Cinta Menerbitkan Harapan

Saat kehidupan terasa begitu sulit dan harapan hidup memudar, sepercik cinta yang datang tak disangka-sangka mampu menumbuhkan kembali semangat hidup dua insan manusia.

Begitulah pesan yang saya cerna dari film Jepang berjudul My Rainy Days; yang dirilis tahun 2009. Dua pemainnya, Nozomi Sasaki dan Shosoku Tanihara, mampu menampilkan emosi yang kuat.

Frankly speaking, cinta membuat hidup lebih hidup; bahkan ketika seseorang tak merasa punya harapan hidup atau hanya tinggal menghitung rentang waktu yang pendek.

Mendadak jadi ingat lagunya Krisdayanti “Menghitung Hari”.

Father

Lagu yang khusus diperuntukkan pada “sosok bapak” ini membuat kilasan-kilasan memori mengenai bapak saya, yang kini sudah di surga, muncul dalam benak saya. Kangen. Itu yang saya rasakan.

Father, judul lagu yang dilantunkan oleh Chopsticks Brothers, memang dibuat untuk mengenang jasa dan peran mereka dalam hidup banyak orang. Uniknya, dan sepertinya nyata, ada banyak tembang untuk ibu. Namun tak banyak lagu yang khusus untuk bapak. Padahal keduanya, bapak dan ibu, menjadi jalan bagi insan manusia untuk terlahir dan menikmati kehidupan ini.

Catatan: lagu ini bikin saya speechless sembari sedikit berlinang air mata. Jadi ada baiknya sedia tisu sebelum memainkan video YouTube di atas.

Don’t Worry Be Happy

Saat sial melanda. Bad mood. Aral melintang. Kesusahan menghadang. Rasanya ingin menyerah. Menangis. Meratap.

Tapi mendingan mendengarkan saja lagu Don’t Worry Be Happy. Apalagi sambil ikut menyanyikannya. Boleh juga sambil menari-nari menggerakkan tubuh. Asyik, kan? Sah-sah saja kalau memutarnya sebanyak mungkin hingga perasaan menjadi lebih tenang dan happy.

Tak serta merta kesulitan menghilang. Cuma rasa sedih tak menyelesaikan masalah. Lebih baik menghadapinya dengan perasaan optimis. Badai sebesar apapun akan berlalu. Setuju? Sip!

Okay, don’t worry be happy… Hakuna Matata!

Air dan Doa

Sekian banyak orang percaya bahwa meminum air yang sudah didoakan manjur mengobati penyakit. Paling tidak menyehatkan bagi badan. Ada juga yang tak percaya sama sekali.

Kembali lagi ke masing-masing insan manusianya. Bila memang berpikir bahwa air yang sudah mendapat doa akan memberikan kebaikan bagi tubuh dan jiwa, minum saja secara rutin.

Beberapa penelitian menemukan bahwa air yang mendapat doa mengalami perubahan signifikan dalam kualitasnya. Sedangkan tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Asupan air yang berkualitas tentu membuat tubuh manusia menjadi lebih sehat.

Di saat yang sama, ada berbagai kepercayaan bahwa di tempat-tempat tertentu, yang menjadi tempat ziarah dan berdoa orang banyak, kualitas airnya sangat baik. Banyak yang meminumnya. Banyak juga peziarah yang bahkan membawa air pulang dalam wadah air untuk dibagikan kepada sanak-saudaranya. Konon berkhasiat. Manjur & bermanfaat.

Mungkin air dengan tambahan doa seperti ini lebih manjut ketimbang air dengan oksidasi, tambahan mineral, bonus perasa supaya ada rasanya dan entah zat-zat apa lagi yang biasanya diiklankan di berbagai media massa. Lebih murah dan praktis karena tiap air dengan doa bisa didoakan sendiri.

Yang jelas, percaya atau tidak, minum air itu merupakan kebutuhan tubuh. Sedangkan bila ditambahi dengan doa, jelas itu memenuhi kebutuhan jiwa. Sebagai bonusnya, minum air dengan doa tetap bisa mengatasi rasa haus dan dahaga.

Pasar dan Pemberdayaan Masyarakat

Pasar merupakan tempat untuk berinteraksi dan bertransaksi antar warga masyarakat. Ada pembeli dan penjual. Bisa juga penjual yang merangkap sebagai pembeli. Ada perputaran barang sekaligus perputaran uang.

Pasar menfasilitasi bagi masyarakat untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan membeli barang di sana. Di saat yang sama, pasar menjadi tempat yang membuat penjual mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan finansialnya. Intinya pasar memberdayakan masyarakat di sekitar pasar tersebut.

Semakin baik fungsi dan kondisi pasarnya, makin baik pula perputaran barang dan uang. Laris manis pasarnya, makin membaik perekonomian masyarakat setempat.

Oleh karena itu sangat penting bagi pemerintah daerah untuk membangun atau mengembangkan pasar yang ada di daerahnya. Tak selamanya pasar ada karena campur-tangan pemerintah. Banyak juga pasar-pasar yang muncul dengan sendirinya karena usaha swadaya masyarakat di suatu daerah. Tentu bila ada dukungan penuh dari pemerintah daerah, peningkatan kualitas dan kuantitas pasar-pasar akan menjadi lebih cepat dan tepat.

Berbeda dengan pusat perbelanjaan modern seperti halnya mall, jaringan supermarket dan grosir waralaba; pasar memberdayakan anggota masyarakatnya untuk melakukan kegiatan usaha. Entrepreneurship. Baik dalam skala kecil-kecilan, menengah hingga besar.

Banyak penjual yang omzet penjualannya kini tergolong besar di pasar dulunya berangkat dari penjual kecil-kecilan. Lambat-laun usahanya membesar. Boleh dibilang entry level untuk ‘bermain’ di pasar cukup terjangkau untuk masyarakat dengan ekonomi yang pas-pasan.

Tak semua penjual di pasar bisa langgeng. Sangat banyak yang gagal dalam mengelola usahanya sehingga gulung tikar. Tutup karena bangkrut. Mungkin karena kurang pintar mencari pelanggan. Kurang rajin. Tidak jeli melihat peluang.

Namun tak hanya faktor internal saja yang membuat penjual menutup kiosnya di pasar. Ada faktor eksternal. Kondisi ekonomi yang tidak kondusif sehingga mematikan kegiatan pasar. Pusat perbelanjaan jaringan yang tumbuh dengan pesat dan didukung oleh pendanaan yang kuat. Pun begitu ada juga kondisi pasar yang tak lagi terawat sehingga mengurangi minat pembeli untuk mendatangi.

Hebatnya para penjual di pasar selalu saja tetap menjalankan usahanya sejelek apapun kondisinya. Dalam kondisi buruk atau kondusif, para penjual tetap melayani kebutuhan pembeli. Transaksi jual beli barang dan pertukaran uang tetap terjadi sehingga ekonomi tetap bergerak.

Pasar memang dari dulu memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Makin baik pasarnya, makin baik pula tingkat perekonomian di daerah tersebut.

Pertanyaan besar yang masih tersisa. Apakah pemerintah daerah sudah benar-benar maksimal dalam mendukung perkembangan pasar?