Browser Internet Bernama Vivaldi

Sudah ada banyak browser yang ada di pasaran. Gratis untuk diunduh dan dipasang di komputer. Mulai dari Mozilla FireFox, Internet Explorer, Apple Safari, Google Chrome dan Opera. Semuanya bagus-bagus. Memadai untuk kepentingan menjelajahi laman-laman Internet hingga mengakses aplikasi web. Sepertinya sudah tak ada tempat lagi buat browser baru.

Namun ternyata masih ada orang yang berpikir bahwa masih ada ruang untuk browser baru. Salah satu browser terbaru yang muncul adalah Vivaldi. Orang-orang yang membuatnya ternyata sebagian besar tim yang sama yang membuat browser Opera. Rupanya mereka ingin Vivaldi ini bisa seperti browser Opera di awal-awal tahun yang rajin membuat inovasi.

Penasaran, saya pun mengunduhnya. Lalu memasangnya di laptop saya. Lumayan untuk saat ini. Ada banyak hal yang mirip dengan memakai browser Opera. Namun Vivaldi masih dalam pengembangan sehingga belum terlalu stabil dan fiturnya masih terbatas. Tapi tak ada salahnya mencoba. Siapa tahu ternyata Vivaldi bisa memberikan pengalaman menjelajah Internet dengan lebih baik.

https://vivaldi.com/

Judul Akronim Lagu Dangdut

Gara-gara sedikit membahas lagu dangdut yang dinyanyikan Cita Citata berjudul Meriang – Merindukan Kasih Sayang, saya jadi penasaran apakah judul akronim seperti ini sedang populer. 

Ternyata betul. Tak hanya Meriang. Ternyata juga ada Jamur – Janda di Bawah Umur. Salah satu laman internet dari situs Radio Dangdutku ini ternyata mendaftar banyak judul akronim lagu dangdut yang sedang populer saat ini di tanah air.

Belakangan muncul akronim dalam bentuk suku kata, misalnya : E Masbuloh – Emang masalah Buat Loh, Jahe Bawang – Janda Hebat Banyak Uang, Modus – Modal Dusta, Andi Lau –  Antara Dilema dan Galau, Senggol Bacok – Seneng Digeol Bareng Cowok-cowok, Borci – Buronan Cinta, Jamur – Janda Di Bawah Umur, Jesika – Jelas Seksi Tapi Katrok, Duren Sawit – Duda Keren Sarang Duit,Jamu Gendong – Janda Muda Gemar Berondong.

Para pemusik di tanah air rupanya banyak yang kreatif. Judul yang pendek ternyata memiliki singkatan yang kepanjangannya cukup mampu membuat yang mendegarnya tersenyum geli.

Meriang

Rupanya Cita Citata, pelantun lagu dangdut yang naik daun gara-gara lagu Sakitnya Tuh Di Sini, kembali luncurkan lagu baru. Judulnya sesederhana liriknya. Gampang dimengerti oleh banyak orang bahkan hingga anak-anak kecil. Meriang, judul lagu tersebut, ternyata memiliki kepanjangan Merindukan Kasih Sayang. Boleh juga. Lagu lucu-lucuan ini bukan konsumsi orang-orang yang memiliki selera musik yang baik. Tapi pasti akan sering diputar di radio, televisi dan di mana-mana.

Menyoal Panah

Dulu sangsi kalau melihat film-film perang jaman dulu yang memakai panah sebagai senjata jarak jauh. Sepertinya jadul. Lagipula sepertinya tak bisa digunakan dalam serangan jarak dekat. Panah kelihatannya hanya efektif kalau ada ratusan atau ribuan pemanah yang berjejer.

Ternyata panah bisa menjadi senjata mematikan yang efektif; jarak jauh atau jarak dekat. Tentu tergantung teknologi, teknik memanah dan kemampuan pemanahnya. Panah sebagai senjata ‘jaman kuno’ ternyata masih relevan dipakai di jaman sekarang.

Sensor Belahan Dada di Televisi

Ada keheranan tersendiri mengapa televisi-televisi di tanah air mengaplikasikan sensor pada adegan-adegan yang menggambarkan belahan dada perempuan. Padahal adegan tersebut merupakan adegan yang biasa-biasa saja. Lumrah untuk melihat baju dengan belahan dada di masa sekarang ini.

Justru dengan adanya sensor, audiens televisi jadi lebih penasaran dengan sensor yang berupa lapisan kecil yang mengaburkan gambar belahan dada. Sekaligus jengkel karena gambar visual di layar kaca menjadi terganggu dengan adanya sensor itu.

Apakah tampilan belahan dada otomatis bisa merusak moralitas penonton dan penduduk tanah air secara umum? Tentu tidak. Tidak bila penonton menganggap belahan dada sebagai hal yang biasa-biasa saja. Tidak porno. Tidak pula langsung membuat yang melihatnya terangsang lalu ingin melakukan perbuatan yang terlarang.

Namun sensor belahan dada tak hanya diberlakukan di tanah air. Negeri Tiongkok pun melakukannya secara masif. Brutal. Tak hanya ditutupi dengan sensor kabur pada gambar belahan dada tapi justru gambar adegan hanya memperlihatkan bagian di atas leher dengan teknik zoom. Lebih ekstrim, bukan?

Apakah belahan dada benar-benar menakutkan? Harusnya tidak. Biarkan saja terlihat. Belahan dada sesuatu yang bisa dinikmati dan dihargai. Sesuatu yang wajar. Bukan hal yang menakutkan karena bisa hancurkan moral orang yang melihatnya.

Narkoba

Narkoba itu apa? Masih saja ada yang bertanya tentang arti kata itu. Mungkin penasaran karena akhir-akhir ini narkoba menjadi topik yang sering dibicarakan di media massa.

Narkoba sendiri singkatan dari narkotika dan bahan berbahaya. Singkatnya narkoba tak selaiknya dikonsumsi karena dampaknya negatif. Sayangnya narkoba sendiri belum cukup dipahami dengan benar oleh banyak orang. Silakan ulik perihal narkoba di tautan berikut supaya bisa mengerti dan menghindarinya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Narkoba

Makanan Instan yang Adiktif

Banyak orang tahu bahwa makanan instan tidak baik untuk kesehatan badan. Sebut saja makanan instan tersebut dan anehnya banyak yang langsung menerbitkan air liur. Makanan instan memang memiliki sifat yang mencandu. Mungkin karena struktur makanannya yang mudah dicerna terlepas dari adanya unsur zat negatif atau kurangnya gizi dikandungnya.

Bahkan sepertinya tak salah menyebut bahwa makanan instan itu identik dengan makanan yang enak. Tak terlalu lezat memang tapi mudah dibuat dan gampang dikonsumsi dengan rasa yang enaknya standar.

Kalau dipikir-pikir makanan instan itu seperti rokok. Dampaknya jelas negatif tapi ramai-ramai dikonsumsi dan disukai. Banyak yang menghindari makanan instan tapi lebih banyak orang yang justru sangat menyenanginya. Lagipula harga makanan instan relatif terjangkau sehingga menggantikan makanan pokok yang menyehatkan seperti sayuran dan biji-bijian.

Tapi tak semua orang betul-betul memikirkan apa yang mereka makan. Asal bisa makan sepertinya menjadi target kebanyakan orang. Atau paling tidak asal bisa makan enak dengan praktis dan cepat. Padahal bahaya mengancam yang umumnya baru dirasakan setelah beberapa tahun ke depan. Dan ketika saat itu datang, banyak pasien yang harus pantang makan dan minum.

Oleh karena itu mengapa tidak memilih makanan yang lebih sehat sehingga bisa makan enak dari saat remaja hingga masa senja nanti. Lebih enak seperti itu, bukan?