Perlukah Kereta Peluru di Indonesia?

Penting bagi semua negara di dunia ini untuk menggunakan teknologi yang paling mutakhir. Teknologi berkembang sangat cepat. Bila terlambat menggunakannya tentu berdampak pada kemajuan suatu negara. Hanya saja tak semua teknologi modern tak selalu tepat bagi semua negara. Penggunaan teknologi harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan suatu negara.

Sebagai contoh adalah teknologi transportasi berupa kereta peluru. Salah satu negara yang mengembangkan dan menerapkan teknologi tersebut adalah Jepang dengan kereta Shinkansen yang sangat terkenal. Tiongkok, Korea Selatan dan Taiwan juga menggunakan teknologi peluru cepat di negara mereka.

Negara-negara tersebut mampu membangun kereta peluru, jalur kereta yang khusus dan stasiun yang memadai. Namun tak hanya mampu secara teknologi. Negara-negara tersebut mampu mendanai pembangunan keseluruhan sistem kereta api modern yang dibutuhkan oleh kereta peluru. Dananya yang sangat besar baru bisa kembali setelah belasan atau puluhan tahun.

Oleh karena itu wajar bila kereta peluru selama ini hanya dimiliki oleh negara-negara maju dengan skala ekonomi yang besar dan relatif kuat. Ongkos tiket kereta peluru pun tak murah. Bila penumpangnya tak mampu membelinya jelas modal pembangunan kereta cepat akan terhambat.

Bahkan banyak orang Jepang yang hingga sekarang yang tidak pernah naik Shinkansen karena ongkosnya terlalu mahal. Banyak yang memilih terbang dengan penerbangan murah ketimbang naik Shinkansen. Alasannya karena ongkos tiket pesawat, untuk jarak sedang atau jauh, masih lebih murah ketimbang naik kereta peluru.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Perlukah adanya kereta peluru di tanah air?

Mari lihat negara-negara tetangga yang masih disebut sebagai negara berkembang. Malaysia, Thailand dan Vietnam masih belum berencana untuk membangun kereta peluru. Padahal bila ditilik dari kemampuan membangun jalur kereta api, Malaysia dan Thailand mampu membuat sistem kereta yang komprehensif antar kota dan dalam kota.

Alasannya sederhana. Ketiga negara tersebut belum mampu membiayai pembangunan sistem kereta peluru. Dananya masih terlalu besar bagi pemerintahan masing-masing negara tersebut.

Berkaca dari lemahnya perekonomian Indonesia selama ini, kurang masuk akal untuk menggunakan porsi besar dari APBN untuk pembangunan jalur kereta peluru. Lebih masuk akal dan mendesak bila dana tersebut dialokasikan untuk membangun jalur-jalur kereta di Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi yang hingga sekarang masih belum memiliki sistem kereta api. Bahkan Pulau Sumatera pun masih kekurangan jalur kereta api.

Ingat bahwa Pulau Jawa sekalipun belum lama memiliki jalur ganda. Beberapa tahun yang lalu, kereta api dari Jakarta hingga Surabaya masih dilayani oleh jalur tunggal. Jalur yang sama dipakai oleh banyak kereta dengan arah yang berlawanan. Lama perjalanan terjadi karena kereta-kereta perlu saling menunggu untuk memakai jalur yang sama.

Di samping itu Jakarta sebagai ibu kota negara belum bisa membangun jaringan kereta bawah tanah sebagai moda transportasi masal. Bagaimana pula bisa membangun sistem kereta peluru yang lebih kompleks teknologinya, lebih panjang durasi pembangunannya dan mensyaratkan dana pembangunan yang jauh lebih besar?

Mari lihat lagi negara tetangga. Malaysia, Thailand dan Filipina sudah memiliki jaringan kereta dalam kota yang jauh lebih baik dari sekedar Kereta Rel Listrik (KRL). Mereka memiliki Mass Rapid Transit (MRT) dan subway sejak dekade yang lalu. Jakarta baru saja mulai membangun dan akan selesai beberapa tahun dari sekarang.

Yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah sistem kereta api yang bisa berjalan dengan baik, melayani banyak kota dan relatif terjangkau ongkosnya. Sistem kereta api jelas akan membantu distribusi barang dan orang dari satu kota ke kota lainnya. Tak perlu secepat peluru. Asalkan kereta bisa sampai tepat waktu dan bisa mengangkat banyak barang dan orang itupun sudah lebih dari cukup.

Harus diingat bahwa di Pulau Jawa, beberapa layanan kereta api masih disubsidi ongkos tiketnya. Bila tidak, banyak jalur kereta api yang bisa kekurangan penumpang karena tak ada cukup penumpang yang mampu membayar ongkos tiketnya. Bila tak ada cukup penumpang, bisa jadi jalur tersebut bisa ditutup karena merugi. Pengembalian modal pembangunannya bisa molor.

Bagaimana dengan ongkos kereta api di luar Pulau Jawa? Dengan standar ekonomi yang berada di bawah ukuran Pulau Jawa, suatu keharusan bagi jalur kereta api baru untuk menerapkan ongkos tiket yang terjangkau. Salah satu caranya adalah menggunakan subsidi pemerintah. Setelah skala ekonomi daerah tersebut meningkat, barulah subsidi bisa dikurangi atau dihilangkan.

Semua argumen dan fakta di atas membuktikan bahwa Indonesia lebih memerlukan pembangunan jalur kereta yang tersebar di beberapa pulau sekaligus ketimbang membangun jalur kereta peluru untuk jalur Jakarta – Bandung. Seperti usulan yang terjadi pada pemerintahan yang lalu.

Memang memiliki sistem kereta peluru akan membanggakan. Namun kurang bermanfaat karena hanya dirasakan oleh sedikit orang saja. Sistem kereta api yang komprehensif, meski hanya kereta biasa, lebih berguna bagi kemajuan banyak wilayah di tanah air.

Menteri Jonan, yang dulunya orang nomor satu di PT. Kereta Api, pun mengamini bahwa prioritas pembangunan sekarang adalah membangun jalur kereta api di luar Pulau Jawa. Beliau mengambil keputusan yang tepat untuk tak menindaklanjuti rencana pembangunan kereta peluru yang hanya melayani Jakarta – Bandung.

Jadi mari bermimpi bahwa kita akan segera bisa naik kereta api di Pulau Kalimantan atau Pulau Sulawesi; ketimbang bermimpi untuk naik ‘Shinkansen’ di Pulau Jawa. Lebih bermanfaat dan lebih masuk akal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s