Sumur, Kasur, Dapur

Banyak perempuan jaman sekarang pasti akan terhenyak kalau mendengar bahwa wanita jaman dulu hidupnya hanya terpusat pada tiga hal seperti ini. Yaitu sumur, dapur, kasur.

Sumur

Tentu berhubungan dengan mencuci baju dan mencuci perabot rumah tangga. Sumur juga identik dengan urusan mandi sehari-hari. Jaman dulu, sebelum adanya pompa air atau layanan air bersih dari PAM, perempuan yang bertanggungjawab untuk menyediakan kebutuhan air dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk mengambil air dari sumur dengan menggunakan timba atau kerekan air. Pekerjaan yang berat. Semakin banyak orang yang tinggal di dalam suatu rumah, makin banyak pula air yang harus ditimba.

Dapur

Perempuan mengolah makanan untuk makan seluruh anggota keluarga. Namun urusan dapur tak hanya di dapur. Urusan dapur berarti mendapatkan bahan makanan dari pasar pada pagi hari, mengolahnya sehingga bisa awet dan bisa dipakai berhari-hari kemudian hingga akhirnya menyajikan makanan untuk disantap bersama.

Perempuan jaman dulu melewatkan sebagian besar waktunya di dapur sehingga sering disebut sebagai konco wingking, teman di belakang. Dapur biasanya terletak di belakang rumah, bersamaan dengan sumur dan kamar mandi.

Aktivitas di dapur akan meningkat bila tiba saatnya untuk merayakan festival, upacara tradisional dan hajatan. Makin banyak yang diundang, makin banyak kerjaan di dapur. 

Kasur

Pasti banyak yang berpikiran bahwa urusan kasur pasti identik dengan melayani kebutuhan seksual suami. Benar adanya. Tapi urusan kasur lebih kompleks daripada sekedar menerima nafkah batin. Kasur identik dengan keturunan. Makin sering melewatkan waktu bersama suami tentu perempuan akan makin produktif melahirkan keturunan. Dulu sekali, makin banyak anak dianggap makin banyak rejeki. Wajar karena anak-anak, baik anak lelaki dan anak perempuan, bisa menjadi tenaga kerja untuk mengurus sawah dan mengurus rumah.

Jadi?

Tapi pada jaman sejarang ini, tak berarti beban perempuan berkurang karena urusan sumur, dapur dan kasur bisa dikerjakan bersama-sama dengan suami dan anak-anak; ditambah pembantu bila ada. Justru di era yang modern ini, di mana kebutuhan ekonomi menuntut istri untuk mencari uang guna mencukupi kebutuhan rumah, perempuan mendapati beban hidup yang lebih berat. Sudah mengurus ’sumur, dapur, kasur’ dan masih ditambah dengan kerjaan kantor.

Oleh karena itu wajar adanya ketika perempuan inginkan dan dambakan lelaki yang sanggup untuk menjadi breadwinner yang bisa diandalkan sekaligus rela dan suka membantu urusan rumah dan anak-anak. Dengan begitu semua urusan kehidupan berjalan dengan seimbang dan lancar.

Apakah masih ada perempuan yang hanya mengurus ’sumur, dapur, kasur’ di masa sekarang? Tentu masih ada. Masih banyak. Coba lihat di sekeliling Anda. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s