Tak Lagi Buka

Tutup

Foto gratis dari http://gratisography.com/

Namanya usaha tak jarang tutup. Sudah berusaha sekuat mungkin lagi tapi tetap saja harus memutuskan untuk tak lagi buka. Lapak yang setiap hari digelar. Harus dilipat dan disimpan selama-lamanya.

Entah itu toko atau restoran, saya selalu tersentuh tiap kali ada usaha yang tutup. Bangkrut. Tak tahu benar apakah itu karena pengunjung yang tak bertambah secara signifikan atau memang karena Dewi Fortuna menjauh. Terutama bila toko atau restoran itu memang saya sukai atau saya langgani.

Namun usaha buka dan tutup itu sudah menjadi siklus yang biasa. Terjadi dalam kehidupan ini. Sudah beberapa dekade saya jalani hidup ini. Sudah ada terlalu banyak usaha yang tutup. Bahkan ada sekian banyak juga yang dalam kondisi yang dilematis. Buka sudah tak menguntungkan, tutup pun sayang. Umumnya hanya tinggal urusan waktu.

Ada dua peristiwa yang membuat saya sedih terkait dengan usaha yang gulung tikar.

Pertama adalah tutupnya warung makan Tionghoa di Yogya. Namanya Contessa yang berada di dekat Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Di tempat itu sekarang berdiri Hotel Jambuluwuk.

Masakan di tempat itu spesial karena rasanya sungguh enak. Minimal untuk saya pribadi. Masakan paling saya sukai di tempat itu adalah Kwetiau Goreng. Bahkan warung makan itu merupakan tempat yang mengenalkan saya dengan makanan kesukaan saya tersebut. Jadi memang ada ‘rasa’ yang hilang.

Kedua adalah saat saya mengunjungi Hard Rock Cafe yang melewati hari-hari terakhirnya. Gerai cafe yang sebenarnya lebih tepat disebut restoran dan toko suvenir tersebut terletak di Kota Nagoya.

Saya tahu mengenai akan tutupnya gerai cafe itu dari pelayannya yang sungguh terlihat sendu. Saat membeli suvenir pun, terasa bahwa suvenir khas dari cabang itu sebagai suvenir yang memiliki arti tersendiri. Pasalnya karena tak akan lagi suvenir dari Hard Rock Cafe Nagoya. Rasanya seperti ’suvenir yang terakhir’.

Ah, kedengarannya dramatis. Mungkin saja. Tapi itu memang yang saya rasakan ketika ada usaha yang berakhir kurang bahagia. Tutup. Tak lagi buka. Bila saya sebagai pelanggan atau pembeli merasa cukup sedih, tak tahu lagi saya bagaimana perasaan yang punya usaha. Mungkin sangat sedih. Mungkin pula hancur berkeping-keping.

Toh, saya tak khawatir bila suatu usaha tutup. Bisa jadi pengusahanya memulai usaha lagi di tempat lain dan di lain waktu. Pun begitu di tempat yang tutup itu, muncul usaha yang baru. Yang bisa jadi lebih baik.

1 Comment

  1. Ping balik: Inspirasi dari Foto | munggur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s