Burnout

Akhir-akhir ini ada beberapa orang curhat ke saya. Intinya tentang burnout. Kecapaian karena pekerjaan sehingga tak ada tenaga dan waktu tersisa untuk kehidupan pribadi di luar profesi.

Burnout bukan isu sepele. Saat seseorang sudah merasa burnout, sudah ada akumulasi kelelahan jiwa dan raga dalam jangka waktu lama. Tak hanya simpton yang muncul setelah hitungan hari atau minggu. Gejala burnout harusnya sudah terjadi berbulan-bulan hingga tahunan; baik disadari betul atau diabaikan.

Pelepasan Sesaat.

Bila kecapaian karena tuntutan kantor, umumnya orang segera mencari hiburan untuk melepaskan lelah. Gratifikasi instan. Bisa jadi makan enak di restoran yang mahal, nonton bioskop entah apa filmnya asalkan bisa menghilangkan jenuh, atau jalan-jalan destinasi-tak-penting-asal-happy. Intinya pelepasan.

Pelepasan tak ubahnya “escape” dari suatu kondisi yang rutin setiap hari. Escapism. Lari dari kenyataan. Nikmat sekejap. Sebentar saja. Hanya untuk kembali ke roda kehidupan (baca: pekerjaan) yang lagi-lagi sama selama-lamanya.

Memangnya salah kalau ada keinginan untuk “escape” sesaat? Sesekali tentu berguna. Tak salah. Tapi bila berkali-kali atau terlalu sering, tentu ada yang salah. Tak tepat.

Mengapa tak tepat? Pelepasan hanya mengurangi kadar penderitaan. Tak benar-benar mengatasi masalah. Seperti gel pereda nyeri yang dioles saat keseleo. Hanya mengurangi nyeri.

Pelepasan jaman now juga tak murah. Belanja-belanji padahal tak butuh, makan enak seenak-enaknya, travel tanpa tujuan jelas. Semuanya itu jelas menghabiskan banyak uang. Uang habis tanpa sempat ditabung malah bikin tambah stres. Burnout makin parah.

Perlu Istirahat.

Padahal ketika perasaan burnout menyergap, kebutuhan paling utama adalah beristirahat. Tidur. Bisa juga aktivitas pasif lainnya seperti baca buku yang menghibur, minum teh bersama teman atau duduk santai.

Everybody need a little bit time for themselves. Me-time. My own time.

Bayangkan saja sebuah mobil yang digeber habis-habisan. Seperti mobil yang dipakai untuk taksi online atau angkot. Pagi hingga malam. Berkilo-kilo meter dilibas. Tak sekalipun ada waktu jeda. Tak berhenti justru menjadi simbol keren: gagah perkasa tanpa kenal lelah.

Setelah sekian bulan atau tahun, mobilnya pun sering ngadat. Ngambek bila hendak dinyalakan. Mesinnya batuk-batuk. Setelah diteliti, karburator kotor, oli mengering, debu menempel sekujur mobil dan ada kerusakan-kerusakan kecil yang berakumulasi menjadi gangguan besar. Akhirnya performa menurun padahal intensitas penggunaanya malah makin sering, makin berat.

Tak Sekedar Istirahat.

Mirip dengan manusia. Mobil itu butuh istirahat. Butuh diservis. Butuh disayang. Tapi manusia berbeda dengan mobil sebagai mesin. Manusia butuh lebih dari sekedar istirahat.

Setelah bisa istirahat, mendapat jeda. Seorang manusia perlu berpikir ulang tentang hidupnya. Apakah ini yang aku inginkan? Apa ini jalan satu-satunya menapaki hidupku? Apa tujuan hidupku? Benarkah ini sesuatu yang kuimpikan dalam hidup yaitu hidup yang super sibuk tanpa jeda?

Rethink. Making Decision.

Saat jiwa raga mendapat cukup istirahat, perlu untuk berpikir ulang tentang alur kehidupan saat ini. Mungkin pikiran untuk ganti profesi, cari pekerjaan baru, memulai usaha, atau pindah tempat tinggal bila memungkinkan. Tak mungkin kan bila bisa mendapatkan kondisi berbeda bila tak ada perubahan.

Harus do something to make a better life. Dan itu harus didasarkan pada pengambilan keputusan yang matang. Tak asal-asalan, setengah spontan dan selebihnya karena emosi.

Tapi…

Tapi apa? Tak sempat benar untuk duduk termenung memikirkan masa depan? Masih didera dengan tuntutan bos, tenggat proyek dan politik kantor yang tak pernah habis?

Harus disempatkan. Waktu untuk diri sendiri. Bila tidak, silakan menikmati burnout hingga akhirnya tersisa abu-abu tak berbekas yang habis ditelan masa dan dibawa terbang angin.

Pilihan di Tangan Kita

Pilihan mungkin terbatas. Seakan-akan tak ada opsi lain.

Padahal selalu ada pilihan. Pilihan untuk ditemukan. Bisa juga diciptakan sendiri. Dan selalu ada pilihan untuk bentuk kehidupan yang lebih manusiawi di mana ada waktu untuk berkarya sekaligus waktu untuk menikmati indahnya kehidupan.

Burnout? Jangan dibiarkan. Segera cari solusinya. Hidup pendek yang berharga ini tak seharusnya dibakar habis untuk mencapai sesuatu yang mungkin kurang relevan, kurang bermakna. Life is beautiful.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s