Status dan Nasib Hewan

Sudah cukup bosan membicarakan kemanusiaan, yang mana setiap insan manusia harus diperlakukan secara manusiawi. Mari kita diskusikan tentang status dan nasib hewan.

Seperti manusia, binatang memiliki status masing-masing. Ada hirarki binatang menurut manusia. Tidak percaya bahwa binatang memiliki status yang berbeda?

Di hutan, di udara atau di lautan tanpa adanya kehadiran manusia, hewan-hewan memiliki penggolongan status yang sederhana. Hewan pemangsa dan hewan yang dimangsa. Sederhana. Bahkan hewan pemangsa pun bisa jadi dimakan oleh binatang lainnya; baik yang lebih besar ukurannya atau lebih kecil namun banyak jumlahnya. Ada rantai makanan. Setiap hewan melakukan aktivitas berkembangbiak secara alami.

Namun hewan-hewan tersebut bisa berubah status ketika sudah ada campur tangan manusia. Ada hewan ternak dan hewan kesayangan. Ada binatang buas dan ada binatang hama. Pun ada binatang eksotik; yang kelihatan unik, biasanya berbahaya tetapi dipelihara. Bahkan ada binatang yang khusus untuk dipertarungkan antar mereka. Yang paling kasihan adalah binatang yang memiliki status sebagai binatang umpan dan makanan binatang lain.

Status masing-masing hewan berbanding lurus dengan nasib mereka.

Kalau jaman dulu binatang buas ditakuti dan dihindari, kini binatang buas dijadikan target binatang buruan dalam aktivitas hunting. Kalau berhasil ditangkap, langsung dibunuh dan disantap. Beberapa bagian tubuhnya bisa dijadikan tropi (kepalanya atau tanduknya) dan hiasan (seperti karpet bulu dan kulit harimau).

Sedangkan hewan ternak jelas mendapat perlakuan berbeda. Dibesarkan dengan sabar, diberi makan banyak dan diberi perawatan kesehatan sehingga ketika besar bisa dijual dan disembelih. Meskipun tak perlu berusaha bertahan hidup seperti di hutan, hewan ternak hidup bak di penjara. Menunggu beberapa waktu hingga badannya membesar lalu berakhirlah hidupnya di piring makan.

Lain cerita dengan binatang petarung. Entah itu ayam sabungan, kuda balap atau burung berkicau nasibnya kurang lebih sama. Bila binatang petarung tersebut memiliki kualitas yang sehat dan performa yang bagus pastilah akan dirawat dengan penuh kasih sayang. Mendapatkan asupan pangan yang terbaik. Perawatan kesehatan yang bisa jadi lebih mahal dari biaya perawatan manusia. Bahkan saking berharganya binatang tersebut maka akan mendapat keamanan berlapis supaya tak dicuri orang lain. Sayangnya ketika usia binatang tersebut sudah tua atau tak lagi bisa memperlihatkan kebolehan mereka, nasibnya pun sudah jelas yaitu dilego ke orang lain, diberikan atau malah dibuang tak jelas ke mana.

Mungkin lebih enak nasib binatang kesayangan. Anjing peliharaan, kucing rumah dan ikan-ikan di akuarium. Mereka tak perlu bertarung atau memperlihatkan performa terbaik mereka. Mereka hanya cukup hidup dengan kemauan mereka dan menurut dengan ‘tuan’ mereka yang memberikan kasih sayang, makanan dan tempat tinggal. Bila beruntung menemukan ‘tuan’ yang baik hati, hewan kesayangan bisa ‘naik status’ sebagai salah satu anggota keluarga manusia. Bisa makan di meja makan, tidur di tempat tidur pemiliknya dan diajak pergi ke mana-mana. Saat tutup usia, hewan kesayangan pun dikubur di pekarangan rumah. Nasib hewan kesayangan memang paling baik dari hewan dengan status lainnya.

Berbeda 360 derajat adalah binatang hama. Sebut saja seperti tikus, kecoa, nyamuk dan semut. Ketika kelihatan langsung segera dibasmi oleh manusia. Keberadaan mereka memang paling tak disukai di mana-mana. Nasib mereka memang sial karena ada puluhan cara yang ditemukan manusia untuk mengurangi populasi binatang hama. Baik racun tikus, zat pengusir kecoa, kapur semut dan semprotan nyamuk. Mungkin menyadari nasib mereka yang paling buruk, binatang dengan status hama ini mengembangkan kemampuan untuk beranakpinak dengan dahsyat. Boleh dibilang ‘dibunuh satu lahir seribu’. Tak ada habisnya meski dibantai berkali-kali oleh manusia.

Mungkin yang nasibnya cukup biasa-biasa saja adalah binatang liar yang hidup jauh dari eksistensi manusia. Mereka tak memiliki status buatan manusia yang membuat nasib mereka tergantung oleh kebaikan manusia. Tumbuh normal dengan lingkungan flora dan fauna sekitar. Binatang liar memiliki kontrol atas diri mereka sendiri. Lahir, tumbuh, berkembangbiak dan mati. Sesederhana itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s