Silpa

Apa sih Silpa? Tak lain adalah singkatan dari “sisa lebih penggunaan anggaran”. Istilah ini lazim dipakai dalam konteks anggaran pemerintah.

Umumnya pemerintah pusat atau daerah merancang anggaran untuk satu tahun. Setelah berakhir maka kondisi keuangan tersebut dikalkulasi. Sisa atau benar-benar sudah dipakai semuanya.

Bila tak sisa, kesan yang ada adalah anggaran tersebut sudah digunakan dengan maksimal. Sebaliknya bila sisa, mungkin berarti bahwa ada anggaran yang tak terserap.

Mengapa tak terserap? Sebabnya bisa bermacam-macam. Entah proyek yang tak jadi berjalan sehingga dananya menganggur. Perencanaan anggaran yang terlalu menggelembungkan sehingga sisanya banyak. Entahlah. Banyak hal bisa terjadi selama satu tahun yang sebabkan anggaran masih tersisa.

Oleh karena itu ada kebiasaan yang kurang bagi oleh banyak oknum aparat pemerintahan untuk membuat anggaran tak lagi sisa. Dengan begitu tak ada silpa. Bagaimana caranya?

Cukup sederhana. Sebelum tutup buku berakhir, banyak oknum aparat pemerintahan yang menggelar berbagai acara, rapat atau bahkan perjalanan dinas ke luar negeri; entah untuk studi banding atau sekedar jalan-jalan.

Dengan begitu tak ada lagi silpa. Bila ada pun jumlahnya tak begitu signifikan. Maklum ada aji mumpung di sini. Lebih baik dipakai ketimbang mubazir. Toh dananya ada. Mengapa tak dipakai? Sayang, kan?

Tentu itu pikiran para oknum aparat pemerintah. Tak semua, meski tak banyak jumlahnya, aparat pemerintah yang benar-benar efisien dan jujur dalam mengelola anggaran demi kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya.

Bagi aparat pemerintah yang bersih dan berkomitmen pada kemajuan masyarakat di wilayahnya, silpa bisa digunakan sebagai tambahan dana untuk tahun anggaran pemerintah berikutnya. Bisa juga dikembalikan ke pemerintah pusat.

Dengan begitu, dana pemerintah tak terhambur-hamburkan dengan percuma. Sebagai catatan, anggaran pemerintah didanai oleh pajak rakyat. Entah pas atau sisa, dana operasional pemerintah merupakan uang rakyat.

Seperti yang dilangsir oleh Kompas, Gubernur DKI Jakarta Ahok tak peduli dengan adanya silpa. Beliau pun berujar bahwa banyak satuan kerja perangkat daerah yang menyewa hotel mewah supaya tak ada sisa lebih penggunaan anggaran. Langkah ini jelas patut ditiru karena akan menghemat anggaran pemerintah.

Sakit bukan bila uang dari pajak rakyat dipakai asal-asalan sekedar saldo anggaran pemerintah tak bersisa. Sakitnya tuh di hati dan di dompet.

Setuju?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s