Kembalikan Uang Kembalian Saya

Tugas dari kasir di mana-mana adalah membantu proses transaksi. Barang ditukar uang. Bila uangnya lebih besar dari nilai barangnya berarti ada uang kembalian. Tentu jumlah uang kembalian haruslah sama dengan yang tertera di mesin penghitung pada meja kasir.

Sayangnya banyak kasir di toko modern, warung makanan, kafe yang tak terlalu cakap untuk membantu proses transaksi dengan sempurna.

Salah hitung jumlah belanja bisa terjadi. Pun dengan salah mengembalikan jumlah uang kembalian. Sesempurna apapun seorang kasir bisa saja kesalahan terjadi. Bila itu terjadi bolehlah membilang kasirnya khilaf. Tak sengaja meskipun sudah sangat berhati-hati. Bisa jadi hari itu sangat melelahkan, banyak pikiran atau ada terlalu banyak pengunjung yang datang.

Saya bisa maklum bila kasir khilaf saat salah hitung atau kurang mengembalikan uang kembalian. Bila saat itu juga saya menemukan kesalahan kasir, saya langsung memberitahukannya kepada kasirnya. Kasir yang baik otomatis minta maaf. Kemudian memperbaiki kesalahannya. Bila itu terjadi, saya memakluminya.

Namun saya jengkel bila mendapati kasir yang dengan santainya berkata, “Maaf, kembaliannya kurang.”

Saya tak bisa mentolerir perilaku merugikan konsumen seperti itu. Tugas kasir haruslah mengembalikan uang kembalian. Kalau tak ada uang kecil, kasir wajib mengusahakan uang kembalian. Bila memang tak ada uang kecil tentu kasir bisa memberikan kembalian berlebih.

Logikanya seperti ini. Pembeli atau pengunjung harus membayar apa yang sudah dinikmatinya atau dibelinya dengan uang pas. Bisa juga dengan lebih banyak. Tapi tak mungkin kurang membayar di kasir, kan?

Oleh karena itu biasanya saya hanya bisa nyinyir kepada kasir yang terang-terangan bilang tak bisa memberikan uang kembalian kepada saya; apapun alasannya. “Mbak/Mas, kalau saya yang kurang membayarnya, boleh ga?”

Biasanya sindiran saya itu membuat para kasir – yang tak mampu atau tak mau memberikan uang kembalian – untuk segera bertindak memperbaiki kesalahan mereka. Saya tak peduli bagaimana caranya yang penting saya memperoleh uang kembalian. Entah itu 500 perak, 200 perak atau 50 perak sekalipun.

Kebanyakan pembeli atau pengunjung pasrah bila tak diberi uang kembalian yang pas. Mungkin mereka pikir toh cuma uang receh. Ada juga yang ingin praktisnya dan tak mau mempermasalahkan hal yang sepele. Dulu saya juga begitu.

Namun lama-lama perilaku ‘korupsi kecil-kecilan’ karena malas memberi uang kembalian ini makin merebak. Para kasir sialan ini tak lagi malu bila tak bisa memberikan hak konsumen berupa uang kembalian yang pas. Malah bisa tersenyum supaya perilaku tak terpuji mereka segera dimaafkan dan tak perlu lagi memberikan uang receh yang pas.

Saya pikir akan lebih baik bila sebagai konsumen yang dirugikan untuk memperjuangkan hak berupa uang kembalian yang pas. Receh. Memang receh. Namun bukan jumlah nominalnya yang penting.

Hal terpenting adalah sebagai konsumen memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh para kasir. Kasir harus mampu memberikan uang kembalian. Titik.

Semakin sering dan semakin banyak konsumen yang sadar akan haknya – dan mengingatkan para kasir akan kesalahannya – lambat laun tindakan merugikan dengan tak memberi recehan uang kembali menjadi pudar. Kualitas para kasir secara kolektif akan membaik.

Coba tengok dari para kasir di Negara Sakura. Mereka akan berusaha sebaik mungkin untuk memberikan uang kembalian dengan sebaik-baiknya. Bahkan di restoran, para kasir mereka menolak yang namanya uang tips. Oleh karena itu konsumen senang karena hak dalam bertransaksi terjaga dengan baik.

Saya berharap bahwa para kasir yang suka “mencuri kecil-kecilan” supaya menyadari bahwa tindakannya merugikan orang lain; terlepas dari segi dosa.

Dan lebih dari sekedar berharap, saya selalu membuat atau memaksa para kasir “yang suka mengutip uang kembalian atau malas memberi kembalian” untuk memberikan uang kembalian dengan pas. Itu hak saya. Sereceh apapun itu, saya berhak dengan uang kecil itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s