Lost Generation of 2020

Apa sih yang terjadi di tahun 2020? Pasti kebanyakan orang akan membilang ada pandemi coronavirus. Tahun 2020 identik dengan Covid-19. Jaman Korona.

Foto-foto yang diambil di tahun 2020 tentu tak melupakan wajah orang yang ditutup dengan masker. Tayangan berita memperlihatkan petugas medis yang memakai APD – alat proteksi diri – yang membungkus seseorang supaya terhindar dari paparan virus korona. Belum lagi ada liputan tentang kondisi di rumah sakit, kuburan masal dan beragam hal menyoal dampak korona.

Tahun 2020 tak sepenuhnya hitam tanpa harapan. Tahun 2020 menyisakan banyak harapan bahwa solidaritas manusia meningkat, kepedulian terhadap keluarga bertambah dan tingkat iman naik. Oleh karena itu tahun 2020 berwarna abu-abu; campuran antara pesimistis dengan harapan.

Coronavirus tak hanya merenggut nyawa. Virus ini membuat banyak orang putus asa.

Berita daring (online) bernama SCMP mengangkat tajuk berjudul Class of 2020: a lost generation in the post-coronavirus economy? Artikel berita ini menyajikan generasi yang kehilangan asa sebagai imbas coronavirus.

Bayangkan siswa-siwa baru di bangku sekolah harus masuk ke sekolah baru tanpa mengalami proses dinamika di sekolah. Mereka harus belajar dari rumah. Siswa yang baru lulus tak bisa mengucapkan selamat secara langsung karena ijazah disampaikan melalui pos atau layanan daring (online). Banyak dari siswa ini mendapat gelar lulus karena corona. Ujian tak bisa dilaksanakan secara sempurna sehingga siswa pun diluluskan dengan mudah.

Lulusan mahasiswa di tahun 2020 menghadapi masalah tersendiri. Mereka kesulitan menemukan lapangan pekerjaan karena sebagian besar perusahaan dan organisasi justru sibuk merampingkan jumlah karyawan bila mereka tak mau pailit dan terpaksa tutup selamanya. Bayangkan idealisme mereka segera padam karena tak bisa segera memasuki fase setelah menyelesaikan studi di kampus. Yaitu tahap ketika mereka memasuki dunia kerja untuk pertama kalinya.

Sedangkan mereka yang sudah bekerja sebagai karyawan magang, karyawan baru, dan karyawan paruh-waktu mendapati diri mereka tak lagi memiliki pekerjaan karena perusahaan mereka bernaung tutup. Perusahaan berhenti beroperasi karena PPSB – Pembatasan Sosial Berskala Besar. Mereka yang bekerja langsung berubah status menjadi pengangguran. Dirumahkan alias mendapat PHK – Pemutusan Hubungan Kerja.

Pun mereka yang sedang asyik-asyiknya membuka usaha hanya bisa meratapi ketika pemasukan tak sebanding dengan pengeluaran. Usaha kuliner mendapati banyak pelanggan mereka tak lagi datang karena memilih memasak sendiri di rumah. Usaha transportasi bingung karena tak ada lagi yang bepergian. Setali tiga uang, bisnis pariwisata tiarap karena pembatasan gerak dan ancaman penyebaran virus. Beberapa pengusaha berusaha mati-matian supaya usahanya bisa tetap berputar meski dengan omzet sangat minim. Sebagian lainnya hanya bisa mengelus dada karena harus menutup usaha mereka hingga waktu yang tak bisa ditentukan lagi. Tak ada yang tahu kapan pandemi ini berujung. Bulan depan? Tahun depan? Tak ada yang bisa memberi kepastian.

Dari segi sosial tentu ada banyak hal tertunda. Hajatan tak lagi bisa dilakukan dengan normal. Pernikahan harus ditunda. Perayaan ulang tahun hanya bisa dilakukan sendiri di rumah. Bahkan layatan orang meninggal pun tak bisa dihadiri banyak orang. Terlebih bila orang yang meninggal tersebut meninggal karena Covid-19; tak ada yang boleh menghadiri layatannya. Harus dimakamkan sesuai dengan protokol yang sudah ditentukan oleh satgas Covid-19.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh generasi 2020? Tak jelas juga. Berdiam diri sampai mati gaya dan mati bosan. Mungkin mencoba berjualan demi bisa bertahan hidup. Beberapa lainnya yang lumayan beruntung bisa melewati hari dengan hiburan daring (online) atau belajar beragam kemampuan yang disampaikan secara daring (online).

Ada orang bijak yang bilang bahwa “when you cannot go outside, just go inside“. Namun banyak orang tak paham lagi apa arti refleksi. Mencoba memahami diri di tengah situasi yang pesimistis tentu menjadi tantangan sendiri.

Tak ada yang tahu di mana ujung dari pandemi coronavirus ini. Bagaimana dengan bulan Mei? Bulan Juli? Atau bahkan akhir tahun 2020? Sungguh tak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan dunia di mana coronavirus mengubah tatanan hidup orang banyak.

Baiklah, mungkin tahun 2020 ini memang tahun untuk jeda bagi dunia. Polusi berkurang karena gerak manusia terbatasi. Alam menjadi sembuh karena eksploitasi manusia berkurang.

Mungkin tahun 2020 ini memang tahun yang hilang. Ada satu generasi di tahun ini yang hilang. Tak bertumbuh. Putus harapan. Namun bila belajar dari masa yang telah lampau alias kilas sejarah, Masa Pembaharuan atau yang disebut sebagai Renaissance justru terjadi setelah adanya Black Death; di mana ratusan juta orang tewas karena pandemi dahsyat. Di saat tersebut banyak pemikir berfokus pada kehidupan mereka di Bumi ini ketimbang memikirkan tentang hal-hal terkait spiritualitas dan hidup setelah kematian.

Sekali lagi ada orang bijak berpikir. Kehidupan sepertinya berhenti untuk sesaat dan bahkan mundur. Seakan-akan kehidupan ini seperti anak panah yang sedang direnggangkan pada busur dan tali panah. Ada potensi enerji yang sedang dikumpulkan. Begitu pandemi selesai, anak panah akan meluncur cepat. Ada banyak pembaruan yang timbul karena enerji yang dilecutkan. Pembaruan yang tentu akan menumbuhkan harapan-harapan baru.

Tahun 2020 ini bolehlah menjadi tahun penuh kehilangan. Semoga tahun depan 2021 menjadi tahun yang penuh harapan, saat yang tepat untuk mewujudkan impian dan rencana yang tertunda sesaat.

Awal Mei 2020
Jaman Korona

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s