5 Paragraf dan 500 Kata

Saya menggunakan blog ini sebagai tempat melakukan eksperimen menulis. Wahana pembelajaran untuk saya pribadi.

Dulu pernah saya memakai pendekatan untuk menulis sebuah postingan dengan aturan ‘5 paragraf’. Tujuan yang ingin dicapai adalah menulis dengan singkat dan jelas; tanpa menjadi terlalu panjang sehingga membuat proses membacanya menjadi suatu ‘siksaan’ tersendiri. Lagipula siapa yang akan betah membacanya bila artikelnya panjang-panjang.

Pun ada saat di mana saya suka menuliskan postingan yang pendek. Sangat pendek malah. Tak perlu sampai lima paragraf. Sesekali satu atau dua paragraf. Mungkin ditambahi sematan video dari YouTube atau gambar .jpg yang saya rasa menarik.

Namun akhir-akhir ini saya menantang diri saya sendiri untuk menuliskan artikel yang minimal mencapai ‘500 kata’. Seperti apa yang disarankan oleh para penulis-penulis modern bahwa melatih menuangkan kata hingga 500 kata bisa membuat kemampuan menulis menjadi lebih produktif. Dengan takaran 500 kata, tentu harus ada informasi atau nuansa kata yang harus ditambahkan pada suatu postingan. Tentu di saat yang sama harus tetap menjaga supaya tulisan tetap mengalir dengan baik antar paragraf dari awal hingga akhir.

Dan memang ada beda antara menulis dengan pendekatan 5 paragraf dengan 500 kata. Bisa juga kalau mau menggabungkan keduanya. Yaitu postingan dengan 500 kata yang dibagi dalam 5 paragraf. Hanya saja 1 paragraf yang memiliki 100 kata sepertinya cukup panjang. Lebih sedikit jumlah kata dalam sebuah paragraf tentu lebih manusiawi dan lebih mudah untuk dibaca.

Eksperimental menulis tentu tetap saya lakukan. Mungkin suatu saat nanti, saya akan menggunakan pendekatan yang lain lagi.

Kita lihat saja nanti…

Menonton Game di Internet

Sebagai orang yang jarang sekali bermain game — baik yang bisa dimainkan melalui ponsel pintar, konsol game atau arcade — saya tidak tahu apa sih senangnya bermain game dalam waktu yang lama dan relatif sering.

Sesekali memainkan game tentu bisa membuat pikiran menjadi rileks. Sekedar hiburan. Tak lebih dari itu.

Ada satu fenomena dalam dunia game yang lebih sulit saya pahami. Fenomena menonton permainan orang lain. Untuk apa? Mengapa tidak memainkannya sendiri?

Beberapa kali saya sering lihat di event-event game besar di mana para pemain yang mahir berkompetisi dalam memenangkan game. Selain layar monitor di mana para pemain pro dan amatir tersebut bermain, ada layar super besar yang mempertontonkan perkembangan game secara real-time. Banyak orang menonton dan mengikuti pertandingan tersebut hingga berakhirnya game. Untuk hal ini saya bisa maklum karena sepertinya menarik melihat permainan yang cepat dan taktis dari pemain-pemain yang memiliki kemampuan di atas rata-rata pemain biasa. Lumayan seru.

Tak berhenti di situ. Ternyata ada juga situs-situs yang khusus ditujukan untuk para pemain game untuk mempertontonkan permainan mereka kepada khalayak umum. Berbagai situs tersebut juga dikunjungi oleh para antusias game untuk menonton sesi permainan orang lain. Saya berasumsi pengunjung situs seperti itu pastilah orang yang gemar bermain game. Pas dan wajar kalau mereka berkunjung ke situs tersebut.

Dua situs yang cukup terkenal adalah http://www.twitch.tv dan https://gaming.youtube.com. Twitch TV merupakan pioner sebagai wahana untuk mempertontonkan dan menonton game. Sedangkan YouTube Gaming merupakan saluran YouTube terbaru sebagai jawaban Google atas meningkatnya permintaan saling tonton game.

Dua situs tersebut membuat saya jadi makin heran. Ternyata banyak juga orang yang menonton game bersama-sama. Untuk apa?

Saya mencoba berpikir apa alasannya mereka menonton game.

Pertama adalah kebutuhan untuk mendapatkan rasa seru dalam permainan tanpa harus memainkan game tersebut. Seperti laiknya melihat film aksi.

Kedua mungkin keinginan untuk mempelajari strategi bermain sehingga memungkinkan penontonnya — sesama pemain game — untuk meningkatkan kemampuan permainannya. Terutama mendapatkan petunjuk ketika permainannya menemui jalan buntu.

Ketiga adalah rasa ketertarikan kepada game-game yang baru tapi masih ragu untuk membelinya. Dengan menonton game tersebut terlebih dahulu bisa membuat calon pembeli game menjadi yakin apakah game tersebut benar-benar menarik atau tidak.

Keempat mungkin alasan yang klise. Yaitu menonton game hanya karena merasa bosan. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Membuang waktu saja.

Fenomena menonton game orang lain memang unik. Mungkin aktivitas seperti itu sudah ada sejak lama. Namun saat inilah menonton game menjadi makin populer. Game menjadi sebuah kebutuhan yaitu suatu bentuk dari hiburan. Bagian dari budaya dan kehidupan sebagian orang.

Menarik, bukan?

Tapi saya juga berandai-andai. Apabila semua waktu yang dihabiskan untuk bermain game dan menonton game dialokasikan untuk sesuatu yang lebih produktif, rasa-rasanya produktivitas — masing-masing orang dan secara kolektif — akan jauh bijak. Semisal untuk berbincang dengan orang lain. Bisa juga untuk melakukan aktivitas ekonomi atau malahan membantu sesama yang membutuhkan.

Dunia, atau minimal sekitar kita, akan menjadi lebih baik kualitasnya.

Tapi sekali lagi itu hanya opini saya yang bukan sebagai seorang pemain game. Just my two cents.

Terminal B Bandara Adisucipto

Baru sekali saya mengunjungi Terminal B di Bandara Adisucipto. Terminal ini memang baru. Baru saja diresmikan dan dioperasikan.

Terminal B diperuntukkan bagi penerbangan internasional. Sedangkan Terminal A — yang dulu hanya disebut sebagai terminal karena hanya ada satu terminal — melayani penerbangan domestik.

Sebelum sampai di Terminal B tersebut saya penasaran akan seperti apakah terminal baru tersebut. Saat sudah mencapai terminal yang berada di sebelah Barat dari terminal yang lama, saya langsung mengagumi terminal tersebut.

Kesan yang saya dapatkan adalah rapi dan bersih. Bisa jadi karena terminal tersebut baru diresmikan sehingga belum kotor. Tapi itu tak penting. Yang penting saat ini terminal tersebut kondisinya enak dipandang. Berbeda dengan Terminal A yang kesannya kumuh, tak teratur dan kotor.

Dulu saya selalu berpikir bahwa Terminal A tak lebih baik dibandingkan dengan stasiun kereta; meskipun masih lebih baik bila disandingkan dengan terminal bis kota.

Dengan Terminal B yang rapi dan bersih, wisatawan yang datang di Kota Yogyakarta bisa mendapatkan kesan positif bahwa kota ini memiliki bandara yang berbudaya. Wajar karena bandara merupakan pintu gerbang pertama para tamu dan penumpang asing dari luar negeri.

Desain Terminal B memang sistematis. Memudahkan penumpang untuk melakukan aktivitas perjalanan. Penataannya cukup memadai.

Terminal B memang tak akan pernah bisa menyaingi kualitas bandara-bandara internasional yang ada di kota metropolitan. Namun Terminal B bisa bersaing dengan kualitas bandara-bandara di kota yang berukuran sama dengan Yogyakarta.

Tentu terminal baru ini masih memerlukan beberapa perbaikan. Terminal ini akan jauh lebih baik bila memiliki tempat khusus untuk taksi sehingga penumpang bisa mendapatkan taksi dengan mudah. Tempat duduk juga harus ditambah sehingga tak banyak pengunjung yang duduk dan tidur-tiduran di lantai. Pun terminal ini akan menjadi lebih sejuk bila jumlah tanaman dan pohonnya ditambah sehingga bisa memberikan kesejukan; bukannya seperti sekarang di mana kesannya panas dan kering.

Boleh dibilang sebagai warga Yogya saya bangga dengan Terminal B di Bandara Adisucipto ini. Tapi lebih daripada itu, saya ingin sekali melakukan perjalanan dengan pesawat dari Terminal B dan kembali melanglang buana.

Terminal B memang bagus. Saya suka terminal yang baru ini.

Menikah Tak Harus Mewah

Baru saja saya mendapat cerita tentang kerabat yang memaksakan diri untuk menggelar pesta pernikahan meski keuangannya mepet.

Benar adanya bahwa seyogyanya perayaan penyatuan dua insan manusia menjadi sebuah keluarga layak untuk diselenggarakan dengan layak. Mengumpulkan anggota keluarga, tetangga dan sanak-saudara untuk menjadi saksi kebahagiaan.

Namun bukan berarti pernikahan harus dilakukan dengan menempuh resiko finansial yang tak perlu. Pernikahan bisa dilakukan di tempat ibadah saja bila kondisi keuangannya tak memungkinkan. Tak perlu sampai hutang kanan-kiri dan menjual aset keluarga demi terselenggaranya sebuah pesta yang ‘membanggakan’ dan ‘tak terlupakan’.

Malah saya pribadi termasuk orang yang mendukung pemikiran bahwa pernikahan harus ditunda bila kedua mempelai dan kedua keluarga betul-betul dalam kondisi ekonomi yang lemah. Pernikahan dua manusia yang belum siap secara finansial bisa berakhir suram. Cekcok karena kebutuhan yang tak mampu didukung penghasilan yang selalu kurang. Bahkan malah berakhir duka ketika cerai menjadi solusi ketika keluarga baru tersebut merasa terjebak di jalan buntu.

Saya masih ingat kisah tragis dari seseorang yang pernah saya kenal. Pernikahan diselenggarakan dengan meriah dan dengan biaya yang tak murah. Sayangnya pernikahan kandas di tengah jalan. Celakanya ternyata pernikahan tersebut dibiayai dengan meminjam uang. Perkawinan sudah berakhir dan masih juga menyisakan hutang yang masih belum ada akhirnya. Fenomena tersebut saya namakan saja dengan istilah ‘tragis finansial’.

Apalagi ketika kenyataan hidup jaman sekarang diwarnai dengan kondisi ekonomi yang masih belum optimal, Rupiah yang tertekan oleh mata uang asing dan prediksi laju ekonomi yang katanya susah maju; tak bijak rasanya bila menggunakan uang yang dimiliki untuk sebuah pesta pernikahan yang mewah. Kecuali bagi kalangan berduit yang memang tajir tentu sah-sah saja menggelar pernikahan mewah hingga disorot di media massa karena menghebohkan.

Selain itu pernikahan tak hanya berpusat pada perayaan perkawinan. Kehidupan pernikahan selanjutnya jelas lebih penting dan membutuhkan banyak biaya. Membeli rumah dengan KPR. Menambah peralatan dan perkakas rumah tangga. Membayar biaya rumah sakit untuk persalinan ibu dan bayinya. Membiayai ongkos sekolah anak-anak. Menyediakan tabungan ketika orang tua sakit.

Uang yang dipakai untuk pesta pernikahan yang mewah di masa kini lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan finansial di masa depan.

Coba kalau menikah saja harus hutang. Kehidupan berkeluarga menjadi lebih berat. Membayar hutang sekaligus membiayai beragam kebutuhan dalam rumah tangga.

Pernikahan tak seyogyanya bermewah-mewah seperti halnya pepatah ‘besar pasak daripada tiang’. Tentu tak juga minimalis dengan sekedar kawin siri yang praktis dan ekonomis.

Perayaan penyatuan dua insan manusia harus mengedepankan tiga hal penting. Pertama adalah kesiapan kedua mempelai untuk membangun biduk keluarga baru. Kemudian memastikan bahwa perkawinan harus terselenggara secara khidmat dan sakral. Yang terakhir tentunya harus bisa menyatukan kedua keluarga dan sanak-saudara yang hadir dalam momen istimewa tersebut.

Pernikahan tak perlu mewah bila memang tak ada dananya. Apalagi kalau sampai berdarah-darah dan berderai airmata karena harus berhutang kesana kemari demi sebuah seremonial.

Pembangunan Gedung DPR

Tak habis pikir mengapa para anggota DPR ingin sekali membangun gedung DPR yang baru.

Itu yang ada di benak saya ketika membaca sebuah berita yang dilangsir oleh Kontan. Pasti banyak pembaca lainnya yang memiliki pikiran yang sama.

Memangnya membangun gedung DPR yang baru tidak pakai banyak uang? Lagipula pembangunan gedung — yang konon termasuk proyek berukuran sangat besar — pastilah menggunakan uang rakyat. Uang rakyat tentunya harus dioptimalkan untuk memfasilitasi kepentingan rakyat banyak.

Sayangnya beberapa anggota DPR keblinger dan berpikir bahwa uang rakyat — yang kehidupannya terbebani oleh kondisi ekonomi yang masih belum stabil — bisa dipakai untuk menunjang fasilitas bagi para wakil rakyat. Duh!

Tentu saja gedung DPR yang sekarang boleh dibilang sudah tak lagi muda umurnya. Namun belum bisa dibilang akan runtuh atau rusak parah. Kondisinya masih baik-baik saja.

Di sisi lain, masih banyak Pekerjaan Rumah yang harus dijalankan oleh Pemerintahan Jokowi untuk mengadakan infrastruktur negara dan fasilitas publik untuk rakyat di daerah-daerah tertinggal dan pelosok. Uang rakyat yang dipegang pemerintahan sekarang dirasa dan nyatanya masih kurang untuk membiayai seluruh pembangunan tersebut.

Nah, lho?

Pemikiran sebagian anggota DPR jelas terbalik dan tidak masuk akal bila sebagian uang rakyat dipakai untuk membangun gedung DPR yang jelas tidak mendesak.

Belum lagi harus diingat bahwa negara kesatuan ini masih memiliki hutang yang menumpuk. Hutang-hutang negara itu bukan hutang baru oleh pemerintahan yang baru. Hutang yang menggunung dan besarannya fenomenal tersebut merupakan akumulasi hutang dari beberapa periode pemerintahan sebelumnya.

Ingat bahwa hutang harus dibayar suatu hari nanti saat jatuh tempo. Belum lagi mengingat bahwa hutang pastilah disertai oleh bunga. Saat pemerintah bisa melunasi hutang-hutangnya dengan tepat waktu dan cepat tentu bisa mengurangi beban warga negaranya; karena hutang negara dibayar melalui uang rakyat.

Besaran dana untuk membangun gedung DPR yang baru bisa dialokasikan untuk memperbaiki ribuan bangunan sekolah di kota-kota terluar yang kondisi fisiknya mengenaskan. Dengan pembangunan fasilitas pendidikan, Indonesia akan mendapatkan generasi-generasi penerus yang lebih cerdas dan produktif.

Beda ceritanya kalau uang rakyat digunakan untuk membangun gedung DPR yang baru. Bila sudah terbangun, tak ada jaminan bahwa para wakil rakyat akan bisa bekerja lebih keras dan lebih cerdas. Berbagai pemberitaan di surat kabar dan media elektronik menggambarkan bahwa DPR tak banyak bekerja untuk membantu percepatan pembangunan. Justru DPR terkesan menggunakan kekuatan politiknya untuk mengganjal gerak cepat dan gebrakan pemerintahan yang baru untuk memperbaiki kinerja pembangunan.

Kesimpulannya adalah tak ada perlunya membangun gedung DPR yang baru. Uang rakyat harus diprioritaskan untuk membangun fasilitas umum bagi warga negara. Bukan membangun fasilitas penunjang bagi wakil rakyat.

Setiap Rumah Punya Kisah

Tak hanya insan manusia yang memiliki cerita dalam kehidupannya di dunia ini. Rumah juga punya kisahnya sendiri.

Ada rumah yang memiliki kisah yang bahagia. Pun ada yang sebaliknya yaitu dirundung duka. Namun biasanya setiap rumah punya pasang surutnya. Kadang bahagia dan di waktu lain bisa jadi mendung menyelimuti.

Kisah masing-masing rumah berawal bukan dari saat bangunannya sudah berdiri dengan tegak. Kisahnya justru berawal dari gambaran yang ada sebelumnya. Baik dalam bentuk corat-coret mandor yang mendapat kepercayaan tuan rumah untuk membangunnya atau cetak biru yang digambar dengan rapi dan presisi oleh arsitektur.

Apakah kisah sebuah rumah berakhir setelah rumah dikosongkan dan dirubuhkan suatu hari nanti? Tak selalu seperti itu. Bisa jadi rumah yang sudah tak ada lagi bangunan fisiknya masih diingat oleh mereka yang pernah menghuni rumah itu. Apalagi kalau ada yang sempat mengabadikannya dalam bentuk potret atau gambar bergerak. Rumah tersebut masih ‘hidup’ dalam potongan memori.

Tapi laiknya bayi, ada rumah-rumah yang tak pernah ‘terlahirkan’. Pemiliknya urung menyelesaikan rumah karena kehabisan dana sehingga rumah setengah jadi dibiarkan terbengkalai. Developer terlanjur bangkrut dan masuk penjara ketika rumah-rumah yang sudah terbeli baru dimulai dibangun. Bahkan ada rumah yang roboh saat pembangunan karena dibangun asal-asalan oleh tukang bangunan yang ceroboh.

Namun ada rumah yang ‘mekar dan membesar’. Bangunan rumahnya pertama-tama masih kecil. Saat pemiliknya memilki rejeki yang lebih besar, bagian-bagian rumahnya pun ditambah. Baik secara horisontal maupun vertikal. Begitu ada peningkatan ekonomi, rumahnya didekorasi sehingga tampil lebih cantik. Malahan ada cerita tentang rumah yang ‘memakan’ rumah-rumah di sampingnya untuk pelebaran rumah.

Omong-omong tentang kisah sebuah rumah tak terlepas dari cerita manusia dan makhluk hidup yang menempatinya. Termasuk juga makhluk yang tak kasat mata yang diyakini juga turut tinggal bersama.

Ada banyak kisah tentang rumah. Atau lebih tepatnya lagi kisah dari banyak rumah. Saya jadi ingin menuliskan kisah beberapa rumah di blog ini. Tak sabar untuk menceritakannya di sini.

Setiap rumah punya kisah.

Bagaimana dengan rumah yang sedang Anda tempati saat ini? Pasti juga memiliki kisahnya tersendiri. Semoga kisah rumah yang bahagia.

Setiap Rumah Punya Kisah

Tak hanya insan manusia yang memiliki cerita dalam kehidupannya di dunia ini. Rumah juga punya kisahnya sendiri.

Ada rumah yang memiliki kisah yang bahagia. Pun ada yang sebaliknya yaitu dirundung duka. Namun biasanya setiap rumah punya pasang surutnya. Kadang bahagia dan di waktu lain bisa jadi mendung menyelimuti.

Kisah masing-masing rumah berawal bukan dari saat bangunannya sudah berdiri dengan tegak. Kisahnya justru berawal dari gambaran yang ada sebelumnya. Baik dalam bentuk corat-coret mandor yang mendapat kepercayaan tuan rumah untuk membangunnya atau cetak biru yang digambar dengan rapi dan presisi oleh arsitektur.

Apakah kisah sebuah rumah berakhir setelah rumah dikosongkan dan dirubuhkan suatu hari nanti? Tak selalu seperti itu. Bisa jadi rumah yang sudah tak ada lagi bangunan fisiknya masih diingat oleh mereka yang pernah menghuni rumah itu. Apalagi kalau ada yang sempat mengabadikannya dalam bentuk potret atau gambar bergerak. Rumah tersebut masih ‘hidup’ dalam potongan memori.

Tapi laiknya bayi, ada rumah-rumah yang tak pernah ‘terlahirkan’. Pemiliknya urung menyelesaikan rumah karena kehabisan dana sehingga rumah setengah jadi dibiarkan terbengkalai. Developer terlanjur bangkrut dan masuk penjara ketika rumah-rumah yang sudah terbeli baru dimulai dibangun. Bahkan ada rumah yang roboh saat pembangunan karena dibangun asal-asalan oleh tukang bangunan yang ceroboh.

Namun ada rumah yang ‘mekar dan membesar’. Bangunan rumahnya pertama-tama masih kecil. Saat pemiliknya memilki rejeki yang lebih besar, bagian-bagian rumahnya pun ditambah. Baik secara horisontal maupun vertikal. Begitu ada peningkatan ekonomi, rumahnya didekorasi sehingga tampil lebih cantik. Malahan ada cerita tentang rumah yang ‘memakan’ rumah-rumah di sampingnya untuk pelebaran rumah.

Omong-omong tentang kisah sebuah rumah tak terlepas dari cerita manusia dan makhluk hidup yang menempatinya. Termasuk juga makhluk yang tak kasat mata yang diyakini juga turut tinggal bersama.

Ada banyak kisah tentang rumah. Atau lebih tepatnya lagi kisah dari banyak rumah. Saya jadi ingin menuliskan kisah beberapa rumah di blog ini. Tak sabar untuk menceritakannya di sini.

Setiap rumah punya kisah.

Bagaimana dengan rumah yang sedang Anda tempati saat ini? Pasti juga memiliki kisahnya tersendiri. Semoga kisah rumah yang bahagia.