Anak Buah Kapal

Sailor adalah bahasa kerennya. ABK singkatannya dalam Bahasa Indonesia. Bisa disebut juga sebagai kelasi. Bisa juga cukup disebut anak kapal atau pelaut.

Para ABK ini bekerja keras dibawah komando Sang Kapten untuk membawa kapal hingga sampai ke tujuan. Benar-benar kerja keras. Tak banyak yang sanggup bertahan menjalankan profesi ini. Tentu ada pula yang ditahan-tahankan karena hanya bisa bekerja sebagai ABK. Maklum karena penghasilan kala melaut bisa lebih besar ketimbang di darat. Namun penghasilan besar itu sepadan dengan resikonya yang sangat besar.

Tak jarang didapati berita mengenai ABK yang tewas tenggelam bersama kapal yang karam. Pergi dengan semangat mengubah nasib tetapi pulang hanya tinggal nama. Tak peduli apakah seorang ABK bisa berenang atau tidak, saat bencana datang toh siapa yang sanggup bertahan di tengah ganasnya gelombang dan cuaca di tengah samudera yang tak ramah.

Berita naas pun terjadi baru-baru ini ketika Kapal Oryong berbendera Korea Selatan tenggelam di Laut Bering yang menjadi wilayah perairan Rusia. Beberapa ABK yang kurang beruntung merupakan ABK yang berkewarganegaraan Indonesia. Beberapa di antaranya berasal dari daerah Brebes. Pemerintah Indonesia dengan instansi dari Korea dan Rusia berusaha menemukan ABK-ABK yang malang tersebut. Semoga mereka, baik yang selamat atau yang kurang beruntung, bisa segera dipulangkan ke kampung halaman.

Berita lainnya yang kurang mengenakkan pun muncul. Tentang ABK Indonesia yang dipekerjakan seperti laiknya budak di beberapa kapal asing. Mereka direkrut tanpa kontrak yang jelas dan nasibnya terkatung-katung di negeri orang. Belum lagi kisah tentang mereka yang dipukuli atau diperlakukan kurang manusiawi.

Sayang sekali bukan ketika mereka diperlakukan kurang baik di kapal-kapal berbendera asing. Tapi mereka punya alasan mengapa mereka lebih memilih melaut bersama kapal-kapal asing. Yaitu adanya pengharapan akan upah yang lebih besar. Berbeda dengan upah menjadi awak kapal di kapal domestik di tanah air yang umumnya sangat rendah sehingga sulit untuk dijadikan sumber pencaharian.

Bila ternyata Presiden Jokowi dan Menteri Susi bisa membenahi infrastruktur dan industri kelautan di tanah air, bukan tak mungkin bila para pelaut lebih memilih melaut di perairan sendiri. Toh banyak dari kita pernah setidaknya beberapa kali menyanyikan lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut saat duduk di sekolah dasar. Penguasa laut di tanah air ya harus para pelaut bangsa kita sendiri.

Menjadi ABK memang berat. Namun banyak juga kisahnya yang berbuah manis. Ada sekian banyak ABK dari Indonesia yang bekerja keras di kapal-kapal asing selama beberapa tahun. Kemudian setelah tabungannya dirasa cukup, berhenti melaut dan membangun usaha sendiri. Membuka restoran, membeli rumah kos-kosan atau malah memiliki usaha properti. Mereka adalah ABK yang memiliki pemikiran yang matang. Sadar bahwa tak selamanya raga mereka yang kekar akan terus tegar menghadapi kerasnya kehidupan sebagai anak kapal. Harus ada rancangan apa yang akan dilakukan setelah puas menatap horizon laut yang katanya menghipnotis.

Bagaimana dengan Anda? Apakah tertarik untuk menjajal pengalaman menjadi pelaut? Bila ya, selamat mengarungi samudera nan luas. Tapi jangan lupa untuk mempersiapkan diri untuk berhenti melaut suatu hari nanti dan kembali ke daratan. Kecuali bila Anda benar-benar terpesona dan jatuh cinta dengan laut…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s