Gedung Setinggi Langit

Hebat! Itu komentar banyak orang ketika melihat gedung pencakar langit. Skyscraper yang betul-betul mencapai langit. Paling tidak tingginya gedung melebihi tingginya awan.

Gedung pencakar langit merupakan pencapaian akal manusia. Tak semalam jadi. Pencapaian yang dilalui ribuan tahun lamanya. Sejak pertama manusia primitif tinggal di gua hingga akhirnya mampu menemukan teknologi konstruksi yang sanggup menumpuk lantai demi lantai hingga setinggi langit.

Kisah dari masa lalu menceritakan tentang Babylon. Bangunan tinggi yang menantang Sang Pencipta. Babylon dibangun bukan semata karena kemampuan manusia dengan keterampilan mendirikan bangunan tinggi. Namun kesombongan manusia bahwa manusia mampu menantang langit. Pada akhirnya bangunan tertinggi di masa lalu itupun roboh. Entah karena memang sudah waktunya roboh atau karena dihancurkan oleh kesombongan manusia itu sendiri.

Tak belajar dari sejarah, makin banyak manusia yang berambisi untuk mendirikan bangunan tertinggi di dunia. Bangunan tinggi yang bisa menembus awan dirasa kurang tinggi. Gedung yang lebih tinggi dari gedung lainnya tentu jauh lebih hebat. Bangunan paling tinggi menjadi jaminan menjadi konstruksi yang paling hebat. Lalu mengapa harus membangun gedung yang tinggi melebihi kebutuhan ruang vertikal?

Jawabannya tidak ada. Justru dijawab dengan pertanyaan balik, “why not?” Kalau bisa membangun gedung yang lebih tinggi, tentu membanggakan.

Tentu gedung pencakar langit memiliki fungsi strategis. Ruang perkantoran, hotel atau restoran bisa dijual atau disewakan dengan harga setinggi langit. Gedung tinggi menjadi daya tarik bagi banyak orang untuk mengunjungi suatu kota atau negara, laiknya obyek wisata. Gedung tinggi bisa menjadi tempat untuk meletakkan stasiun pemancar dan komunikasi yang memberi cakupan yang jauh lebih luas.

Di sisi lain, skyscraper membutuhkan dana yang juga setinggi langit untuk membangunnya. Dana konstruksinya sungguh terasa tak masuk akal bagi kebanyakan orang. Hanya perusahaan atau negara yang memiliki kekuatan finansial yang mampu merencanakan, mendanai dan membangun gedung pencakar langit.

Saya cuma berpikir. Andaikan uang yang sangat besar tersebut dialokasikan untuk membangun proyek perumahan untuk banyak orang — alih-alih membangun gedung pencakar langit — berapa banyak orang yang beruntung karena bisa memiliki tempat tinggal yang layak.

Dana yang besar tersebut juga bisa diperuntukkan untuk proyek konstruksi untuk publik. Semisal membangun sistem transportasi yang melayani komuter ribuan penduduk kota tersebut. Bisa juga menyediakan pembangkit tenaga listrik yang terbarukan seperti kincir angin berukuran masif, sel surya yang besar atau penangkap enerji gelombang air.

Namun pembangunan gedung pencakar langit tentu saja keputusan orang-orang yang memiliki pemikiran yang lain. Tak lagi memikirkan tentang kebutuhan banyak orang. Justru menjadi alat bagi sebagian kecil untuk menunjukkan kepada sekian banyak orang bahwa saya atau kami mampu mendirikan gedung megah setinggi langit dan asa sebagian besar manusia di dunia.

Salah satu proyek gedung pencakar langit yang bikin heboh adalah pembangunan The Tower, konstruksi vertikal yang akan menjadi paling tinggi di Dubai sekaligus menjadi salah satu bangunan tertinggi di dunia. Menurut pembangunnya The Tower — namanya sekarang dan akan diberi nama baru saat sudah selesai dibangun — akan berdiri gagah di dataran Arab pada tahun 2020. Empat tahun dari saat tulisan ini dituliskan.

Biayanya tak tanggung-tanggung. USD 1 milyar. Setara dengan IDR 1 trilyun. Hebat, bukan? Berapa juta rumah yang bisa dibangun di Indonesia dengan uang sebanyak itu ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s