Raja, Ratu dan Selir

Sekarang kita hidup di dalam era baru. Hanya sedikit negara di dunia ini yang masih memiliki sistem pemerintahan berupa kerajaan. Kita mengerti tentang kehidupan di dalam kerajaan karena membaca literaturnya melalui buku-buku dan ensiklopedia.

Selain itu tentu karena menikmati drama televisi atau film yang mengungkap kehidupan para raja bersama ratu dan selirnya. Coba berapa banyak tema kerajaan yang libatkan raja dengan ratu dan selir-selirnya yang ditampilkan di layar lebar dan di layar kaca? Tak terhitung, bukan?

Mengapa mengulik kehidupan raja, ratu dan selir itu menarik?

Kehidupan mereka itu unik. Tak terjangkau dan tak terbayangkan oleh rakyat biasa. Oleh karena itu menjadi menarik. Minimal lebih menarik dari drama kehidupan rakyat biasa.

Lalu bagian apa yang menarik?

Aha! Banyak tentunya. Sebut saja beberapa contohnya yaitu cara hidup mereka, apa yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari, dan apa masalah yang mereka hadapi.

Bagian yang paling menarik? 

Interaksi domestik antara raja dengan ratu dan selir-selirnya. Relasi antar manusia selalu menarik. Lebih menarik bila terjadi pada orang-orang yang tak biasa yaitu keluarga kerajaan. Lagipula relasi keluarga kerajaan menarik karena komplikasi poligami. Sepasang manusia dalam pernikahan saja sudah rumit. Apalagi pernikahan poligami dalam kaitannya dengan situasi geo-politik yang tak sederhana.

Tunggu. Memangnya keluarga kerajaan harus berpoligami? 

Tak harus. Tapi namanya raja tentu memiliki kekuasaan untuk memiliki lebih dari satu wanita. Makin banyak wanita yang dinikahinya, makin besar peluang untuk mendapatkan keturunan yang suatu hari nanti bisa menjadi penerusnya yang layak. Kekuasaan bisa lebih langgeng karena diturunkan ke generasi berikutnya. Anak, cucu dan seterusnya.

Lalu apa sulitnya dengan poligami di kerajaan?

Sulit? Jelas sulit. Namanya poligami berarti ada satu laki-laki dengan banyak wanita. Ada kecemburuan pastinya. Apalagi bila mengingat bahwa hanya satu istri saja yang bisa menjadi permaisuri. Sedangkan lainnya menjadi selir dengan hak-hak yang terbatas. Bayangkan nasib baik yang diterima oleh permaisuri. Salah satu anaknya kelak akan menjadi raja yang berikutnya. Yang mulanya permaisuri akan menjadi ibu suri; ibu dari raja. Otoritas dan peruntungan ibu suri tentu akan lebih baik lagi, bukan?

Jadi ada politik domestik dalam kehidupan raja? 

Jelas. Jelas sekali. Siapa yang dicintai raja otomatis mendapat kesempatan yang lebih baik ketimbang lainnya. Bila raja suka tentunya akan meluangkan lebih banyak waktunya untuk wanita yang dirasa istimewa. Dan tertarik untuk memiliki anak dari wanita tersebut. Oleh karena itu para wanita yang beruntung menjadi milik raja berusaha untuk menjadi kesayangan raja. Sederhana, bukan?

Bagaimana bila seorang istri raja tak menjadi favorit raja? 

Artinya raja hanya sedikit atau tak pernah melewatkan waktu bersamanya. Dengan begitu kesempatan memiliki anak dari raja makin tipis. Bila memiliki anak dari raja, anaknya pun hanya menjadi pangeran yang kurang disayang. Pangeran yang tak memiliki kesempatan menjadi raja seperti putra mahkota.

Cuma begitu saja? 

Tentu tidak. Ada banyak selir raja yang tak ingin sekedar menjadi selir. Berusaha melakukan hal-hal yang lebih baik lagi. Atau malah sebaliknya melakukan tindakan yang tak terpuji. Ambil saja  contoh seperti menfitnah selir raja yang lain. Meracuni permaisuri atau putra mahkota. Mengkhianati satu sama lainnya. Intinya ingin menyingkirkan siapa saja yang disukai oleh raja. Kans menjadi permaisuri pun menjadi lebih besar.

Jadi apa yang harus dilakukan oleh raja?

Menjadi raja memang tak mudah. Selain harus mengurus kerajaan dan rakyat di luar istana, raja juga harus bijak mengelola urusan domestiknya yaitu permaisuri dan selir-selirnya. Beserta putra mahkota, pangeran-pangeran lainnya, dan putri-putri yang nantinya dinikahkan dengan pangeran-pangeran dari negara tetangga atau pejabat negara yang memiliki pengaruh. Tugas raja mengurus kerajaan saja sudah rumit. Apalagi bila harus ditambahi dengan polemik domestik yang penuh intrik. Mungkin supaya tidak tambah pusing, raja cukup menikmatinya saja. Sudah ada orang-orang di kerajaan yang tugasnya memastikan kehidupan raja berlangsung dengan baik.

Sepertinya kehidupan di istana sangat kompleks? 

Sepertinya begitu. Oleh karena banyaknya plot dan intrik, selain romansa tentunya, kisah kehidupan para raja dan keluarga besarnya menarik untuk diulik. Makin besar jumlah anggota keluarganya, makin pelik pula kehidupannya. Bila kehidupan berkeluarga orang biasa saja sudah bikin pusing, bagaimana dengan keluarga raja yang terkait erat dengan harta, tahta dan wanita. Jelas sangat memusingkan. Menjadi raja yang memiliki semuanya tak serta-merta bahagia. Ingat bahwa usia para raja umumnya pendek. Banyak yang tak mencapai usia 50 tahun.

Sayang sekali. Punya tahta, wanita, harta tapi hidupnya pendek.

Memang disayangkan. Namun kehidupan pendek seorang raja sepertinya jauh lebih baik daripada kehidupan rakyat biasa; yang mungkin bisa mencapai usia sangat senja tapi hidupnya biasa-biasa saja atau susah.

Lalu bagaimana kalau raja mangkat?

Nah itu dia. Bila raja meninggal dunia, kehidupan keluarga besarnya bisa berakhir saat itu juga. Ingat bahwa akan selalu ada perebutan kekuasaan antara anggota keluarganya. Suksesi tak selalu berjalan mulus. Saat putra mahkota menjadi raja, saat itu pula kehidupan selir-selir raja dengan keturunannya bisa berada di ujung tanduk. Semisal eksekusi terhadap keturunan raja lainnya yang membangkang dan ingin merebut kursi raja suatu saat nanti. Antisipasi perlu dilakukan.

Pelik sekali. Mending jadi rakyat biasa. 

Itu anehnya. Rakyat kebanyakan menginginkan kehidupan bak raja-raja sedangkan sebaliknya raja ingin kehidupan seperti rakyat biasa saja. Rumput tetangga memang terasa lebih baik. Bagi rakyat biasa jauh lebih baik bila membayangkan saja kehidupan istimewa kerajaan dengan menonton film atau drama yang bertema kerajaan.

Ada drama tv atau film yang bagus mengenai romansa kerajaan?

Ada banyak. Tapi saya tak lagi menonton drama tv. Bahkan jarang sekali menonton tv. Seingat saya drama tv tentang kerajaan yang berkesan adalah Dae Jang Geum yang berkisah tentang kerajaan pada masa Dinasti Joseon.

Sekarang saya jadi bersyukur menjadi rakyat biasa. 

Baguslah. Bersyukur itu penting. Enak jadi rakyat biasa tak perlu memikirkan urusan negara yang berjibun. Apapun itu patut disyukuri. Siapa tahu di kehidupan yang lalu Anda atau saya pernah menjadi raja atau anggota keluarganya di istana. Menarik, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s