Regenerasi Partai Politik di Indonesia

Partai politik di Indonesia memang unik. Ada yang umurnya cukup muda dan ada pula yang sudah belasan tahun. Ada ciri khas yang sama yaitu pendiri parpol biasanya menjadi pemimpin partai atau ketua partai. Tak hanya saat tahun-tahun awal parpol. Namun tetap menjadi pemimpin partai bertahun-tahun kemudian.

Dengan kondisi seperti itu, mau tidak mau, banyak yang berpikiran bahwa pendiri parpol yang menjadi pemimpin partai bertindak sebagai pemilik partai. Apapun keputusan pemimpin partai menjadi mandat dan amanat para anggota parpol. Keputusan pemimpin menjadi perintah yang absolut dan harus dijalani oleh seluruh anggotanya.

Tambahan pula, banyak para pemimpin partai yang kemudian memberikan ruang bagi anggota keluarganya, terutama anak-anaknya, untuk ikut berpolitik. Caranya dengan masuk menjadi anggota parpol. Tentu tidak seperti anggota-anggota lainnya, status keanggotaan mereka cukup istimewa. Bisa cepat naik jabatan dalam partai sehingga ‘pantas’ menjadi pengurus partai. Bila sudah dirasa matang, boleh jadi diarahkan dan difasilitasi untuk menjadi penerus partai di masa depan.

Tak percaya? Lihat saja partai-partai besar—yang tak perlu saya sebutkan satu per satu karena Anda sudah tahu parpol mana yang dimaksud—yang hingga kini masih diketuai oleh pendirinya. Anak-anak dan anggota keluarga mereka pasti sudah ada dalam jajaran pengurus parpol. Hanya selangkah atau dua langkah menjadi pemangku parpol.

Lalu bagaimana dengan anggota-anggota parpol yang lain? Tak masalah. Cukup rekrut anak-anak muda yang tertarik dengan politik. Dengan tawaran mengubah bangsa atau malah dengan iming-iming jabatan, kekuasaan dan harta. Namun tak banyak dari anggota-anggota biasa ini yang bakal bisa melaju menjadi pengurus parpol. Apalagi bermimpi menjadi pemimpin parpol. Loyalitas dan kemampuan yang mereka miliki tak bisa menembus lingkaran kecil yang dimiliki oleh anggota keluarga dan rekanan dekat para pendiri partai. Ada batas tak kelihatan yang tak bisa ditembus.

Bila sudah tak memungkinkan menjadi penerus parpol namun masih memiliki ambisi yang sangat besar, anggota-anggota parpol yang memiliki kemampuan memimpin, memunyai daya tawar tinggi atau kemampuan finansial yang luar biasa malah lebih memilih untuk hengkang dari parpol yang membuatnya besar. Cukup dengan mendirikan parpol baru dan membawa orang-orang kepercayaan dan massa dari parpol lama. Otomatis sebagai pendiri bisa menentukan aturan main parpol dan menjadi pemimpin parpol. Tak sulit, bukan?

Sejarah membuktikan. Sebagian dari para pemimpin yang mendirikan parpol baru—setelah meninggalkan parpol lama mereka—memang memiliki kemampuan yang lebih dari biasa. Parpolnya menjadi besar karena mereka memang mampu. Bukan karena dipilih karena ada embel-embel terkait secara kekeluargaan dengan pendiri parpol. Parpol sempalan baru ini malah bisa menjadi lebih kuat.

Sedangkan di sisi lain, parpol yang lama—yang telah ditinggalkan oleh pengurus partai yang berkemampuan tapi hengkang karena ambisi yang tak terwujud—menjadi memudar. Mundur dan mulai ditinggalkan. Wajar karena yang dipromosikan ke atas tak selalu mereka yang memiliki kemampuan. Elektabilitas dalam pemilu membuktikan bahwa parpol-parpol lama jatuh karena kehilangan orang-orang kuat yang sayangnya tak selalu berasal dari keluarga pemimpin partai. Sedangkan parpol baru tumbuh dari orang-orang yang sudah berpengalaman di parpol besar dan kini memimpin parpolnya sendiri.

Namun menjadi pertanyaan di masa depan. Apakah parpol-parpol baru ini akan melakukan hal yang sama ketika partai mereka tumbuh besar dan berusia belasan tahun? Yaitu membagikan kursi-kursi pengurus partai kepada lingkaran kecil mereka, terutama keluarga. Bila ya, sejarah akan berulang. Parpol baru akan sama nasibnya seperti parpol lama.

Sayang sekali, bukan?

Sebagai catatan, artikel kali ini jangan ditanggapi dengan serius. Ini sekedar tulisan *sok tahu politik*. Boleh kan sekali-kali ingin mengomentari politik di tanah air…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s