Harga Bensin Tidak Harus Naik

Dengan pemberitaan yang konstan tentang harga minyak dunia yang turun, sepertinya ada harapan bagi masyarakat untuk menikmati harga bahan bakar minyak yang lebih murah. Wajar. Masuk akal.

Harga BBM yang lebih ekonomis membuat BBM lebih terjangkau. Dengan adanya BBM yang ramah di dompet, proses produksi barang dan alur distribusi barang menjadi lebih murah. Efek positifnya yaitu menurunnya harga barang-barang dan jasa di dalam negeri. Boleh jadi perputaran bisnis bisa menjadi lebih cepat. Rakyat pun senang karena barang-barang yang tadinya lumayan mahal menjadi lebih terjangkau.

Tapi apakah harga BBM harus diturunkan karena menyesuaikan harga minyak bumi dunia?

Bisa ya. Bisa juga tidak. Harus diingat bahwa harga BBM yang dinikmati oleh masyarakat luas masih tetap disubsidi oleh pemerintah. Yang mana subsidi tersebut berasal dari pendapatan negara.

Saat harga BBM disesuaikan dengan menurunkan harganya, pemerintah berkurang bebannya dalam memberi subsidi BBM. Dana yang tadinya digunakan untuk mensubsidi BBM bisa dialokasikan untuk membiayai pembangunan di sektor lain. Misalnya saja pendidikan.

Dari satu aspek ini saja sudah terlihat jelas bahwa menurunkan harga BBM menjadi kurang bijaksana karena pemerintah tetap saja harus memberikan subsidi terhadap harga BBM.

Apa benar harga BBM yang murah meriah bisa membuat roda perekonomian menjadi lebih dinamis?

Tak selalu seperti itu. BBM yang murah memang bisa menjadikan proses produksi barang dan distribusi barang menjadi lebih terjangkau. Namun bila BBM tersedia dalam volume yang banyak dengan harga yang murah, tak banyak orang yang akan menggunakan BBM dengan bijaksana dan hemat.

Coba lihat negara-negara miskin sumber daya alam dan tak memiliki cadangan minyak di negaranya seperti Jepang, Korea Selatan dan Singapore. Harga BBM di negara-negara tersebut sangat mahal. Benar bahwa negara tersebut mampu mengimpor minyak dari negara penghasil minyak tapi tentu berimbas pada pengeluaran devisa negara yang cukup besar. Oleh karena itu, ada aturan yang ketat mengenai konsumsi bahan bakar di negara-negara tersebut. Pun begitu harga BBM juga mahal. Faktor tersebut membuat proses produksi dan distribusi barang menjadi lebih efisien.

Sedangkan negara yang memiliki cadangan minyak yang berlimpah cenderung untuk menggunakan bahan bakar dengan boros. Misalnya saja Saudi Arabia dan Venezuela. Harga BBM sangat murah karena mereka memproduksi BBM di dalam negeri. Sayangnya harga BBM yang murah meriah menjadikan warganya tak lagi berpikir untuk melakukan penghematan. Konsumsi akan BBM menjadi tak lagi wajar. Boros. Padahal bila harga BBM di negara tersebut disesuaikan dengan harga pasaran di dunia, boleh jadi pemasukan negara terhadap ekspor minyak menjadi optimal sekaligus membuat proses produksi dan distribusi barang menjadi efisien.

Bagaimana penggunaan BBM di Indonesia?

Masih boros. Masih lebih banyak orang yang menggunakan kendaraan pribadi ketimbang memanfaatkan kendaraan umum. Masih banyak yang berpikir bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki cadangan minyak yang sangat besar. Betulkah?

Nyatanya justru berkebalikan dengan apa yang menjadi pikiran banyak orang. Indonesia bukan negara yang memiliki cadangan minyak yang besar. Bahkan tak mampu mensuplai semua kebutuhan minyak di dalam negeri karena hingga saat ini masih harus mengimpor minyak yang sudah diproses di luar negeri. Ironis? Memang. Dan itu kenyataan yang harus dihadapi.

Dengan adanya harga BBM yang tak disubsidi terlalu besar oleh negara, masyarakat dikondisikan pada keadaan di mana proses produksi dan distribusi barang harus seefisien mungkin dalam menggunakan BBM. Bila suatu hari nanti harga minyak dunia kembali naik, industri dan roda perekonomian negara sudah siap untuk menghadapinya.

Kalau masyarakat masih dininabobokan dengan pasokan BBM yang tersedia dengan mudah dan murah, suatu saat nanti bisa dipastikan akan ada kepanikan saat harga minyak dunia melambung naik. Harga minyak dunia naik tentu akan membuat BBM yang diimpor menjadi naik. Bisa jadi akan ada kepanikan bagi masyarakat luas dan pelaku usaha di dalam negeri yang pada akhirnya hanya akan membuat situasi perekonomian menjadi lebih pelik.

Ingat bahwa ketika krisis ekonomi di tahun 1998 keadaan menjadi kacau balau karena cadangan devisa sangat minim dan tidak mencukupi untuk membayar beban impor BBM dan barang-barang dari luar negeri sangat berat. Dan menjadi lebih runyam lagi karena nilai tukar Rupiah jatuh terbanting dengan Dollar Amerika. Yang mana sebagian besar impor dibayar dengan mata uang Negeri Paman Sam; bukan dalam mata uang Rupiah.

Jadi kalau harga BBM tidak turun, Indonesia akan lebih siap menyambut masa depan?

Harapannya seperti itu. Biarkan saja harga BBM tetap dalam posisinya semula. Uang negara yang tadinya digunakan untuk membayar subsidi BBM bisa dialokasikan untuk pembangunan di sektor-sektor yang lebih membutuhkan. Masih ada kekurangan dana untuk membangun sekolah-sekolah, kebutuhan untuk memperbarui peralatan tempur sehingga bisa menjaga daerah perbatasan, mengadakan prasarana transportasi di Indonesia bagian Timur. Bayangkan pembangunan yang akan tercapai dengan menggunakan uang yang biasanya dialokasikan untuk membuat harga BBM lebih murah dari harga pasaran di dunia.

Masuk akal, bukan? Tak semua orang setuju dengan opini seperti ini. Tapi semua orang berhak berpendapat. Tentu dengan argumen masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s