Perpustakaan Megah

Perpustakaan memiliki nilainya dari banyaknya kumpulan buku yang dikoleksi. Makin banyak, makin bernilai. Tak hanya ribuan buku. Perpustakaan megah nan modern bisa menampung jutaan buku. Luas biasa, bukan?

Pertanyaan yang muncul, apakah masih relevan untuk mendirikan satu atau dua perpustakaan super besar di suatu kota?

Tergantung siapa yang akan menjawabnya. Kaum akademisi tentu akan mengamininya. Begitu pula para pejabat suatu daerah yang bakal bangga bila bisa memberikan layanan perpustakaan yang “wah”.

Padahal di satu sisi, biaya dan usaha untuk mendirikan satu perpustakaan super besar bisa dialokasikan untuk memberikan perpustakaan kecil di banyak bagian kota. Bahkan kalau perlu, biayanya bisa digunakan untuk mengadakan perpustakaan keliling dengan mobilitas tinggi sehingga makin banyak warganya yang bisa mengakses buku-buku yang menambah wawasan.

Gambar dari Tribunnews.

Gambar dari Tribunnews.

Saya lebih mendukung gerakan di mana distribusi perpustakaan tersebar secara merata. Justru daerah pinggiran kota perlu mendapatkan perhatian karena akses ke sumber wawasan terbatas. Berbeda dengan penduduk di pusat kota yang sudah memiliki akses dengan buku-buku di berbagai perpustakaan di tengah kota; seperti perpustakaan instansi atau universitas.

Perpustakaan megah itu seperti menara atau tugu. Berdiri megah untuk dikagumi. Sentralisasi sumber buku sudah kuno dan kurang relevan. Desentralisasi justru menjadi kunci supaya semua lapisan masyarakat mendapatkan akses sumber pengetahuan yang sama. Dengan demikian keadilan sosial akan mudah dicapai.

#perpustakaan, #perpustakaan-keliling