Negara Terbelakang Karena Tak Ada PLTN?

Membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir memang membutuhkan penguasaan teknologi yang kompleks. Tidak semua negara di dunia ini mampu memiliki PLTN karena keterbatasan teknologi, biaya dan sumber daya manusia. Wajar kalau akhirnya PLTN didominasi oleh negara-negara maju.

Tak jarang pula ada negara yang mengoperasikan PLTN dengan mengadopsi teknologi nuklir yang dijual oleh suatu perusahaan multinasional atau negara lain. Tak serta-merta terjadi transfer teknologi. Yang ada malah adanya ketergantungan dengan penyedia teknologi nuklir tersebut.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir, seperti yang dilangsir dari Kompas, baru-baru ini mengatakan bahwa “Kalau tidak membangun PLTN, Indonesia jadi negara terbelakang.”

Benarkah Indonesia akan menjadi negara terbelakang hanya karena tidak memiliki PLTN?

Sepertinya tidak. Indonesia tidak akan menjadi negara terbelakang hanya karena tidak memiliki dan mengoperasikan PLTN. PLTN bukan satu-satunya kriteria sebuah negara menjadi negara maju atau terbelakang.

Indonesia akan benar-benar menjadi negara terbelakang bila tidak mengembangkan diversifikasi pembangkit listrik yang menggunakan sumber-sumber tenaga yang bisa diperbarui.

Negara-negara maju dan berkembang sudah menjajaki operasional sumber-sumber terbarukan seperti gelombang air, angin dan matahari. Penerapannya tidak hanya sebatas eksperimental. Namun sudah dalam tahap penerapan secara massal.

Sedangkan pengoperasian PLTN di banyak negara maju justru berkurang. Ada penolakan keras dari warga negaranya. Semisal Perancis dan Jepang. Meskipun adanya PLTN bisa memberikan suplai enerji yang melimpah dan relatif murah, PLTN membutuhkan tingkat operasional yang mutakhir dan disiplin.

Ingat bahwa Fukushima terjadi pada beberapa tahun yang lalu di Sendai, Jepang. PLTN bukan barang baru di negeri itu dan pekerja di Jepang terkenal sangat disiplin. Namun bencana alam tsunami telah memicu bencana yang lebih mengerikan yaitu bocornya reaktor PLTN. Pemerintah Jepang pun harus mengeluarkan dana yang sangat besar untuk mengatasi bencana radiasi.

Belum lagi harus ditekankan bahwa operasional PLTN membutuhkan pembuangan limbah radioaktif yang aman. Negara Amerika Serikat memiliki tempat pembuangan limbah di padang gurun yang dibangun dengan anggaran yang besar sehingga efek radiasinya bisa diminimalisasi.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah siap saat bencana alam mengakibatkan salah satu reaktor nuklir bocor? Bagaimana pula dengan tempat pembuangan limbah nuklir?

Bencana Sinabung dan Lapindo belum selesai hingga saat ini. Tak ada yang benar-benar mampu menanganinya. Bagaimana bila bencana nuklir yang skalanya lebih besar terjadi?

Lebih bijak bila Indonesia memanfaatkan sumber tenaga yang sudah tersedia secara melimpah di tanah air. Sembari menjajaki pemakaian sumber tenaga terbarukan secara serius. Dengan begitu, Indonesia menjadi negara maju dalam hal sumber tenaga tanpa harus tergantung dengan PLTN yang bisa menjadi malapetaka dengan skala yang sangat besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s