Pindah Profesi dan Pindah Lokasi

Setiap insan manusia memiliki hak untuk berganti profesi. Begitu juga untuk merelokasi kehidupannya di kota, pulau hingga negara yang lain. Alasan untuk berpindah profesi dan lokasi biasanya berkorelasi dengan peningkatan kualitas kehidupan. Mendapatkan pekerjaan atau pendapatan yang berbeda dari biasanya di tempat rantau yang lebih menjanjikan.

Sayangnya tak semua individu berani, mampu dan mau untuk berpindah profesi atau berpindah lokasi. Mungkin ada zona nyaman yang membuat seorang individu tetap menggeluti profesi yang sama di kota yang sama selama bertahun-tahun atau hingga masa pensiun.

Apalagi bila usia seorang insan manusia sudah mencapai di atas kepala tiga yang membuatnya tak merasa aman dan nyaman untuk berpindah profesi dan berpindah lokasi. Cari amannya. Mungkin begitu pola pikirnya. Belum lagi bila seseorang tersebut menghidupi banyak jiwa dan menjadi tulang punggung satu-satunya. Apa daya?

Padahal dalam hidup ini bila seseorang sudah memiliki niat, semangat dan mau bekerja dengan giat bisa jadi pindah profesi dan pindah lokasi memberikannya pengalaman yang lebih bernilai, kesempatan yang lebih baik dan pendapatan yang jauh lebih besar.

Tapi tak semua orang merasa mampu dan mau untuk mengambil keputusan besar dalam hidupnya untuk pindah profesi dan pindah lokasi. Ada ketakutan dan kecemasan yang lebih tinggi dari rasa optimis dan keberanian. Apa boleh buat?

Toh masing-masing insan manusia memiliki hak yang sama untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dan lebih layak. Terserah apakah hak tersebut mau dipakai atau tidak.

Oleh karena itu wajar bila hanya sedikit orang yang bisa sukses mencapai impiannya karena mereka berani untuk pindah profesi dan pindah lokasi. Gagal merupakan bagian dari kehidupan. Namun sukses juga bagian dari kehidupan mereka; yang umumnya tak berhasil dicapai oleh orang-orang yang nyaman dengan comfort zone meskipun stagnan dengan profesi dan lokasi yang itu-itu saja.

Mercon dan Bulan Puasa

Sungguh tak habis pikir mengapa suara bising dan mengagetkan mercon selalu saja menghiasi hari-hari di Bulan Puasa. Mengapa?

Apakah mercon memang ada karena konspirasi antara setan dan manusia (terutama anak-anak kecil) yang mudah tergoda untuk menguji kesabaran mereka yang menjalankan ibadah puasa? Mungkin setiap kali ada orang yang berpuasa akhirnya mengumpat ketika ada suara letusan mercon berarti satu poin kemenangan untuk para syaiton? Mungkin saja.

Mungkin ada teori lainnya. Mercon ada karena anak-anak tak memiliki kegiatan lain setelah mereka mengudap makanan saat Sahur. Berbeda dengan saat Buka di sore hari yang disambung dengan kegiatan Tarawih di berbagai Masjid sehingga tak ada kesempatan untuk membunyikan mercon yang selalu sukses bikin kaget.

Bagaimana pula bila para penjual dan pengedar mercon memang sengaja membuat momen puasa untuk menggenjot omzet penjualan mercon? Kurang untung bila hanya bisa jualan mercon saat pergantian tahun tiba. Lebih untung bila mercon juga bisa dijual ketika bulan puasa tiba; yang mana berlangsung selama satu bulan dan tak hanya sehari dua. Coba saja tanyakan para penjual mercon. Pastilah omzet mereka jauh berlipat ketika bulan puasa ketimbang saat tahun baru. Tak percaya?

Entah apa korelasi sebenarnya dari mercon dan bulan puasa. Yang pasti bulan puasa identik dengan suara-suara keras yang terdengar di sana-sini karena ada saja yang menyalakan mercon. Sangat disayangkan, bukan? Bulan puasa harusnya hanya identik dengan suara dakwah yang mendamaikan hati. Bukan suara letusan mercon yang membahana dan terdengar tiba-tiba.

Penjual Makanan di Bulan Puasa

Ucapkan terima kasih pada mereka yang menyajikan makanan pada saat Bulan Puasa. Oleh karena penyedia makanan tersebut membantu orang-orang yang berpuasa untuk menjalankan ibadahnya dengan sempurna sekaligus tetap menyediakan makanan bagi yang tak berpuasa. Siapa saja mereka?

Ibu-ibu warung makan yang membuka warungnya pada dini hari untuk keperluan Sahur. Mbak dan mas yang menjual Takjil di saat mereka sama-sama harus menahan lapar dan haus sesaat sebelum Buka. Restoran yang harus mengubah jam operasionalnya dan kehilangan omzetnya untuk menghormati mereka yang berpuasa. Katering yang siap sedia melayani puluhan nasi bungkus dan nasi kotak untuk buka bersama. Tak lupa pula para penjual di pasar yang harus memastikan suplai berlebih selama Bulan Puasa dan saat Idul Fitri tiba.

Semua orang tadi berjibaku dengan ritme dan waktu yang tak biasanya. Menyiapkan makanan di siang hari supaya siap dinikmati di sore hari ketika waktu berbuka tiba. Pun melayani pembeli pada dini hari saat orang pada umumnya tidur nyenyak.

Tak bisa dipungkiri pula bahwa mereka yang menyediakan makanan, mau tak mau, rela atau tidak, untuk kehilangan keuntungan mereka selama lebih kurang satu bulan. Lebih lelah karena harus buka dua kali dalam sehari. Begitulah adanya. Beban kerja mereka pada Bulan Puasa lebih berat ditambah dengan kenyataan bahwa para penyedia makanan turut menjalan ibadah puasa; meski harus mengolah makanan di saat yang sama.

Ucapan terima kasih layak diberikan kepada para penyedia makanan. Mereka sudah membantu sekian banyak orang yang berpuasa dan yang tak berpuasa untuk tetap bisa makan sesuai kebutuhan setiap harinya.

Kisah Berbeda Setiap Individu

Saya selalu merasa heran ketika ada orang-orang yang merasa bahwa lini masa atau kisah hidup semua orang harus sama. Bila ada orang yang berbeda jalan hidupnya lalu dianggap ‘aneh’ atau ‘tidak biasa’. Mungkin orang-orang tersebut memiliki keharusan untuk hidup sesuai ‘sebuah buku panduan hidup’ yang sama. Bila tak sama dengan apa yang sudah digariskan oleh buku tersebut maka seseorang dianggap gagal atau cacat.

Buku panduan hidup kebanyakan orang tersebut sekira berisi fase hidup seperti berikut. Bayi lahir, belajar di sekolah dengan baik hingga lulus kuliah, bekerja di tempat yang stabil (entah suka atau tidak dengan pekerjaan mereka), menikah dan beranak-pinak. Kemudian anak-anak besar dan menikah. Tua dengan uang pensiunan sembari menanti datangnya maut di akhir kehidupan.

Membosankan? Mungkin ya. Mungkin tidak. Tidak ada yang salah dengan panduan tersebut. Hanya saja tidak semua orang memiliki kisah yang sama dalam kenyataan hidup. Justru seringkali individu dengan cerita yang tidak seperti biasanya malah bisa jadi dianggap luar biasa. Atau malah aneh bin ajaib. Tergantung perspektif masing-masing.

Seperti apa sih kehidupan dengan garis hidup yang lain dari biasanya? Intinya kisah hidup yang berbeda dari ‘buku panduan hidup’ kebanyakan orang.

Taruh saja beberapa contoh kehidupan yang selalu dianggap unik dan berbeda di bawah ini.

  • Seseorang yang berkeinginan menjadi seorang misionaris demi misi penyebaran agama tinggal di daerah-daerah terpencil.
  • Individu yang memiliki kecintaan dengan alam dan memanfaatkan hidupnya untuk menjelajah berbagai gunung atau mengarungi beberapa samudera.
  • Pengusaha melewatkan sebagian besar waktunya untuk membangun kerajaan bisnisnya.
  • Petani yang memang cinta dengan sawahnya dan tak merasa perlu memiliki pendidikan formal tetapi memiliki kearifan lokal dalam mengelola tanamannya.
  • Seorang insan seni dengan kemampuan artistik (pemusik, perupa, pelukis) yang mendedikasikan hidupnya untuk karya seninya meskipun tak memiliki pendapatan reguler.
  • Atlet yang melatih kebugaran tubuh dan kemampuan motoriknya untuk menjadi yang terunggul dalam bidang olahraga yang digelutinya.

Individu-individu yang memiliki kisah hidup tak biasa memiliki kerinduan dan keinginan untuk mengalami jalan kehidupan yang ‘normal’. Hanya saja untuk mencapai misi hidup mereka atau memang karena perspektif hidup yang berbeda; individu-individu unik tersebut memilih untuk mengalami kisah hidup yang berbeda.

Pertanyaan yang mengemuka muncul. Mengapa harus memiliki kisah hidup yang berbeda?

Jawabnya sederhana. Untuk mendapatkan hasil yang berbeda tentu seorang individu haruslah melakukan hal-hal yang berbeda. Sungguh aneh bila menginginkan sesuatu yang berbeda dengan cara yang sama. Tak masuk akal tentunya.

Uniknya, yang membuat saya lebih heran lagi, orang-orang dengan garis hidup sesuai kebanyakan orang (yang terkesan memakai buku panduan hidup yang sama) iri atau terkesan dengan kisah kehidupan yang luar biasa (atau minimal tidak biasa) yang dilakukan individu-individu unik. Aneh, bukan? Tapi benar-benar nyata.

Tidak ada yang salah dengan kisah hidup yang relatif sama dengan orang kebanyakan. Tidak berarti individu yang memilih kisah hidup yang tidak seperti biasanya lalu benar dalam hidupnya. Tidak ada yang salah atau benar.

Yang ada adalah kisah hidup yang beragam. Masing-masing insan manusia diberi kuasa oleh Sang Pencipta untuk memutuskan pilihan hidupnya masing-masing. Oleh karena itu wajar bila dalam kehidupan di bawah langit dan planet yang sama ini, kisah hidup manusia pun beragam. Tak sama. Tak perlu sama. Dengan begitu ada begitu banyak warna kehidupan. Untuk dinikmati. Untuk menginspirasi sesama manusia. Untuk bersama-sama mencapai kebahagiaan dan misi hidupnya.

Terlintas tiba-tiba mengapa pelangi begitu indah. Indah karena pelangi memiliki banyak warna yang beragam. Kisah hidup pun hendaknya seperti pelangi yang memiliki kisah yang beragam.

Kompetisi Menjadi Yang Tertinggi

Tak dipungkiri gedung-gedung pencakar langit memang membuat banyak orang terkagum-kagum. Dengan teknologi rancang bangun dan infrastruktur yang lebih modern, sebuah gedung bisa dibangun secara vertikal jauh melebihi tinggi gedung-gedung yang didirikan beberapa dekade yang lalu.

Hebatnya pula skyscraper menjadi suatu gengsi tersendiri. Makin tinggi makin bergengsi. Harga jual atau sewa per lantainya pun makin menjulang tinggi sebanding dengan besaran kekuatan finansial yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan sebuah gedung pencakar langit. Fakta membuktikan bahwa ada saja perusahaan yang mampu untuk menyewa atau membeli ruang-ruang yang dijual di gedung-gedung yang jangkung menjulang dengan indahnya.

Hanya saja selalu ada rasa angkuh, ambisi yang keterlaluan dan gengsi yang tak mungkin diredam dalam pembangunan gedung pencakar langit. Bila sekarang ada gedung 50 lantai, besok boleh jadi akan ada yang membangun 75 lantai. Beberapa saat kemudian ada yang berambisi untuk mendirikan gedung dengan 100 lantai. Dan seterusnya. Seakan-akan tantangan menjadi lebih tinggi tak mengenal batasan. Hanya langit yang menjadi batasannya.

Fakta sudah membuktikan bahwa pemilik gedung-gedung tinggi menjulang tersebut ternyata banyak yang gulung tikar justru ketika sudah berhasil membangun gedung impian mereka. Bisa dimaklumi karena proses pembangunan gedung pencakar langit memakan biaya yang tak sedikit. Justru seringkali biayanya membesar berkali lipat. Bila tak berhasil menutup biaya tersebut alhasil proyek pembangunan pun mangkrak. Hingga akhirnya menjadi bumerang bagi perusahaan yang berusaha membangun gedung pencakar tersebut. Ironis, bukan?

Sejarah berulang. Begitu kata orang bijak. Meskipun banyak perusahaan multinasional yang terjatuh karena terlalu ambisius memiliki gedung pencakar yang tersohor di seantero dunia, tetap saja ada banyak perusahaan yang ingin membangun gedung yang jauh lebih tinggi dari gedung-gedung pencakar langit yang sudah ada. Mari kita lihat ke tahun-tahun yang akan datang perusahaan mana saja yang akan jatuh justru ketika ingin membangun skyscraper kebanggaan mereka.

Bagi orang kebanyakan, tak peduli nasib para pembangun gedung pencakar langit. Nikmati saja pemandangan memukau yang ditawarkan oleh dek observasi yang bisa dimasuki dengan membayar tiket di gedung-gedung tinggi menjulang tersebut. Makin tinggi dek observasinya, makin ’nikmat’ perasaan ‘high yang bisa dialami. Asyik, bukan?

Catatan. Artikel ini ditulis setelah saya menemukan situs Future Skyscrapers yang memaparkan tentang gedung-gedung tinggi yang menjulang hingga menembus awan. Saya pribadi memiliki keinginan untuk bisa mengunjungi dek observasi di gedung-gedung pencakar langit yang ada di dunia ini. Untuk saat ini hanya Petronas Twin Towers di Kuala Lumpur yang pernah saya kunjungi.

Trailer Film Everest

Everest memang mengagumkan. Menjulang tinggi di Benua Asia. Meskipun medannya sangat berat, anehnya selalu ada orang-orang yang tertarik untuk mencoba menaklukkannya. Yang nyatanya malah ada sekian pendaki yang akhirnya takluk dengan gunung tertinggi yang terletak di permukaan Planet Bumi.

Baru saja Everest menjadi topik berita saat terjadi longsoran salju yang menewaskan banyak pendaki. Penyebab longsoran tersebut karena gempa berkekuatan besar yang terjadi di Nepal; negara yang berada di kaki gunung berukuran masif ini.

Dan ada sekian banyak film, baik dokumenter atau hiburan, yang menampilkan Everest. Salah satu film yang terbaru adalah film dengan judul gunung ini yaitu Everest. Dengan begitu akan ada banyak orang yang paling tidak bisa mengagumi Everest dari layar kaca; ketimbang langsung mendatangi gunung yang jelas tidak ramah untuk orang-orang kebanyakan.

Lagu Kritik Untuk Kota Yogya

Kota Yogya merupakan kota yang dikenal sebagai kota budaya. Ada sekian banyak budayawan lahir, tinggal, besar di kota ini. Para budayawan terkenal kritis terhadap berbagai segi kehidupan.

Kritik pun disampaikan oleh budayawan dengan apik dan tetap santun. Salah satunya melalui lagu yang berisi kritikan. Seperti lagu berjudul Jogja (harus) Tetaplah Sederhana di atas. Iramanya sederhana, liriknya jujur apa adanya dan video musiknya menampilkan wajah kota yang sudah mulai berubah; persis seperti apa yang disampaikan di liriknya.

Semoga kritik seperti ini didengar oleh pemangku dan pejabat Kota Yogya. Tindakan untuk memperbaiki dilakukan sehingga kota budaya, kota pelajar dan kota yang nyaman ini tetap menjadi kota yang dinamis namun tetap sederhana.