Kakek Harso dan Nenek Asyani

Dua orang lanjut usia di dua tempat yang berbeda itu mendapat masalah besar tatkala bersinggungan dengan aparat hukum. Dua-duanya dituduh telah mencuri kayu. Kakek Harso terbukti tidak bersalah dan terbebas dari dakwaan mencuri kayu. Sedangkan Nenek Asyani masih diproses oleh pihak yang berwenang. 

Kakek Harso dan Nenek Asyani hanyalah orang-orang kecil. Tak tahu apa-apa dan tiba-tiba sudah dimejahijaukan. Boleh dibilang mereka tersangkut perkara karena ketidaktahuan mereka. Juga karena mereka rentan untuk diperkarakan oleh orang lain atau suatu instansi; yang memiliki kekuasaan. 

Entah bila media masa tak membawa kasus mereka ke hadapan publik. Mungkin tak akan ada yang tahu dengan perkara besar yang mereka hadapi. Bayangkan bila tak ada yang tahu dan bertindak, Kakek Harso dan Nenek Asyani bisa-bisa mendekam di penjara bertahun-tahun. Padahal usia mereka sudah lanjut. Melewatkan usia senja di penjara hingga ajal menjemput. Tragis, bukan?

Jauh beda dengan para pembalak liar yang jelas-jelas mencuri kayu di hutan yang jelas-jelas dilarang untuk ditebang. Para pembalak liar sanggup ‘membeli’ oknum aparat hukum di banyak hutan lindung. Beda pula dengan para cukong kayu yang beroperasi secara terang-terangan mencaplok ribuan hektar hutan karena sanggup ‘memelihara’ oknum pemerintah setempat; padahal jelas-jelas hutan-hutan tersebut tak boleh dieksploitasi berdasar konsesi dan regulasi. 

Para pembalak liar dan cukong kayu hampir tak pernah tertangkap tangan. Hanya orang-orang kecil suruhan yang biasanya menjadi ‘tumbal’ untuk masuk penjara. Selebihnya aman-aman saja. 

Beda dengan rakyat kecil marjinal seperti Kakek Harso dan Nenek Asyani. Bahkan bila ada skenario bahwa mereka mengambil kayu tanpa ijin, berapa banyak kayu yang mereka bisa ambil? Sedikit sekali. Dan terbukti bahwa Kakek Harso sungguh-sungguh tak bersalah dan sudah bebas dari vonis. 

Bagaimana dengan pembalak liar dan cukong kayu? Bebas saja melenggang. Meraup kekayaan dari hasi bumi yang dilindungi. 

Keadilan? 

Keadilan itu ada. Hanya saja harus diperjuangkan dengan sepenuh tenaga. Kakek Harso akhirnya bebas dan mendapatkan keadilan. Nenek Asyani masih harus berjuang. 

Yang tak adil itu adalah pembalak liar dan cukong kayu yang bebas dari jerat hukum. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s