Alat Produksi, Bukan Alat Perang

Sejarah dunia sudah membuktikan bahwa alat produksi jauh lebih penting bagi manusia ketimbang alat perang. Alat produksi memberikan kontribusi bagi kesejahteraan orang banyak. Sebaliknya alat perang bisa secara efektif mengurangi populasi manusia secara drastis.

Jerman sebagai negara yang terkenal akan kemampuan industrialnya mampu menghasilkan alat-alat teknis yang berkualitas tinggi. Alat-alat produksinya mampu membuat berbagai macam logam. Tak hanya untuk membuat alat pertanian. Tapi juga peralatan untuk membangun.

Sayangnya ketika perekonomian Jerman menjadi kuat, bangsa ini memiliki ambisi untuk mencaplok negara-negara tetangganya. Kapasitas industrinya berpindah arah. Memproduksi alat perang dalam skala yang luar biasa untuk masa itu. Baik dari segi kualitas dan kuantitas. Semua hal yang tidak berkaitan dengan perang dikesampingkan.

Memang Jerman bisa menguasai banyak negara tetangga. Namun pada titik tertentu akhirnya takluk. Menyerah kalah. Sekian banyak manusia dibantai dengan mesin-mesin perang yang mengerikan. Di sisi lain, jutaan penduduknya kelaparan karena alat untuk bertani berkurang drastis sehingga tidak mampu memproduksi pasokan makan yang cukup.

Setali tiga uang, Kekaisaran Jepang pernah mengalami kemajuan ekonomi yang pesat karena mampu memproduksi alat-alat produksi secara masif. Banyak pemuda Jepang dikirim ke negara-negara Eropa untuk belajar bagaimana membuat berbagai alat produksi. Strategi lainnya juga sederhana namun efektif. Membeli barang dari negara lain, mempelajarinya, menirunya dan memodifikasinya. Jepang pun menjadi negara yang maju dalam waktu singkat.

Namun hal ini membuat Jepang memiliki ambisi besar untuk menguasai dunia. Minimal negara-negara di Asia Utara dan di Asia Tenggara. Untuk kepentingan tersebut alat-alat perang diproduksi dengan cepat. Bahkan rakyatnya dipekerjakan di pabrik senjata supaya bisa menghasilkan mesin perang dengan lebih cepat dan lebih banyak.

Dan kemudian Jepang dengan cepat menyerang negara-negara sekitarnya. Benar bahwa dalam waktu singkat banyak negara yang bisa dikuasai. Namun ada hal yang dilupakan Jepang yaitu banyak rakyatnya yang menderita. Selain banyak tentara Jepang yang mati di medan perang, sekian banyak orang baik tua dan muda mengalami kemiskinan dan kelaparan di tanah air mereka sendiri.

Coba bayangkan bila jutaan rakyat dikerahkan hanya untuk keperluan perang? Pasti ada banyak segi kehidupan yang timpang. Dan sehebat-hebatnya alat perang Jepang, akhirnya tumbang juga karena berhadapan dengan perlawanan dari banyak negara yang dijajahnya. Sebagai puncaknya, mungkin karena menuai karma, Jepang tunduk dan menyerah kalah tatkala alat perang paling merusak yaitu Bom Atom dijatuhkan di Kota Nagasaki dan Kota Hiroshima.

Jerman dan Jepang bisa menjadi negara yang jauh lebih kaya sejahtera bila tetap berfokus untuk memproduksi alat-alat produksi. Bukannya malah bikin mesin perang.

Namun sejarah juga memperlihatkan bahwa ambisi pemimpin negara atau bangsa tidak selalu berpihak pada kesejahteraan rakyatnya. Keinginan untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar justru membunuh jutaan rakyatnya. Di samping membunuh ratusan juta negara-negara yang mereka jajah.

Alat perang memang penting untuk menjaga kedaulatan wilayah suatu negara. Saat alat perang menjadi lebih penting ketimbang alat produksi, sebuah tanda tanya besar. Bagaimana bisa meningkatkan kesejahteraan penduduk bila alat produksi kalah penting ketimbang alat produksi. Berarti akan ada perang. Bukan untuk kesejahteraan rakyatnya. Tapi untuk memenuhi ambisi pribadi para pemimpin yang haus kekuasaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s