Obesitas, Bukan Kelaparan

Saat populasi dunia naik dengan tajam hingga melebihi angka 7 milyar banyak ahli dunia, pemikir, akademisi membuat prediksi bahwa kelaparan akan menjadi masalah yang krusial untuk planet ini dalam beberapa tahun ke depan. 

Benar adanya bahwa ada sekian banyak orang yang tinggal di Benua Afrika, negara-negara berkembang di Asia dan wilayah di Eropa Timur menderita kelaparan karena perang, bencana alam dan gagal panen yang parah. 

Namun kelaparan bukan lagi menjadi perhatian utama dunia. Ada permasalahan yang dipandang lebih mendesak untuk diselesaikan. Yaitu obesitas. Suatu hal yang ironis karena obesitas cenderung identik dengan terlalu banyaknya konsumsi makanan; bukan kekurangan pangan. 

Obesitas dalam waktu singkat sudah menjadi bagian yang tak terelakkan baik di negara maju maupun negara berkembang. Obesitas sendiri tak begitu mengganggu. Namun efeknya pada kesehatan jelas merugikan karena orang yang memiliki obesitas rentan terhadap penyakit. Baik itu penyakit gula, jantung, kanker dan kondisi yang membuat kinerja tubuh memburuk dengan lebih cepat. 

Kambing hitam dari obesitas biasanya karena konsumsi makanan tidak sehat dalam jumlah yang lebih dari normal. Fast food dan junk food tersedia di mana-mana dan harganya murah meriah. Siapa pun bisa mengasupnya. Baik tua atau pun muda. 

Krisis ekonomi dan distribusi bahan pangan yang tidak seimbang memang membuat sekian banyak orang memilih memilih makanan cepat saji dan makanan sampah; ketimbang makanan segar yang relatif mahal meskipun lebih sehat bagi tubuh manusia. 

Obesitas membawa banyak dampak sosial. Yaitu perasaan rendah diri dan kurang berguna. Bahkan tak jarang orang yang obesitas menjadi korban perisakan (baca: bully) di sekolah dan di tempat kerja. 

Dari segi layanan kesehatan, sekian banyak dana pemerintah dan asuransi digelontorkan untuk membiayai penderita obesitas. Padahal alokasi dana yang ada bisa digunakan untuk membiayai penyakit yang lebih berbahaya seperti jantung atau kanker. 

Singkat kata perihal makan memang bisa menjadi masalah besar bila tak ditangani. Bila dulu masalah terjadi karena adanya kekurangan pangan yang sebabkan kelaparan. Kini masalah terjadi karena salah makan dan secara membabi-buta mengkonsumsi makanan yang tersedia secara masif di mana-mana namun jelas tidak sehat. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s