All You Can Eat

Gila. Banyak orang berpikir bahwa rumah makan dengan layanan all you can eat memang benar-benar tak waras. Banyak yang mempertanyakan ‘apakah semua makanan di situ boleh dimakan?’. Bagi yang belum pernah mencobanya pastilah penasaran.

Faktanya memang semua makanan di tempat makan seperti itu boleh dimakan sepuasnya di tempat. Semampu volume lambung masing-masing orang. Tentu makanan di sana harus dinikmati langsung dan jelas tak boleh dibawa pulang. Prosedurnya sederhana. Pengunjung restoran cukup mencari tempat duduk, makan sepuasnya dan membayar setelah kenyang.

Pertanyaan mendasar muncul. Apa restoran model prasmanan tanpa batas seperti itu bisa untung? Apa tidak rugi? Nyatanya restoran seperti itu justru menangguk untung besar. Dengan hitung-hitungan yang sederhana, sebanyak-banyaknya makan pastilah setiap manusia punya batasannya. Dan tak semua pengunjung memiliki ukuran lambung yang besar dan nafsu makan yang tinggi.

Perlu diperhatikan pula bahwa pengunjung tidak membayar makanan sebanyak yang dimakan tetapi biaya makan yang flat atau pukul rata; yang umumnya lebih tinggi ketimbang harga makanan a la carte atau model satuan. Oleh karena itu restoran seperti ini tidak bakal rugi bila pengunjungnya banyak dan makanannya enak-enak.

Lalu mengapa rumah makan all you can eat ini laris manis?

Keserakahan manusia. Itu jawabnya. Sesederhana itu.

Pada dasarnya manusia memang sulit dipuaskan. Salah satu nafsu yang paling sulit dikendalikan adalah nafsu makan. Padahal secara alami, nafsu makan itu menjadi bagian dari upaya manusia bertahan hidup,

Pada jaman dulu ketika manusia masih hidup di gua dan mengumpulkan makanan dari hutan, manusia makan untuk mencukupi kebutuhan hidup yang paling krusial yaitu enerji untuk bergerak, bertumbuh dan berkembangbiak.

Namun makanan menjadi berlimpah ketika manusia mengenal cara bercocok-tanam dan beternak. Dengan kemampuan mendistribusikan bahan makanan, jumlah persediaan makanan pun makin berlimpah jumlahnya dan bervariasi makanannya. Manusia makan tak sekedar supaya tak lapar. Manusia makan untuk bersosialiasi, memuaskan cita rasa dan rekreasi. Saat itulah nafsu makan menjadi-jadi. More supply generates more demand.

Intinya manusia makan dengan porsi dan variasi yang jauh lebih besar daripada manusia yang hidup ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Nafsu makan bisa dimanjakan dengan surplus makanan.

Meskipun ada begitu banyak tempat yang penduduknya sakit dan meninggal karena kelaparan, tetap saja ada banyak wilayah yang memiliki kelebihan sumber makanan karena majunya tingkat ekonomi wilayah tersebut. Jadi tidak berarti di dunia ini semua orang bisa mendapatkan makanan yang berlimpah.

Kembali lagi ke all you can eat. Keserakahan manusia yang dipicu oleh nafsu makan berlebih membuat banyak orang berkunjung ke restoran prasmanan tanpa batas. Malah banyak pengunjung yang sengaja untuk tidak makan seharian supaya bisa makan dengan optimal ketika menyerbu buffet dengan aneka makanan yang bebas diambil tersebut.

Bagi pengunjung yang bisa makan secara bijak, mengudap makanan di restoran all you can eat memberikan pengalaman cita rasa yang menyenangkan. Cukup mencicip dari sekian banyak variasi makanan. Tak perlu kekenyangan. Secukupnya. Yang penting bisa mencoba banyak rasa.

Sayangnya kebanyakan pengunjung memang sengaja makan sepuasnya. Sebanyak yang mereka bisa. Bahkan rasanya ‘rugi’ kalau tidak bisa makan banyak. Alhasil perut mereka pun terlalu sesak dijejali dengan jumlah makanan yang luar biasa banyak. Banyak yang merasa begah perutnya. Ada yang sakit perut. Malahan ada yang langsung muntah di toilet karena tubuh menolak makanan yang tak henti-hentinya dipaksakan masuk mulut. Jenis pengunjung seperti ini bisa digambarkan dengan satu kata. Kalap.

Apa boleh buat? Pemilik restoran pun paham dengan jenis-jenis pengunjung restorannya. Makin banyak yang kalap, makin laris restorannya. Pemikirannya sederhana. Makin kalap orangnya biasanya tak benar-benar peduli apakah makanan yang dikudapnya enak atau tidak enak. Yang penting makan seperti hungry ghost. Lagipula setelah makan banyak, taste bud di mulut menjadi tak peka lagi.

Sedangkan orang yang memiliki cita rasa tinggi umumnya menghindari datang ke restoran model prasmanan ini. Maklum karena mereka tahu bahwa kebanyakan rumah makan all you can eat jarang yang memiliki sajian yang istimewa. Rasa dari makanan yang disajikan cukup standar. Ada yang enak dan ada yang kurang enak. Tapi tidak ada yang benar-benar maknyus seperti restoran fine dining dengan model a la carte dan dimasak per makanan yang disajikan. Tidak dimasak secara masal.

Ada satu sisi di restoran all you can eat yang menyenangkan bagi banyak orang. Yaitu aktivitas mencari makanan yang diinginkan dari meja dan rak sajian. Tentunya sembari ‘berebutan’ dengan pengunjung lain. Ada greget tersendiri ketika berhasil ‘mengamankan’ sajian buruan mereka sebelum kehabisan diambil oleh kompetitor lainnya. Oleh karena itu wajar kalau para pengunjung hilir-mudik dari meja mereka ke meja sajian berkali-kali. Tak ada rasa malu karena semua pengunjung memang ‘berburu’ makanan berkali-kali. Makin besar nafsu makannya, makin agresif pula ‘berburunya’. Pokoknya seru.

Pengalaman ‘berburu’ seperti itu tentu tak bakalan didapatkan di tempat makan yang konvensional. Pengunjung datang, duduk dan makanan diantar ke meja makan oleh pelayan. Pasif. Hanya tangan dan mulut yang bergerak. Kurang seru.

Pertanyaan lain tentang restoran all you can eat muncul. Apakah pernah ada restoran seperti ini yang benar-benar kehabisan makanan?

Sepertinya tidak ada. Benar bahwa makanan yang dianggap paling enak pasti bakal habis dengan cepat. Namun tak semua hidangan yang disajikan rasanya benar-benar enak. Makanan yang kurang enak biasanya masih tersisa banyak. Terutama makanan utama seperti nasi atau bakmi atau makanan pendamping seperti sayuran dan buah. Beda dengan dessert yang umumnya diincar oleh pengunjung perempuan dan sajian daging yang disukai oleh pengunjung laki-laki.

Akhir kata, restoran all you can eat memang menyajikan beragam sajian dengan jumlah yang banyak. Namun sajian utama mereka adalah kesenangan ‘berburu’ makanan yang dilatarbelakangi oleh nafsu makan. Atau boleh dibilang dilandasi oleh keserakahan manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s