Swawembada Garam, Bukan Impor Garam

Ah, kan cuma garam. Mengapa harus ribut? Garam bukan hal yang terlalu penting. Tidak signifikan. Bukannya cuma untuk kebutuhan dapur? Intinya garam tidak penting.

Nyatanya salah besar. Garam memiliki peran yang penting bagi masyarakat dan negara. Buktinya?

Bayangkan saja apakah mungkin kita memasak tanpa garam semisal selama setahun penuh? Makanan akan terasa hambar dan dingin. Mungkinkah? Itu hanya dari segi domestik.

Bayangkan pula apa yang terjadi bila tak ada garam yang sangat penting untuk proses pengolahan pangan, proses kimiawi untuk farmasi dan proses industri non-pangan? Seluruh proses tersebut akan terganggu. Hanya karena tak ada garam.

Oleh karena itu garam menjadi komponen penting yang harus bisa diproduksi dan didistribusikan dengan baik ke seluruh penduduk. Bahkan karena garam menjadi kebutuhan vital, Negara Tiongkok sejak jaman kerajaan hingga era republik hanya memperbolehkan satu lembaga negara untuk mengurus keseluruhan produksi dan distribusi garam di seluruh penjuru Tiongkok. Upaya itu dilakukan untuk mencegah kekurangan garam yang bisa menyebabkan masalah; semisal penyakit gondok karena kekurangan zat Yodium dalam garam.

Berbeda 180 derajat dengan kondisi di tanah air. Entah disengaja atau tidak, impor garam dilakukan sebesar-besarnya. Tentu ada beberapa pihak yang diuntungkan dari transaksi impor tersebut. Namun ada sekian banyak yang sangat dirugikan dari impor garam tersebut. Yaitu para petani garam. Impor garam membuat jumlah garam yang beredar lebih banyak daripada yang dibutuhkan sehingga harga jual garam pun turun. Bila petani merugi terus-menerus, petani tak sanggup lagi bertahan dan bayak yang terjerat lintah-darat.

Bila makin lama jumlah petani garam makin berkurang, bisa jadi importir garam menyetir harga garam di pasaran sesuai kehendak mereka. Maklum karena garam merupakan kebutuhan yang vital. Murah atau mahal, garam mutlak ada dalam banyak aspek kehidupan.

Ketergantungan penyediaan garam dari kran impor jelas merugikan negara karena devisa negara harus dibelanjakan untuk membeli garam. Padahal devisa negara sudah banyak digunakan untuk membayar sekian banyak impor. Entah itu impor BBM, impor beras, impor sapi dan sekian banyak impor lainnya.

Ketergantungan impor garam ini harus dihentikan. Solusinya adalah swasembada garam dengan cara meningkatkan produksi garam dalam negeri dan perbaikan distribusi garam. Di waktu yang sama, kran impor garam harus dikurangi secara bertahap.

Ironis bukan bila negara yang garis pantainya membentang ribuan kilometer tak bisa mencukupi produksi garamnya sendiri. Masak harus beli garam dari luar negeri. Aneh, bukan? Sayangnya sudah bertahun-tahun impor garam ini terjadi dan pemerintahan yang lalu hanya diam. Tak ada upaya. Tak ada tindakan.

Untungnya kabinet yang baru di bawah pemerintahan Presiden Jokowi melalui Menteri Susi tanggap dengan permasalahan garam ini. Kemudian cepat bertindak. Semoga saja, ke depannya, negara yang katanya tanahnya subur luar biasa ini bisa mencukupi kebutuhan garamnya sendiri. Syukur-syukur malah bisa ekspor garam ke luar negeri dan hasilkan devisa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s