Pembangunan Gedung DPR

Tak habis pikir mengapa para anggota DPR ingin sekali membangun gedung DPR yang baru.

Itu yang ada di benak saya ketika membaca sebuah berita yang dilangsir oleh Kontan. Pasti banyak pembaca lainnya yang memiliki pikiran yang sama.

Memangnya membangun gedung DPR yang baru tidak pakai banyak uang? Lagipula pembangunan gedung — yang konon termasuk proyek berukuran sangat besar — pastilah menggunakan uang rakyat. Uang rakyat tentunya harus dioptimalkan untuk memfasilitasi kepentingan rakyat banyak.

Sayangnya beberapa anggota DPR keblinger dan berpikir bahwa uang rakyat — yang kehidupannya terbebani oleh kondisi ekonomi yang masih belum stabil — bisa dipakai untuk menunjang fasilitas bagi para wakil rakyat. Duh!

Tentu saja gedung DPR yang sekarang boleh dibilang sudah tak lagi muda umurnya. Namun belum bisa dibilang akan runtuh atau rusak parah. Kondisinya masih baik-baik saja.

Di sisi lain, masih banyak Pekerjaan Rumah yang harus dijalankan oleh Pemerintahan Jokowi untuk mengadakan infrastruktur negara dan fasilitas publik untuk rakyat di daerah-daerah tertinggal dan pelosok. Uang rakyat yang dipegang pemerintahan sekarang dirasa dan nyatanya masih kurang untuk membiayai seluruh pembangunan tersebut.

Nah, lho?

Pemikiran sebagian anggota DPR jelas terbalik dan tidak masuk akal bila sebagian uang rakyat dipakai untuk membangun gedung DPR yang jelas tidak mendesak.

Belum lagi harus diingat bahwa negara kesatuan ini masih memiliki hutang yang menumpuk. Hutang-hutang negara itu bukan hutang baru oleh pemerintahan yang baru. Hutang yang menggunung dan besarannya fenomenal tersebut merupakan akumulasi hutang dari beberapa periode pemerintahan sebelumnya.

Ingat bahwa hutang harus dibayar suatu hari nanti saat jatuh tempo. Belum lagi mengingat bahwa hutang pastilah disertai oleh bunga. Saat pemerintah bisa melunasi hutang-hutangnya dengan tepat waktu dan cepat tentu bisa mengurangi beban warga negaranya; karena hutang negara dibayar melalui uang rakyat.

Besaran dana untuk membangun gedung DPR yang baru bisa dialokasikan untuk memperbaiki ribuan bangunan sekolah di kota-kota terluar yang kondisi fisiknya mengenaskan. Dengan pembangunan fasilitas pendidikan, Indonesia akan mendapatkan generasi-generasi penerus yang lebih cerdas dan produktif.

Beda ceritanya kalau uang rakyat digunakan untuk membangun gedung DPR yang baru. Bila sudah terbangun, tak ada jaminan bahwa para wakil rakyat akan bisa bekerja lebih keras dan lebih cerdas. Berbagai pemberitaan di surat kabar dan media elektronik menggambarkan bahwa DPR tak banyak bekerja untuk membantu percepatan pembangunan. Justru DPR terkesan menggunakan kekuatan politiknya untuk mengganjal gerak cepat dan gebrakan pemerintahan yang baru untuk memperbaiki kinerja pembangunan.

Kesimpulannya adalah tak ada perlunya membangun gedung DPR yang baru. Uang rakyat harus diprioritaskan untuk membangun fasilitas umum bagi warga negara. Bukan membangun fasilitas penunjang bagi wakil rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s