Sering Menulis, Tulisan Menjadi Makin Panjang

Dulu saya memberi batasan panjang pada setiap tulisan di blog ini. Setiap tulisan memiliki maksimal lima paragraf saja. Tak lebih dan biasanya kurang dari itu. Alasannya sederhana karena dengan menulis relatif pendek membuat kalimat menjadi lebih efektif. Proses menulis menjadi lebih cepat. Lagipula para pembaca di Internet umumnya tak bisa membaca tulisan yang terlalu panjang karena terbiasa ‘mengudap’ tulisan serba pendek di dunia maya.

Namun setelah kerap menulis, lima paragraf tak lagi cukup. Ide tulisan lebih mudah muncul. Dengan begitu lima paragraf menjadi terkesan membatasi. Oleh karena itu saya jarang membatasi banyaknya paragraf. Bila memang idenya banyak dan topiknya–paling tidak menurut saya menarik–menarik maka mengalirlah kalimat demi kalimat. Yang berujung pada bertambahnya jumlah paragraf. Semuanya mengalir saja. Bila memang panjang biar saja panjang.

Setali tiga uang dengan para atlit. Makin banyak berlatih maka makin meningkat staminanya. Jangan heran saat melihat pelari Marathon yang sanggup berlari dengan jarak yang sangat jauh dan perlu waktu lama tersebut. Tak perlu bengong pula dengan pemain Tenis yang bergerak ke sana kemarin mengejar bola, menangkis bola dan membuat pukulan-pukulan menyerang yang tajam selam berjam-jam.

Tentu di awal mereka mulai berlatih, daya tahan mereka cukup rendah. Mudah lelah. Namun seraya waktu dan kemampuan yang bertambah, atlit-atlit itu makin membaik staminanya. Makin jago pula mainnya.

Menulis pun seperti itu. Bila dulu merangkai satu paragraf perlu banyak waktu, kini merangkai banyak paragraf menjadi lebih mudah. Terlepas dari kualitas tulisannya. Oleh karena itu wajar bila seorang penulis bulu atau novel dulunya berangkat dari menulis cerita pendek atau kolom-kolom ringkas di surat kabar.

Meskipun sekarang saya suka menulis panjang bukan berarti semua tulisannya panjang-panjang. Kadang-kadang ada tulisan yang pendek. Bila memang pendek tak perlu dipanjang-panjangkan. Toh saya cenderung lebih suka membaca tulisan pendek ketimbang tulisan panjang. Bahkan di dunia Internet sekarang ini ada istilah TL;DR. Singkatan dari “Too Long; Didn’t Read”. Tulisan-tulisan yang dihindari dibaca karena artikelnya terlalu panjang untuk dibaca melalui browser Internet; baik dari layar laptop atau pun layar ponsel pintar.

6 Comments

  1. Saya termasuk penyuka tulisan pendek dan to the point :) sehingga ‘kurang sabar’ kalau membaca novel yang panjang. Btw, baru tahu dengan istilah TL;DR. Saya kira kode pemrograman pas baca tulisan di Google developer.

    Suka

    • Terima kasih, Bung Hakim sudah sempat mampir dan berkomentar. Untuk saya sendiri, novel terakhir yang tuntas saya baca adalah Serial Harry Potter. Setelah itu belum ada novel panjang yang saya sentuh.

      Tentang TL;DR itu, saya juga baru ngeh artinya setelah cek artinya di Urban Dictionary.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s