Alun Alun Yogyakarta

Alun-alun mengalami perubahan fungsi yang signifikan dari masa ke masa.

Dulu menjadi tempat untuk berkumpul penduduk kota untuk bertemu dengan pemimpinnya. Atmosfernya sakral, demokratis sekaligus membumi.

Beda jauh dengan sekarang. Banyak orang — entah itu penduduk Yogya sendiri atau turis dari luar kota — menganggap Alun-alun sebagai sekedar tempat wisata yang happening dan wajib didatangi ketika mengunjungi Kraton.

Sebagai atraksi wisata sebagian besar para pengunjung, tanpa menghiraukan sejarah masa lalu dan fungsinya yang sebenarnya, datang ke Alun-alun yang menjadi tempat asyik untuk kencan murah-meriah, nongkrong tanpa kejelasan dan tentunya makan minum di tempat makan lesehan yang tak tertata rapi dan beroperasi seadanya.

Ditambah pula adanya parkir liar yang bertambah luas dengan cepat sampai-sampai memakan badan jalan dan trotoar. Jasa parkir memang diperlukan karena animo pengunjung sangat besar dibanding ketersediaan parkiran yang disediakan. Parkir liar ini menjadi tambahan fulus bagi penduduk dekat komplek Alun-alun tapi bikin macet jalanan. Belum lagi adanya Odong-odong — mobil sepeda dengan lampu terang-benderang dan lagu yang keras — yang jumlahnya terlalu banyak sehingga kompetisinya tidak sehat lagi dan tambah bikin macet.

Sangat disayangkan juga kalau Alun-alun yang menjadi magnet wisawatan menjadi tak karuan. Bahkan kalau malam hari masih minim lampu dan tidak ada aparat keamanan yang mengatur lalu-lintas kendaraan atau orang. Semuanya terkesan dibiarkan berjalan dengan sendirinya.

Alhasil banyak wisatawan yang datang ke Alun-alun dan kurang puas dengan pengalaman wisata di tempat itu. Apalagi ketidaknyamanan warga sekitar yang rumahnya di dekat Alun-alun menjadi terganggu karena riuh-rendahnya suara banyak orang dan kendaraan di sekitar tempat itu.

Seyogyanya ada intervensi dari pemerintah kota. Mungkin juga dari pengurus komplek Keraton. Dengan begitu Alun-alun bisa menjadi tempat atraksi wisata yang dikemas dengan apik dan profesional. Harapannya pengunjung Alun-alun tak hanya wisatawan domestik tapi juga wisatawan manca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s