Damocles

Suatu ketika di jaman dulu ada seorang bangsawan bernama Damocles yang memuji Dionysius I Sang Penguasa Syracuse. Menjadi penguasa tentulah bahagia karena memiliki segalanya. Kira-kira seperti itulah puji-pujian Damocles. Tak hanya Damocles seorang yang memberi pujian setinggi langit tersebut, banyak orang lain yang berpikir sama. Betapa hebat dan agungnya seorang Penguasa. 

Mendengar pujian itu Dionysius justru merasa ingin memberikan pelajaran bagi Damocles. Sang Penguasa pun menawarkan Damocles untuk menjadi penguasa untuk sesaat. Damocles dipersilakan untuk duduk di singgasana mewah nan megah milik Dionysius. 

Namun sebelum mempersilakan Damocles untuk duduk di singgasana tersebut, Dionysius sudah menggantungkan pedang yang sangat tajam dan besar di atas singgasana tersebut. Pedang tersebut menggantung sangat tinggi di atas singgasana — siapa pun yang duduk tak akan terkena atau terluka oleh pedang itu — dan hanya dikaitkan dengan seutas tali. Pedang tersebut tak akan terlihat oleh orang lain kecuali oleh orang yang duduk di singgasana tersebut. 

Damocles pun duduk di singgasana tersebut. Ada perasaan yang membuncah karena memiliki kekuatan Sang Penguasa. Powerfull. Invincible. Hebat. Dahsyat. Semua rakyat sekaligus para bangsawan pun berada di bawah kekuasaannya. 

Sejenak Damocles duduk di singgasana tersebut. Saat mendongak ke atas, Damocles menyadari bahwa ada pedang yang tergantung di atas singgasana. Terancam. Jantungnya berdetak cepat, darah mendesir dengan kencang, nafas tersengal-sengal. 

Kemudian beberapa menit kemudian Damocles beranjak dari singgasana tersebut. Tak lagi inginkan duduk di kursi Sang Penguasa. Tak juga inginkan menjadi penguasa seperti Dionysius. 

Saat itulah Damocles menyadari bahwa sangat mudah memberi puji-pujian sekaligus iri hati kepada penguasa yang duduk di singgasana. Namun sama sekali berbeda saat duduk di singgasana tersebut. Paham dengan sungguh-sungguh bahwa seorang penguasa, sehebat apapun kekuasaannya, memiliki sisi yang tak dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Bahwa hidup Sang Penguasa terancam bahaya setiap waktu, dicacimaki oleh rakyatnya, mendapat serangan oleh banyak pengkhianat dan ancaman yang bermacam-macam lainnya. 

Menjadi penguasa memang tak mudah. Siapa pun boleh menjadi penguasa meski tak semuanya mampu menjadi penguasa. Wajar jika hanya orang yang memiliki jiwa pemimpin dan mental baja yang mampu dan mau duduk di singgasana dengan ancaman yang mengancam nyawa setiap saat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s