Dollar Naik, Harga Naik

Belakangan ini saya sedikit bosan mendengar perbincangan orang-orang mengenai naiknya harga makanan dan barang-barang. Memang benar bahwa faktanya harga-harga naik. Tapi tak perlu diulang-ulang dan ditekankan bahwa harga-harga naik secara terus-menerus.

Harga-harga naik karena Dollar Amerika menguat terhadap Rupiah yang terus melemah nilainya. Banyak barang yang diimpor dari luar negeri; yang mana harus dibayar dengan Dollar. Dollar naik, harga barang pun naik. Wajar, bukan?

Namun tak melulu harga-harga naik karena Dollar Amerika. Semisal harga daging sapi. Harga sapi melonjak naik secara drastis karena permintaannya tinggi berhubung dengan Idul Adha beberapa hari ke depan.

Tak semua orang peduli dengan apa penyebab dari kenaikan harga. Lebih banyak orang yang langsung menuding orang lain sebagai biang keladi naiknya harga. Misalnya dengan langsung menyalahkan presiden dan para menteri tanpa betul-betul tahu kebenarannya.

Padahal bila mau melihat dengan lebih bijak, masyarakat luas bisa mengetahui bahwa ekonomi global sedang terpengaruh nilai Dollar Amerika yang naik. Negara-negara lain juga terimbas mata uangnya. Seperti halnya Real Brazil, Lira Turki dan Baht Thailand yang nilainya turun lebih dari 20% dari nilai semula.

Lalu bagaimana menyiasati keadaan seperti ini?

Tak perlu cemas. Naikkan saja produktivitas. Turunkan pengeluaran. Dengan begitu penguatan Dollar Amerika terhadap Rupiah menjadi pemacu untuk melakukan perbaikan dengan maksimal.