Pengeboman Kapal Nelayan Asing

Terkesan bombastis memang. Namun efek jeranya efektif.

Banyak kapal nelayan asing akan berpikir terlebih dahulu untuk memasuki perairan Indonesia tanpa ijin resmi. Kapal merupakan aset para nelayan. Bila sampai tertangkap dan kapal ditenggelamkan dengan bom, tentu kerugian yang luar biasa. Rugi buat para nelayan asing tapi jelas akan menurunkan kerugian yang diderita oleh Indonesia karena banyak nelayan asing ilegal yang mengambil ikan tanpa ijin.

Beberapa pertanyaan mengemuka terkait penenggelaman kapal nelayan asing dengan bom.

Mengapa diledakkan memakai bom? Toh bisa dengan cara lain.

Penenggelaman memakai bom lebih cepat prosesnya. Memang harga bom tidak murah tetapi cara lain makan waktu dan bisa jadi lebih berbahaya. Misalnya membuka katup pada kapal secara manual, menabrakkan kapal pada karang atau mengurai badan kapal. Toh, cara ini bisa meningkatkan kemampuan Angkatan Laut Indonesia karena mereka punya jam terbang latihan menenggelamkan kapal; yang penting sebagai bagian dari bagian pengamanan laut. Sekali dayung, dua pulau terlampaui.

Bagaimana kalau kapalnya dirampas lalu diberikan ke nelayan Indonesia?

Pemikiran seperti itu masuk akal. Namun ada hal yang kurang pas secara hukum maritim. Terkesan main tangkap karena ingin merampas kapal nelayan asing; meskipun nelayan asing itu masuk secara ilegal. Bisa saja saat kapal tersebut sudah berpindah tangan ke nelayan Indonesia namun masih tetap diklaim oleh nelayan asing. Repot buntutnya. Merampas kapal akan memperpanjang masalah. Lagipula nanti ada yang iri bila kapal itu haya diserahkan ke nelayan tertentu saja; yang lain pasti juga ingin kapal gratisan. Bukan begitu?

Kalau kapal nelayan asing dikembalikan saja setelah membayar denda sekian puluh atau ratus juta rupiah?

Repot. Terkesan seperti ransom. Saya balikin kapal ente tapi bayar dulu ya. Prosesnya lama. Bisa jadi pihak asing tak mau bayar dan kapalnya hanya terkatung-katung di pelabuhan sehingga mengganggu aktivitas nelayan-nelayan lainnya. Bagaimana pula kalau kapal tersebut sudah dibayarkan dendanya lalu suatu hari memasuki perairan Indonesia lagi untuk mengambil ikan secara ilegal? Masalah berlarut-larut.

Sebaiknya kapal nelayan asing tersebut diganti namanya lalu dijual ke siapa saja yang menginginkannya. Bagaimana?

Kapal, baik berukuran besar atau kecil, memiliki catatan kapal yang mendetil. Banyak kapal yang berganti nama karena pindah kepemilikan. Tak hanya kapal kecil, kapal tanker dan kapal pesiar pun bisa ganti nama. Tapi dokumen kapal tersebut tetap saja mencatat pergantian nama dan kepemilikan. Itu merupakan keharusan dalam dunia maritim yang disepakati oleh hampir semua negara di dunia melalui konvensi internasional yang berlaku secara global. Jadi meski ganti nama, tetap saja kapal tersebut menyisakan masalah pada suatu hari nanti. Bagaimana bila kapal tersebut suatu hari dipakai untuk melaut ke negara asalnya? Bisa jadi akan diklaim balik meskipun masuk perairan negara asal kapal tesebut secara legal. Repot, bukan?

Jadi baiknya bagaimana?

Ya, dibom saja. Cepat dan tepat. Bila kapal nelayan asing yang masuk tidak legal tersebut sudah tenggelam maka masalahnya sudah selesai. Efeknya pun sejelas pesannya. Yaitu jangan coba-coba lagi untuk memasuki wilayah perairan Indonesia dan mengambil hasil laut bila tanpa ijin yang sudah disetujui. Keputusan dan tindakan yang diambil oleh Presiden Jokowi dan Menteri Susi dibantu Angkatan Laut sudah tepat.

Coba bila dari dulu sudah dilakukan penangkapan dan penenggelaman kapal nelayan asing, tak ada lagi nelayan asing yang berani mencuri hasil laut Indonesia yang nilainya sangat besar. Milyaran rupiah tiap harinya hilang dicuri tanpa tindakan jelas di masa lalu. Bayangkan itu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s