Dahsyatnya Sebuah Kartu Nama

Berjejaring secara aktif adalah salah satu kunci kesuksesan. Wajar bila kini orang sudah otomatis bertukar kartu nama saat bertemu dan berkenalan dengan orang lain. Kartu nama adalah sarana untuk berjejaring; selain mengenalkan nama dan produk/layanan kita.

Kartu nama, meski bentuknya kecil tipis sehingga mudah disimpan di dompet, memuat tiga hal penting. Identitas nama, latar belakang (baik itu berhubungan dengan suatu merek tertentu, organisasi, atau jabatan) dan cara menghubungi orang yang memberikan kartu nama tersebut.

Kini membuat kartu nama prosesnya mudah, murah dan cepat. Cukup datang ke gerai kartu nama yang ada di pusat perbelanjaan atau toko buku. Bisa juga datang ke toko layanan printing on demand. Desain kartu nama bisa dilakukan sendiri. Tak bisa juga tak apa-apa karena sudah biasanya sudah ada contoh-contoh kartu nama yang bisa dimodifikasi.

Lalu siapa saja yang sebaiknya memiliki dan siap sedia membaginya ke orang lain?

Jawabnya sederhana. Orang yang ingin sukses atau ingin lebih sukses. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa salah satu kunci kesuksesan adalah berjejaring secara aktif. Dengan membagikan kartu nama, jelas seseorang akan lebih dikenal orang lain.

Tak hanya orang-orang yang punya bisnis saja yang wajib siap sedia bertukar kartu nama. Dosen, karyawan, mahasiswa, pembicara, peneliti, politisi, dan ibu rumah tangga juga penting untuk membagikan kartu namanya.

Coba bayangkan mengapa seorang dosen bisa diundang ke seminar sebagai pembicara. Seorang mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk magang. Ibu rumah tangga diminta untuk menjadi saksi pernikahan. Bisa jadi karena mereka lebih dikenal daripada dosen, mahasiswa dan ibu rumah tangga lainnya hanya karena mereka secara aktif berjejaring; yang dibantu dengan adanya kartu nama.

Apalagi bila yang memanfaatkan kartu nama adalah orang-orang yang memang ingin membangun usaha. Bisnis yang dirintis – tak peduli besar atau kecil skalanya – akan lebih mudah dikenali dan diingat orang lain.

Usaha saya cuma lele goreng depan rumah. Masak saya perlu pakai kartu nama?

Mengapa tidak? Kebanyakan orang mungkin akan berkunjung ke warung lele goreng saat warungnya buka. Bila cocok bisa menjadi pelanggan setia. Namun bagi orang yang belum pernah mampir ke warung lele tersebut, bisa jadi pesan untuk arisan hanya karena sudah pernah menerima kartu nama yang menjelaskan usaha lele goreng tersebut sekaligus terkesan dengan niat serius yang tercermin dari kartu nama tersebut.

Oleh karena itu kartu nama sangat diperlukan bagi usaha kecil menengah yang merintis usaha supaya eksistensinya dikenali orang lain; terutama calon pelanggan atau klien. Pemilik warung lele, tukang sablon kecil-kecilan, servis komputer untuk mahasiswa, tukang ojek dan mereka yang ingin usaha dan kemampuannya dikenal wajib memiliki kartu nama.

Lalu bagaimana dengan pengusaha yang sudah sukses bisnisnya? Apakah masih perlu membagikan kartu nama?

Tentu saja. Sukses bukan sebuah titik yang begitu dicapai lalu dilupakan. Sukses harus terus-menerus dirawat yaitu dengan tetap mempromosikan bisnisnya secara konsisten. Salah satunya tentu dengan cara membagi kartu nama. Kebanyakan direktur perusahaan berskala nasional dan internasional tetap saja rajin membagi kartu nama. Makin tinggi posisi mereka, makin sadar pula mereka akan nilai dari berjejaring. Bayangkan dahsyatnya bisnis yang tercipta ketika dua atau lebih orang sukses mulai berjejaring dan akhirnya sepakat untuk berkolaborasi dalam sebuah proyek besar. Hasilnya tentu luar biasa.

Pengusaha sukses justru akan mewajibkan seluruh karyawannya untuk memiliki kartu nama dengan merek usahanya dan rajin mengedarkannya kepada sebanyak mungkin orang yang mereka temui.

Bila suatu perusahaan memiliki 5 karyawan dan masing-masing karyawan memiliki 100 lembar kartu nama yang harus dihabiskan setiap bulannya, dalam bulan tersebut bisa diasumsikan akan ada 500 calon pelanggan atau klien baru yang mengenal minimal merek dari bisnis sang pengusaha tersebut. Sekarang bayangkan perusahaan yang memiliki 1000 karyawan. Hasilnya pasti berlipat-lipat.

OK, kartu nama bisa bikin usaha dikenal luas. Lalu apa dahsyatnya?

Kartu nama lebih hebat ketimbang kartu ATM. Tak percaya?

Kartu ATM paling banyak dipakai untuk mengambil uang. Jumlah tabungan berkurang tiap kali kartu ATM digesek.

Berkebalikan dengan kartu nama yang mengundang calon pembeli atau klien potensial. Tiap pembeli dan klien yang datang dan melakukan transaksi barang atau jasa — karena mengenal dari kartu nama — jelas akan menambah pundi-pundi uang. Tambah rejeki. Jumlah saldo tabungan meningkat. Hebat, kan?

Dengan kartu nama, seorang pengusaha bisa dikenal oleh rekanan bisnis yang bisa mewujud menjadi kongsi usaha. Seorang pengusaha bisa ditelepon dan ditawari berbagai pinjaman tambahan modal tanpa harus repot-repot berkunjung ke bank.

Jadi kita sepakat bahwa kartu nama bisa lebih dahsyat manfaatnya ketimbang kartu ATM.

Tapi bisnis yang saya rintis masih belum eksis. Masih saya kerjakan hanya saat orderan datang. Apa perlu bagi-bagi kartu nama?

Duluan mana, telur atau ayam? Bila bisnis belum berjalan namun mampu berproduksi atau memiliki kemampuan yang dibutuhkan, tawarkan saja bisnis kita. Setiap orderan yang datang akan membuat bisnis kita makin maju. Saat Michael Dell menjadi mahasiswa, dia merintis bisnis perakitan komputer dari kamar asramanya. Namanya dikenal orang meskipun awalnya hanya merakit beberapa unit komputer saja dan belum memiliki toko.

Dengan kartu nama, produk atau layanan kita bisa dikenal meskipun produk atau layanannya menanti orderan datang terlebih dahulu karena keterbatasan modal atau waktu. Namun harus diingat bahwa begitu orderan datang, produk atau layanan harus bisa memuaskan pelanggan. Kepuasan pelanggan akan mengangkat reputasi nama kita dan kita Anda.

Saya punya usaha yang memproduksi barang yang harganya mahal karena kualitasnya sangat bagus. Tidak sembarang orang bisa beli barangnya. Apa saya harus tetap bagi-bagi kartu nama kepada banyak orang?

Aduh. Namanya usaha tak boleh menghambat diri sendiri dan usahanya. Berikan saja kartu nama kepada sebanyak orang yang kita temui. Tak perlu pilih-pilih dan jual mahal.

Barang yang harganya mahal bila memang bagus kualitasnya tentu akan dicari orang. Orang rela pinjam uang bila sangat butuh barang yang mahal tersebut. Siapa tahu orang yang kelihatan tak punya uang karena pakaiannya lusuh justru mampu membeli barang tersebut.

Bisa jadi orang yang tak membeli karena tak membutuhkannya atau tak mampu membelikan malah merekomendasikan produk yang tertera di kartu nama kita kepada orang lain yang berpotensi membeli barang tersebut.

Saya malas membagi kartu nama karena takut ditolak orang lain.

Kedengarannya lucu tapi sungguh-sungguh terjadi. Kartu nama berbeda dengan brosur. Saat kita menyodorkan brosur, ditolak orang itu sudah biasa.

Namun jarang-jarang ada orang yang menolak menerima kartu nama (meskipun nantinya hanya disimpan lalu hilang atau dibuang di keranjang sampah).

Justru normalnya orang akan segera balik menyodorkan kartu nama saat diberi kartu nama. Dengan kartu nama yang kita terima tersebut, kita bisa balik menghubungi dan mem-follow-up orang tersebut untuk ditawari produk atau layanan kita.

Satu dayung dua pulau terlampaui. Merek produk atau layanan kita dikenal orang. Kita juga bisa mendapatkan kontak orang yang memberikan kartu namanya kepada kita.

Baiklah kartu nama memang dahsyat. Tapi saya sibuk, besok saja bikin kartu namanya.

Tidak apa-apa. Bisnis Anda adalah urusan Anda sendiri. Kalau besok-besok bikin kartu namanya, silakan besok-besok saja memanen kesuksesan Anda.

Setiap hari kita (mungkin) bertemu calon pelanggan dan klien potensial; intinya siapapun yang bertemu dengan kita. Setiap hari tanpa membagi kartu nama berarti hilangnya kesempatan bagi usaha Anda untuk dikenal dan diingat.

Bikin kartu nama itu mudah, murah dan cepat. Kartu nama bentuknya sederhana. Namun manfaatnya dahsyat bagi perkembangan usaha yang ingin kita rintis atau kembangkan.

Apakah Anda sudah punya kartu nama? Sudahkah Anda rajin membagikannya setiap hari?

Bila YA, kesuksesan ada di tangan Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s