Kompetisi Menjadi Yang Tertinggi

Tak dipungkiri gedung-gedung pencakar langit memang membuat banyak orang terkagum-kagum. Dengan teknologi rancang bangun dan infrastruktur yang lebih modern, sebuah gedung bisa dibangun secara vertikal jauh melebihi tinggi gedung-gedung yang didirikan beberapa dekade yang lalu.

Hebatnya pula skyscraper menjadi suatu gengsi tersendiri. Makin tinggi makin bergengsi. Harga jual atau sewa per lantainya pun makin menjulang tinggi sebanding dengan besaran kekuatan finansial yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan sebuah gedung pencakar langit. Fakta membuktikan bahwa ada saja perusahaan yang mampu untuk menyewa atau membeli ruang-ruang yang dijual di gedung-gedung yang jangkung menjulang dengan indahnya.

Hanya saja selalu ada rasa angkuh, ambisi yang keterlaluan dan gengsi yang tak mungkin diredam dalam pembangunan gedung pencakar langit. Bila sekarang ada gedung 50 lantai, besok boleh jadi akan ada yang membangun 75 lantai. Beberapa saat kemudian ada yang berambisi untuk mendirikan gedung dengan 100 lantai. Dan seterusnya. Seakan-akan tantangan menjadi lebih tinggi tak mengenal batasan. Hanya langit yang menjadi batasannya.

Fakta sudah membuktikan bahwa pemilik gedung-gedung tinggi menjulang tersebut ternyata banyak yang gulung tikar justru ketika sudah berhasil membangun gedung impian mereka. Bisa dimaklumi karena proses pembangunan gedung pencakar langit memakan biaya yang tak sedikit. Justru seringkali biayanya membesar berkali lipat. Bila tak berhasil menutup biaya tersebut alhasil proyek pembangunan pun mangkrak. Hingga akhirnya menjadi bumerang bagi perusahaan yang berusaha membangun gedung pencakar tersebut. Ironis, bukan?

Sejarah berulang. Begitu kata orang bijak. Meskipun banyak perusahaan multinasional yang terjatuh karena terlalu ambisius memiliki gedung pencakar yang tersohor di seantero dunia, tetap saja ada banyak perusahaan yang ingin membangun gedung yang jauh lebih tinggi dari gedung-gedung pencakar langit yang sudah ada. Mari kita lihat ke tahun-tahun yang akan datang perusahaan mana saja yang akan jatuh justru ketika ingin membangun skyscraper kebanggaan mereka.

Bagi orang kebanyakan, tak peduli nasib para pembangun gedung pencakar langit. Nikmati saja pemandangan memukau yang ditawarkan oleh dek observasi yang bisa dimasuki dengan membayar tiket di gedung-gedung tinggi menjulang tersebut. Makin tinggi dek observasinya, makin ’nikmat’ perasaan ‘high yang bisa dialami. Asyik, bukan?

Catatan. Artikel ini ditulis setelah saya menemukan situs Future Skyscrapers yang memaparkan tentang gedung-gedung tinggi yang menjulang hingga menembus awan. Saya pribadi memiliki keinginan untuk bisa mengunjungi dek observasi di gedung-gedung pencakar langit yang ada di dunia ini. Untuk saat ini hanya Petronas Twin Towers di Kuala Lumpur yang pernah saya kunjungi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s