Nasib Buruh Pabrik

Siapa sih memangnya yang mau menjadi buruh pabrik?

Tidak ada rasanya anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar yang memiliki cita-cita sebagai buruh pabrik bila sudah besar nanti.

Tidak ada pula buruh pabrik yang memiliki aspirasi untuk bekerja hingga pensiun dan tetap memiliki status profesi sebagai buruh pabrik.

Tidak ada kisah sukses dari seorang buruh pabrik. Yang ada hanyalah cerita keberhasilan seseorang menjadi pengusaha atau pejabat kantoran yang awalnya dulu pernah menjadi buruh pabrik. Tapi tidak ada buruh pabrik yang sukses; baik secara finansial atau intelektual.

Buruh pabrik itu semata hanya alat produksi yang berbasis tenaga manusia. Tak lebih dari itu. Bila tak produktif, eksistensinya tak lagi berarti. Semisal bila sudah usia lanjut, sakit-sakitan atau tak lagi rajin.

Buruh pabrik juga dianggap komponen yang bisa direduksi bila kuota produksi berkurang. Namun jumlah buruh pabrik akan ditambah saat permintaan meningkat. Naik turunnya produksi berkorelasi dengan penambahan dan pengurangan jumlah buruh di suatu pabrik.

Buruh pabrik tak jarang dikorbankan. Keamanan tempat kerja tak dipedulikan sehingga banyak buruh yang mengalami kecelakaan di tempat kerja. Bila sudah sakit atau cacat karena insiden maka ‘karir’ seorang buruh akan berhenti di situ. Banyak juga yang tewas saat bekerja dan hanya dihargai dengan biaya penguburan secukupnya ditambah ganti rugi untuk keluarga yang bersedih.

Begitulah nasib buruh pabrik. Nasibnya tak bagus-bagus amat. Namun ada sekian banyak orang yang berebut untuk menjadi buruh pabrik. Alasannya sederhana. Itulah profesi yang legal dan tersedia oleh golongan ekonomi lemas dan berpendidikan rendah.

Bahkan pabrik-pabrik yang dianggap tak manusiawi dan memperhatikan hak-hak para buruh tetap saja memberikan secercah harapan untuk bertahan hidup bagi para pekerja kerah biru tersebut. Lebih baik bekerja dengan kerja keras meskipun hasilnya kecil ketimbang menyerah kalah dan memilih menjadi pengangguran.

Tapi sekali lagi, buruh adalah manusia. Kontribusinya harus diberikan penghargaan yang sesuai dengan kemampuannya. Tanpa adanya ratusan atau ribuan buruh, sebuah pabrik bisa berhenti berproduksi. Dan akhirnya gulung tikar.

Beberapa pabrik memberikan perhatian dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mensejahterakan buruh-buruhnya. Alhasil buruh pabriknya terjamin hidupnya sehingga tetap bisa berproduksi dengan optimal. Namun pabrik-pabrik seperti ini tak banyak rupanya.

Lebih banyak pabrik-pabrik yang ‘memerah’ buruh-buruhnya dengan cara-cara yang kurang manusiawi. Main pecat tanpa aturan yang jelas. Potong gaji bila buruhnya sakit. Bahkan tindakan-tindakan mengancam jiwa untuk membuat buruhnya bekerja jauh lebih keras lagi. Sayangnya banyak instansi pemerintah yang abai dengan keberadaan pabrik yang menganggap buruh-buruhnya sebagai sapi perahan.

Lalu bagaimana cara untuk memperbaiki para buruh pabrik sehingga nasibnya menjadi lebih baik?

Saya tidak tahu. Apakah Anda juga tahu?

Tidak di negeri ini saja buruh pabrik memiliki nasib yang buruk. Di negara-negara lain di berbagai belahan dunia ini, kebanyakan buruh pabrik bernasib kurang mujur. Amerika? Jepang? China? Inggris? Malaysia? Semua lebih kurang nasibnya sama. Buruh pabrik tak memiliki hidup yang layak.

Bagaimana dengan negara-negara maju? Pastilah buruh pabrik di negara mereka memiiki hidup yang lebih baik. Bukankah begitu?

Mungkin saja. Tapi ingat bahwa negara-negara maju tersebut juga mempekerjakan buruh-buruh dari negara lain — yang umumnya orang-orang dari negara-negara berkembang atau negara miskin — dengan gaji yang lebih rendah dan kondisi kerja yang tak manusiawi. Yang jelas-jelas warga negara sendirinya saja tak lagi mau melakukan pekerjaan tersebut.

Lalu bagaimana dengan nasib para buruh pabrik?

Ada jalan keluarnya supaya nasib mereka menjadi lebih baik. Solusinya bukan dari pemilik pabrik. Bukan juga dari pemerintah. Jangan tanya lagi pemecahan dari lembaga swadaya masyarakat yang kebanyakan bisanya cuma melontarkan wacana dan berkoar-koar.

Jalan keluarnya adalah pendidikan. Seorang buruh harus merencanakan hidupnya. Silakan menjadi buruh untuk beberapa tahun untuk bertahan hidup. Tetapi harus tetap menambah kemampuannya dengan mendapatkan pendidikan. Tak mudah memang. Tak harus pendidikan formal. Bila sudah mencapai tingkat pendidikan yang lebih baik, seorang buruh baru bisa melompat ke jenjang berikutnya. Mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Atau bisa jadi mulai berwiraswasta; bisa di kampung halaman atau di tempat dia hidup saat itu.

Tapi tidak semua buruh pabrik bisa mendapatkan pendidikan? Atau minimal cukup pandai untuk bisa keluar dari ‘perangkap ekonomi yang membuat mereka tetap menjadi buruh pabrik’?

Memang tidak semua buruh pabrik akan ‘kelar’ menjadi buruh pabrik. Hampir sebagian besar dari buruh pabrik akan bekerja menjadi buruh pabrik selama hidupnya; hingga pabrik tersebut tak lagi membutuhkan jasa dan tenaganya karena tenaga dan kemampuannya yang berkurang karena usia.

Tapi bila segelintir buruh pabrik bisa ‘lulus’ dengan baik dan ‘naik kelas’ maka hal tersebut bisa menjadi pembelajaran dan harapan bagi buruh-buruh lainnya untuk setahap lebih maju dalam kehidupan mereka.

Kesimpulannya bagaimana?

Jangan jadi buruh pabrik. Nasibnya kurang mujur. Kalaupun sudah terlanjur jadi buruh pabrik, segeralah ‘lulus’ dan ‘naik kelas’. Yang namanya buruh ya tetap saja buruh.

#nasib #buruh_pabrik memang #kurang_mujur

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s