Menegakkan Hukum

Hukum dibuat dan berlaku di tanah air. Salah satu hukum tersebut terkait dengan hukuman untuk penyebar narkoba.

Terlepas dari proses hukumnya, sebuah hukuman yang disahkan oleh undang-undang harus dilaksanakan. Bila alpa atau ragu-ragu melaksanakannya, pemerintah akan dianggap tak berdaya. Tak mampu menegakkan hukum.

Bila masyarakat di dalam negeri dan di luar negeri menangkap isyarat bahwa pemerintah tak mampu melaksanakan eksekusi, jatuh kepercayaan terhadap legitimasi pemerintahan.

Yang senang tentu adalah para penyebar narkoba. Besok-besok lagi kalau tertangkap pastilah tak akan dihukum mati. Pemerintah tak berani melakukan eksekusi.

Beda ketika pemerintah mampu mengeksekusi hukuman seperti yang sudah diputuskannya. Negara lain akan memberikan respek kepada Bangsa Indonesia. Bahwa bangsa ini, yang dijalankan oleh pemerintahan yang terkini, mampu melakukan keputusan dan tindakan yang tak populer untuk melakukan eksekusi hukuman mati.

Coba tengok negara tetangga di sebelah Utara Pulau Batam, Singapura. Hukuman bagi orang yang membawa masuk dan mengedarkan narkoba ke negara pulau yang luasnya tak seberapa itu sudah jelas. Hukuman mati dengan cara digantung. Pemerintahan mereka tegas sejak dulu. Siapa saja, terlepas dari asal negara mereka, pasti langsung digantung mati ketika terbukti bersalah membawa narkoba.

Apakah ada negara yang protes bila warga negaranya digantung di Singapura? Selalu dan pasti ada. Tapi tak berkutik karena memang begitulah hukum yang berlaku di negara jiran itu.

Salut bila pemerintahan negara yang sekarang ini mampu mengeksekusi pelaku narkoba. Bila secara konsisten bisa melaksanakannya, pesan yang tersampaikan secara internasional menjadi lebih jelas. Yaitu tidak ada tawar-menawar bahwa mereka yang membawa dan mengedarkan narkoba di tanah air jelas akan mendapat hukuman mati. Ditembak oleh sepasukan penembak. Sudah harga mati.

Dengan cara seperti itu, penyebaran dan pemakaian narkoba di negara ini bisa dikurangi secara signifikan. Cara yang efektif untuk mengurangi jumlah generasi muda Indonesia yang bertumbangan karena kecanduan narkoba dan tewas karena overdosis.

Gempa Bumi dan Korban Jiwa

Dalam setiap pemberitaan tentang tragedi gempa bumi, selalu ada korban jiwa yang jatuh. Mulai dari puluhan hingga musibah yang memakan ribuan korban yang meninggal dunia. Gempa membunuh orang.

Namun gempa sendiri tak serta-merta membunuh manusia. Justru bangunan yang dibuat oleh manusia itu sendiri yang sangat berbahaya. Bangunan yang tak kuat didirikan dengan cepat dan hemat tapi tak benar-benar berdaya ketika digoyang oleh gempa bumi. Wajar jika di kemudian hari, bangunan yang roboh menimpa manusia-manusia di dalamnya.

Gempa sendiri hanya menjadi penyebab kematian banyak orang yang tertimbun oleh berbagai bangunan yang baru atau yang lama; yang tak lagi sanggup menghadapi fenomenal alam berupa tanah yang bergeser.

Majalah online Wired mengupasnya lebih lanjut (dalam artikel berbahasa Inggris) di bawah ini.

http://www.wired.com/2015/04/earthquakes-dont-kill-people-buildings/

Manfaat Menulis Setiap Hari

Hampir semua orang bisa menulis. Uniknya tak semua orang menulis setiap hari. Bahkan banyak orang memiliki asumsi bahwa mereka tak bisa menulis. Padahal menulis — terlepas dari baik atau tidak kualitasnya — memberikan manfaat bagi yang melakukannya.

Salah satu laman blog (dalam Bahasa Inggris) di bawah ini mengupas beberapa keuntungan menulis setiap hari.

http://zenhabits.net/write-daily/

Meja yang Sempurna

Saya suka bekerja di meja yang enak dipakai. Sayangnya tidak mudah menemukan meja yang ukurannya pas untuk saya sendiri.

Meja yang bagus banyak dipajang di toko-toko mebel. Ada yang mahal dan ada yang murah meriah. Macam-macam bentuk dan materialnya. Tetapi ukurannya kurang pas dengan yang saya inginkan.

Terlintas mengapa tidak membuat sendiri. Dengan membuat meja menurut kebutuhan saya sendiri pasti akan pas. Berbeda kalau membeli meja yang sudah jadi. Sebagus apapun bentuknya tapi tetap kurang pas.

Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke tukang las untuk memesan rangka besi untuk meja. Ternyata prosesnya praktis. Cukup memberitahu panjang, lebar dan tinggi yang diinginkan. Kemudian memilih tipe rangka besinya. Tinggal minta juga rangka meja akan memakai cat warna apa. Minta dihitungkan berapa biayanya. Kemudian menunggu beberapa hari.

Setelah itu saya pun memesan potongan kayu untuk permukaan mejanya pada tukang kayu. Pesan berapa panjang dan lebar. Pilih jenis kayu dan tanyakan estimasi harganya. Potongan kayu tersebut sekaligus akan diamplas. Bayar uang muka dan cukup menghitung hari.

Dan akhirnya saya memiliki meja yang pas untuk saya sendiri. Panjang 90 cm, lebar 60 cm dan tingginya 63 cm. Pas rasanya. Nyaman karena mejanya ringan, tidak terlalu lebar dan tidak sempit. Dengan begitu mudah dipindah-pindah sesuai kebutuhan.

Meja yang sempurna memang harus dibuat sendiri. Tak harus dengan tangan sendiri tentunya. Tapi cukup memesan di tukang las dan tukang kayu. Beres.

Saya benar-benar senang karena akhirnya bisa memiliki sesuatu yang saya idam-idamkan sejak lama. Sebuah meja yang sempurna bagi saya.

Letterspace dan Desk.pm

Suka menulis dan blogging. Dua aktivitas tersebut merupakan hobi saya yang saling melengkapi satu sama lain. Kegiatan yang masih dalam satu rumpun yaitu tulis-menulis kalau ngeblog dianggap sebagai bagian dari menulis.

Ketika ada ide muncul atau pemikiran yang terlintas, inginnya langsung mengetikkannya di laptop Mac saya. Jaman dulu biasanya saya mengakses blog di WordPress untuk menuliskan postingan secara online. Ternyata cara seperti ini boros waktu dan tidak praktis.

Kemudian saya akali dengan menulis tulisan di laptop dengan aplikasi Apple Notes atau Evernote. Saat sedang online baru mengunggah postingan ke WordPress. Menghemat waktu dan bandwidth. Rasa-rasanya kurang mantab. Ada sesuatu yang tidak mengganjal karena tetap harus mengakses WordPress melalui internet browser.

Berbeda dengan saat ini. Sudah saya temukan kombinasi yang lebih asyik. Memakai Letterspace, aplikasi untuk menuliskan apa saja dengan cepat dengan tampilan yang sederhana tapi nyaman di mata, untuk menuangkan kata-kata. Saat online barulah salin dan tempel postingan dari Letterspace ke Desk.pm, aplikasi untuk blogging sehingga bisa mengelola dan menggunggah postingan lebih cepat dan lebih efektif. Memang bisa corat-coret langsung dengan Desk.pm tetapi lebih nyaman melakukannya dengan Letterspace.

Menurut saya lebih baik bila menulis dilakukan tanpa harus terkoneksi ke internet secara terus-menerus. Offline membuat proses menulis terfokus. Bila modenya online justru memberikan terdistraksi sehingga ‘mengganggu’ saya menulis dan blogging.

Masing-masing orang tentu memiliki pendekatan dan pemakaian alat pembantu yang berbeda. Sesuai dengan gaya dan kebutuhan tiap-tiap individu.

Namun bila boleh merekomendasikan, Letterspace dan Desk.pm merupakan aplikasi yang sederhana yang powerful. Letterspace gratis sedangkan Desk.pm merupakan aplikasi berbayar.

Silakan dicoba bila suka. Mungkin di masa yang akan datang, akan ada aplikasi lainnya yang lebih asyik dan canggih. Yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan selera yang bisa berubah.

https://programmerbird.com/letterspace/
http://desk.pm

Alat dan Penggunanya

“Pakailah alat yang tepat untuk meraih hasil yang maksimal.” Demikian kata orang bijak. Ada benarnya. Menggali tanah dengan cangkul. Menebang pohon dengan kapak. Memanen padi dengan sabit.

Oleh karena itu memilih dan menggunakan alat yang tepat wajib diperlukan.

Namun ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan oleh pengguna alat tersebut. Yaitu kemampuan menggunakan alat yang dipakai.

Orang banyak bilang bahwa menggunakan cangkul untuk menggali tanah itu mudah. Nyatanya tak semua orang bisa mencangkul dengan efisien dengan hasil yang maksimal. Salah-salah malah cangkulnya menjadi rusak atau kaki sendiri terluka karenanya.

Sebab itu mempelajari menggunakan alat yang dipakai tidak boleh diabaikan. Waktu yang digunakan untuk belajar menggunakannya dengan sempurna bisa makan waktu berhari-hari hingga tahunan tergantung alatnya.

Kita tak perlu membicarakan alat-alat yang canggih. Alat sederhana pun mewajibkan penggunanya bisa mengoperasikannya dengan benar. Tentunya makin kompleks alatnya makin besar pula tuntutan untuk bisa menggunakannya dengan sangat baik.

Pilot memerlukan jam terbang yang mencukupi guna menerbangkan pesawat komersial dengan aman. Tentara berlatih menembak supaya bisa membidik senapa dengan akurat. Pemain piano memainkan satu lagu berpuluh-puluh kali untuk menghasilkan lantunan nada yang harmonis untuk dipersembahkan kepada pendengarnya.

Untuk saya sendiri, saya masih belajar untuk menggunakan laptop yang saya pakai untuk pekerjaan saya. Masih banyak pernik-pernik atau teknik yang belum saya ketahui. Makin banyak saya temukan hal-hal yang baru, makin mahir pula saya menggunakan laptop. Dengan begitu saya bisa bekerja dengan laptop ini dengan lebih cepat dan lebih efisien.

Bagaimana dengan Anda sendiri, alat apa yang dipakai untuk membantu pekerjaan Anda?

Keterbatasan dan Kreativitas

Orang yang dangkal ilmu dan kurang sukses adalah mereka yang selalu menyalahkan keterbatasan mereka.

Entah itu kondisi keluarga yang tidak memadai. Kurangnya pendidikan. Negara yang bobrok karena dipimpin oleh pejabat yang korup. Bahkan bisa marah-marah pada Sang Pencipta karena merasa terlahir di tempat dan waktu yang sangat salah.

Kalau sudah begitu mau apa lagi. Biarkan saja mereka terkungkung dalam keterbatasan mereka sendiri. Itu bukan salah siapa-siapa tetapi diri mereka sendiri karena tak mampu beranjak menuju kondisi yang lebih baik.

Sedangkan mereka yang sukses dan berwawasan luas adalah orang-orang yang tak bisa dibatasi oleh kondisi apapun. Orang-orang ini memiliki kemampuan yang seakan-akan terlihat tak terbatas. Padahal mereka insan manusia yang biasa-biasa saja. Bedanya mereka mampu melihat keterbatasan sebagai pengungkit usaha dan kerja keras mereka.

Apa yang dianggap oleh orang lain adalah sebuah keterbatasan malah menjadi pemicu kreativitas. Orang-orang sukses ini melangkah dengan mantab. Tak peduli berapa kali jatuh ke tanah, mereka tetap berdiri untuk bangun dan kemudian terus bergerak.

Kekacauan perang. Bencana alam. Cacat fisik. Tak memiliki kesempatan belajar di pendidikan formal. Tergolong sebagai kaum minoritas dan marjinal. Masalah?

Rupanya tak masalah. Orang-orang yang sukses ini memulai hidup yang susah. Mulai dari bawah. Hanya saja mereka terus belajar dan terus berusaha sehingga menciptakan dan menggunakan daya kreativitas. Dengan begitu meski menghadapi keterbatasan, mereka tetap bisa mewujudkan apa yang mereka impikan.

Kreativitas bukan sejenis talenta yang tiba-tiba diberikan pada beberapa insan manusia yang beruntung. Asumsi itu salah besar.

Kreativitas merupakan kemampuan yang bisa dilatih. Amati, pikirkan dan terapkan. Hasilnya bisa gagal atau berhasil. Sesederhana itu. Amati, pikir dan terapkan. Bukan perkara jenius atau tidak. Tapi lebih pada usaha yang terus-menerus.

Orang yang kreatif adalah mereka yang mampu keluar dari keterbatasan. Mereka mampu melampaui batas. Mereka menjadikan diri mereka sendiri tak terbatas.