Menikah Tak Harus Mewah

Baru saja saya mendapat cerita tentang kerabat yang memaksakan diri untuk menggelar pesta pernikahan meski keuangannya mepet.

Benar adanya bahwa seyogyanya perayaan penyatuan dua insan manusia menjadi sebuah keluarga layak untuk diselenggarakan dengan layak. Mengumpulkan anggota keluarga, tetangga dan sanak-saudara untuk menjadi saksi kebahagiaan.

Namun bukan berarti pernikahan harus dilakukan dengan menempuh resiko finansial yang tak perlu. Pernikahan bisa dilakukan di tempat ibadah saja bila kondisi keuangannya tak memungkinkan. Tak perlu sampai hutang kanan-kiri dan menjual aset keluarga demi terselenggaranya sebuah pesta yang ‘membanggakan’ dan ‘tak terlupakan’.

Malah saya pribadi termasuk orang yang mendukung pemikiran bahwa pernikahan harus ditunda bila kedua mempelai dan kedua keluarga betul-betul dalam kondisi ekonomi yang lemah. Pernikahan dua manusia yang belum siap secara finansial bisa berakhir suram. Cekcok karena kebutuhan yang tak mampu didukung penghasilan yang selalu kurang. Bahkan malah berakhir duka ketika cerai menjadi solusi ketika keluarga baru tersebut merasa terjebak di jalan buntu.

Saya masih ingat kisah tragis dari seseorang yang pernah saya kenal. Pernikahan diselenggarakan dengan meriah dan dengan biaya yang tak murah. Sayangnya pernikahan kandas di tengah jalan. Celakanya ternyata pernikahan tersebut dibiayai dengan meminjam uang. Perkawinan sudah berakhir dan masih juga menyisakan hutang yang masih belum ada akhirnya. Fenomena tersebut saya namakan saja dengan istilah ‘tragis finansial’.

Apalagi ketika kenyataan hidup jaman sekarang diwarnai dengan kondisi ekonomi yang masih belum optimal, Rupiah yang tertekan oleh mata uang asing dan prediksi laju ekonomi yang katanya susah maju; tak bijak rasanya bila menggunakan uang yang dimiliki untuk sebuah pesta pernikahan yang mewah. Kecuali bagi kalangan berduit yang memang tajir tentu sah-sah saja menggelar pernikahan mewah hingga disorot di media massa karena menghebohkan.

Selain itu pernikahan tak hanya berpusat pada perayaan perkawinan. Kehidupan pernikahan selanjutnya jelas lebih penting dan membutuhkan banyak biaya. Membeli rumah dengan KPR. Menambah peralatan dan perkakas rumah tangga. Membayar biaya rumah sakit untuk persalinan ibu dan bayinya. Membiayai ongkos sekolah anak-anak. Menyediakan tabungan ketika orang tua sakit.

Uang yang dipakai untuk pesta pernikahan yang mewah di masa kini lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan finansial di masa depan.

Coba kalau menikah saja harus hutang. Kehidupan berkeluarga menjadi lebih berat. Membayar hutang sekaligus membiayai beragam kebutuhan dalam rumah tangga.

Pernikahan tak seyogyanya bermewah-mewah seperti halnya pepatah ‘besar pasak daripada tiang’. Tentu tak juga minimalis dengan sekedar kawin siri yang praktis dan ekonomis.

Perayaan penyatuan dua insan manusia harus mengedepankan tiga hal penting. Pertama adalah kesiapan kedua mempelai untuk membangun biduk keluarga baru. Kemudian memastikan bahwa perkawinan harus terselenggara secara khidmat dan sakral. Yang terakhir tentunya harus bisa menyatukan kedua keluarga dan sanak-saudara yang hadir dalam momen istimewa tersebut.

Pernikahan tak perlu mewah bila memang tak ada dananya. Apalagi kalau sampai berdarah-darah dan berderai airmata karena harus berhutang kesana kemari demi sebuah seremonial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s