Pesan itu tak mungkin disalahartikan. Sengaja dibuat untuk menakuti-nakuti orang agar tak membelinya. Toh, tak juga efektif. Justru banyak yang mentertawakan. Membuatnya sebagai guyonan. Rasanya jumlah pembeli rokok tak berkurang; meski pendapatan makin berkurang gara-gara harga BBM dan makanan naik. Justru membeli rokok menjadi prioritas banyak orang ketimbang ketersediaan sembako dan dapur mengepul.

Sungguh kontradiktif. Peringatan di bungkus rokok diabaikan saja. Memudar dengan cepat seperti asap rokok penuh racun yang merusak tubuh yang baru saja dikeluarkan dari mulut. Hebat, bukan? Mari kita baca sekali lagi peringatan yang tegas tersebut.

Rokok membunuhmu.

Masih mau tetap merokok? Resikonya tanggun sendiri. Merokok itu seperti membunuh diri sendiri. Silakan… Tapi jangan bagi-bagi asap rokoknya. Nikmati sendiri saja.

Termakan Iklan

Iklan mampu menjangkau lebih banyak orang karena iklan muncul melalui banyak media. Tak hanya sebatas iklan di televisi dan di radio. Ada iklan yang tercetak di koran dan majalah. Iklan pun jelas tampil di berbagai situs; banyak iklan yang harus ditutup sekedar bisa melihat konten yang disajikan. Saat di jalanan, berbagai spanduk dan baliho pun penuh dengan iklan yang menonjol dan bisa dilihat dari jarak yang jauh.

Sulit untuk melepaskan diri dari iklan. Bahkan beberapa iklan—yang unik, khas dan ‘pintar’—ramai menjadi perbincangan dan candaan. Otomatis pesan iklannya pun tersampaikan. Yaitu produk atau layanan yang ditawarkan ke masyarakat luas.

Dan suatu iklan boleh dikatakan berhasil bisa ada orang yang membeli produk atau layanan yang dimaksud. Ada produk berupa rokok, makanan, minuman, obat hingga kondom. Layanan pun juga laris manis seperti layanan telekomunikasi berupa berbagai kartu ponsel, hotel dan travel.

Jika suatu saat saya, Anda atau orang lain membeli produk atau menggunakan layanan—baik secara sadar atau tidak—berarti sudah termakan iklan. Entah hanya ingin mencoba barang baru, betul-betul percaya dengan iklannya atau malahan tak terpikir merek lain karena begitu suatu merek memborbardir iklan secara masif.

Iklan sekarang memang hebat. Bisa menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat; yang terlepas dari latar belakang pendidikan dan pemikiran tapi malah terkesan lebih mudah termakan iklan.

Perkembangan Alat Tulis

Sekarang ini alat tulis sudah canggih. Buku mulai jarang digunakan. Digantikan dengan komputer yang bisa membuat menulis—atau tepatnya mengetik—menjadi efisien, lebih cepat dan lebih produktif.

Beda dengan sekarang, jaman dulu menulis merupakan hal yang tak lumrah. Ribuan tahun yang lalu tak semua orang bisa menulis. Membaca saja tak bisa. Orang yang bisa membaca dan menulis dianggap sebagai orang yang berilmu tinggi. Kebanyakan orang masih berkomunikasi secara lisan. Hanya sedikit orang yang diijinkan untuk belajar mengeja huruf dan menuliskannya di papan batu, kertas papirus atau lempengan kayu yang khusus untuk menulis.

Setelah kertas ditemukan, mulai makin banyak orang yang bisa membaca. Juga mulai menulis meskipun masih relatif terbatas. Kertas dan tinta masih merupakan barang yang mahal. Hanya mereka yang beruntung yang bisa mempelajari komunikasi tertulis melalui kertas.

Akhirnya kertas diproduksi secara masal. Dengan begitu harganya pun jauh lebih murah. Kertas bisa didapatkan dengan lebih mudah di mana-mana. Pun tintanya yang menjadi bolpoin dan pensil. Lebih praktis untuk menulis kapan saja dan di mana saja.

Perkembangan selanjutnya lebih menarik karena adanya penemuan mesin ketik. Dengan mesin ketik, tulisan bisa dibuat secara standar. Ukuran kertas sama, warna tinta hanya ada hitam dan formatnya pun tak terlalu banyak variasi. Tulisan menjadi ketikan. Apapun yang diketik menjadi lebih formal.

Namun memerlukan waktu yang cukup lama dari terciptanya mesin ketik hingga ke mesin ketik otomatis. Mirip seperti printer. Tahap berikutnya mesin ketik mulai digantikan oleh komputer. Komputer di masa awalnya memiliki program pengolah kata yang masih terbatas fungsinya. Hasil tulisan tercetak melalui printer. Itu pun hanya printer dengan tinta berwarna hitam.

Tahun berganti dan komputer makin canggih. Program pengolah kata berubah menjadi aplikasi-aplikasi yang memudahkan penggunanya untuk memproduksi lebih banyak kata, kalimat dan paragraf secara cepat. Tak hanya itu, formatnya pun bisa diubah-ubah dengan mudah. Tulisan bisa dicetak di berbagai media; tak hanya semata printer. Bahkan tulisan bisa disebarkan dengan lebih efisien melalui format dokumen yang bisa dikirimkan ke komputer yang lain atau diunggah di Internet. Tulisan seseorang bisa dibaca oleh lebih banyak orang.

Dan selamat datang di jaman sekarang. Makin banyak orang yang mulai menulis langsung dari layar ponsel pintar. Entah itu aplikasi email, pengolah kata versi mobile atau catatan mini. Proses menulis bisa dilakukan saat komuter, di restoran dan bahkan ketika nongkrong di toilet. Praktis dan efisien.

Dengan adanya alat-alat tulis yang modern sekarang ini, disamping buku dan kertas yang murah, tak ada alasan untuk tak mulai menulis. Menulis bukan hobi atau ditujukan untuk segelintir orang. Menulis adalah suatu kebiasaan. Budaya menulis sudah seyogyanya menjadi gaya hidup sehari-hari.

Resolusi di Tahun 2015

Ya ampun! Tahun belumlah berganti. Masih beberapa hari lagi. Namun sudah banyak media massa yang membincangkan tentang membuat resolusi di tahun berikutnya. Tahun 2015. Resolusi didengung-dengungkan seperti menjadi bagian yang tak pernah lepas dari momen pergantian tahun.

Bila resolusi begitu sering dibahas, berbeda dengan refleksi di akhir tahun. Mungkin suatu kesimpulan dianggap kurang menarik. Hanya kilasan balik apa yang terjadi dalam jangka satu tahun ini. Bisa jadi ini menjadi trend di mana waktu cepat berganti laiknya linimasa di jejaring sosial yang berganti-ganti setiap saat. Dengan begitu apa yang terjadi di masa depan jauh lebih penting dan mengesampingkan masa sekarang dan masa lalu.

Namun menyoal resolusi memang selalu menarik. Omong-omong apakah Anda sendiri sudah membuat semacam resolusi yang akan Anda kerjakan dan wujudkan setelah tahun 2014 ini berakhir ketika kalender lama diganti dengan kalender yang baru?

Semoga tahun 2014 ini memiliki banyak kesan dan peristiwa yang menarik dalam hidup Anda. Dan tahun 2015 menjadi tahun yang jauh lebih meriah dan menggairahkan.

500 Kata Setiap Hari

Bila tak terbiasa, menuliskan 500 kata dalam sehari memang tak mudah. Bila sudah menjadi kebiasaan, 500 kata menjadi mudah. Semudah bernafas. Tak beda jauh dengan berbincang-bincang. Kata-kata mengalir dengan lancar. Tak perlu disunting. Biarkan saja mengalir. Bebas. Tanpa hambatan. 

Di waktu yang lain, 500 kata itu bisa disunting supaya lebih baik lagi. Tanpa kesalahan ketik. Tak ada kalimat yang sumbang. Paragraf pun menjadi terkait dan relevan dengan keseluruhan konteksnya. 

Mengetik 500 kata setiap hari. Tak perlu banyak berpikir. Mulai mengetik. Berhenti ketika sudah mencapai angka 500 kata yang terlihat di penghitung kata di aplikasi pengolah kata yang dipakai. 

500 kata saja… Tak kurang. Tak lebih.