Karoshi dan Karojishi

Bekerja keras itu baik adanya. Bekerja menjadi salah satu cara manusia untuk mengaktualisasikan dirinya. Berguna karena melakukan sesuatu untuk diri sendiri dan orang lain. 

Tentu berbeda ceritanya kalau bekerja terlalu keras — entah terpaksa atau memaksakan diri — hingga akhirnya membuat seseorang meninggal dunia.

Salah satu negara yang terkenal karena memiliki puluhan juta penduduk yang giat bekerja adalah Jepang. Konon di negeri itu etos kerja orang-orangnya sangat tinggi sehingga bisa mengubah Jepang — negeri yang minim sumber daya dan hancur karena perang — menjadi negara dengan tingkat ekonomi terbesar nomor tiga di dunia dalam waktu relatif singkat. Negaranya menjadi makmur dengan infrastruktur yang modern dan penduduknya memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi.

Sebuah pertanyaan besar muncul. Mengapa Jepang bisa menjadi negara makmur dan rakyat sejahtera?

Jawabannya singkat. Ekonomi Jepang menjadi besar karena puluhan juta penduduknya yang bekerja keras. Lebih tepatnya lagi yaitu bekerja terlalu keras. 

Bagus, dong?

Tergantung darimana memandangnya. 

Semua di dunia ini ada harganya. Tidak ada yang tiba-tiba terjadi tanpa adanya upaya dan pengorbanan. 

Begitu juga dengan apa yang terjadi di Jepang. Ekonomi Jepang memang memiliki ukuran yang sangat besar. Sangat kontras dengan ukuran negara, jumlah penduduk dan cadangan sumber daya alam yang relatif kecil dibanding Amerika Serikat dan Tiongkok. Tak ada yang meragukan itu.

Tetapi ekonomi Jepang dibangun dengan pengorbanan jutaan penduduknya yang bekerja terlalu keras hingga mengorbankan kesehatan diri mereka sendiri. Karoshi dan Karojishi meningkat drastis setara dengan majunya perekonomian Jepang. 

Karoshi berarti kematian yang disebabkan gangguan otak atau jantung karena bekerja terlalu keras. 

Sedangkan Karojishi adalah bunuh diri yang terjadi karena depresi atau gangguan mental lainnya yang disebabkan oleh bekerja terlalu keras. 

Karoshi dan Karojishi benar-benar nyata dan dialami oleh begitu banyak orang Jepang. Jumlah sebenarnya jauh lebih banyak lagi dari yang disebutkan di berbagai media masa karena umumnya keluarga dari orang yang mengalami kemarian karena Karoshi dan Karojishi enggan mengatakannya kepada tetangga dan orang lain. 

Entah mengapa ada begitu banyak orang yang  mengalami Karoshi dan Karojishi di Jepang padahal sebenarnya bisa menghindarinya sebelum dua hal tersebut terjadi. Sepintas orang akan berpikir bahwa orang Jepang suka bekerja keras. Padahal pada nyatanya orang Jepang dengan sadar, suka atau tidak suka, ‘memperbudak’ dirinya sendiri sehingga bekerja lebih keras daripada kekuatan tubuh dan mental. 

Memperbudak diri? 

Coba bayangkan apa yang ada di pikiran kita masing-masing bila seseorang bekerja lebih dari 10 jam tiap harinya. Lelah? Capai? Keterlaluan?

Umumnya orang bekerja selama 8 jam setiap hari. Misal mulai bekerja jam 9 pagi dan selesai jam 5 sore. Mungkin ada satu jam untuk istirahat makan. Ditambah dengan lembur satu atau dua jam tentu biasa. Perlu dihitung pula waktu yang dibutuhkan untuk transportasi.

Namun hebatnya, atau parahnya, banyak perusahaan, organisasi, instansi dan usaha di Jepang membuat atau memaksa karyawannya atau pegawainya untuk bekerja lebih dari 10 jam per hari. Lembur merupakan hal yang biasa dan tidak dihitung sebagai tambahan gaji. Jarang ada yang mempertanyakan atasan dan perusahaan bila disuruh lembur atau bekerja ekstra. 

Selain itu perusahaan-perusahaan di Jepang kini tak lagi mempekerjakan karyawannya seumur hidup seperti jaman dulu. Hampir separuh karyawan perusahaan jaman sekarang adalah pegawai kontrak atau pekerja lepas.

Tanpa adanya jaminan kerja dan gaji yang stabil membuat banyak orang di Jepang mati-matian bekerja untuk mempertahankan posisinya. Di saat yang sama perusahaan menyadari hal tersebut dan malah memanipulasi dan menekan orang untuk bekerja lebih keras lagi hingga melebihi batas. 

Kondisi bekerja di Jepang seperti itulah yang membuat orang bekerja sekeras-kerasnya tanpa memperhatikan kesehatan tubuh dan mental. Belum lagi dengan tingginya ongkos hidup di Jepang yang dikeluhkan oleh penduduknya. Tak ada yang benar-benar murah di sana. Semuanya serba mahal. Tempat tinggal, makanan, barang-barang, transportasi, pendidikan semuanya sangat mahal. Terutama bagi mereka yang tinggal di kota metropolitan. 

Berbagai gabungan faktor-faktor di atas jelas membuat orang Jepang dihadapkan pada sempitnya pilihan. Bekerja keras sekeras-kerasnya dengan resiko mengalami Karoshi atau Karojishi. Atau tak memiliki pekerjaan dan penghasilan sehingga jatuh miskin dan susah hidupnya.

Lalu bagaimana ke depannya?

Ekonomi Jepang saat ini memang besar skalanya. Namun baru-baru ini posisinya sebagai negara ekonomi terbesar kedua di dunia tergeser oleh Tiongkok; yang naik peringkat dari nomor tiga ke nomor dua. Jepang turun satu tingkat dan menjadi negara ekonomi terbesar ketiga.

Indikasinya jelas bahwa ekonomi Jepang menurun yang dibuktikan dengan jatuhnya beberapa perusahaan-perusahaan besar dari Jepang seperti Sharp dan Sony. Belum lagi perusahaan yang skalanya lebih kecil dari dua perusahaan tersebut. 

Di saat yang sama ekonomi negara-negara lainnya bertumbuh menjadi lebih kompetitif. Seperti laiknya Tiongkok dan Korea Selatan; yang berada dalam satu wilayah yang sama. Belum lagi ditambah dengan Thailand, Indonesia dan Vietnam yang jumlah ekspornya meningkat tajam; mengakibatkan barang-barang ekspor Jepang mengalami penurunan dalam permintaan. 

Dengan kompetisi yang sangat ketat dengan negara-negara di kawasan Asia, Jepang memerlukan jutaan penduduk dalam usia produktif — yang malangnya berkurang karena rendahnya angka kelahiran yang tak sebanding dengan pertambahan laju para lanjut usia — untuk bekerja lebih keras lagi. 

Bekerja lebih keras lagi?

Sepertinya memang begitu. Bila saat ini saja sudah banyak orang yang mengalami Karoshi dan Karojishi, bagaimana pula bila Jepang meminta rakyatnya untuk bekerja jauh lebih keras lagi? 

Sepertinya jumlah orang yang akan mengalami Karoshi dan Karojishi akan melonjak dalam tahun-tahun ke depan. Harapan hidup untuk bekerja dengan normal dan hidup sejahtera menjadi makin kabur. Yang ada hanyalah bekerja keras sekeras-kerasnya hingga ajal menjemput. Suka atau tidak suka. 

Kebanggaan karena penduduknya rajin dan bekerja keras? Itu hanyalah slogan yang digaungkan oleh pemerintah saja untuk memacu produktivitas dari rakyatnya. 

Rajin bekerja itu baik.

Bekerja terlalu keras hingga mengorbankan kehidupan? Itu tidak manusiawi namanya. 

  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s