YOLO

YOLO itu singkatan dari You Only Live Once. Kamu hanya hidup sekali ini saja. YOLO menjadi pandangan hidup banyak kaum muda jaman sekarang.

Dengan YOLO sebagai slogan hidup, para muda ini berpikir bahwa banyak hal harus dilakukan sesegera mungkin. Karena kapan lagi bisa melakukan suatu hal tersebut bila tak sekarang. Besok? Mungkin sudah terlambat. Belum lagi dengan pikiran banyak anak muda yang hanya mampu membuat rencana jangka pendek; tak lagi jangka panjang. Hidup hanya sekali, kapan lagi.

Terjun payung. Naik gunung. Selfie di tempat yang penuh resiko. Menjual semua barang dan berkelana menjelajahi banyak tempat di dunia. Melakukan tindakan yang mungkin sangat beresiko dan tak mungkin diambil oleh para generasi sebelumnya yang lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Salah satu cerita anekdot yang sungguh-sungguh terjadi ini saya dapatkan dari seorang kawan lama. Teman saya ini harus memonitor salah satu staf kantor yang usianya masih tergolong 20an tahun. Staf kantor yang masih hijau ini sengaja tetap melanjutkan perjalanan wisata ke Eropa di tengah penyebaran coronavirus yang masif di Benua Eropa di bulan Maret. Coba bayangkan?

Kebanyakan orang yang punya akal sehat tentu akan membatalkan perjalanan mereka. Tentu kecewa. Namun nyawa lebih berharga daripada sebuah pengalaman menapaki Daratan Biru itu.

Nyatanya staf yang unyu tersebut tetap melenggang dengan rencananya berkelana di negara-negara Eropa. Akhirnya staf tersebut mengakhiri perjalanannya lebih cepat dari rencana sebelumnya karena penerbangan sudah banyak yang dibatasi. Terlambat terbang bisa jadi dia akan terdampar di negeri orang; tak bisa pulang ke tanah air karena tak ada maskapai yang terbang.

Cerita staf yang bikin geregetan itu menjadi contoh YOLO. Mengambil resiko untuk suatu pengalaman hidup. Beruntung staf tersebut tak terpapar Covid-19 dan masih bisa pulang ke tanah air. Skenario terburuk, staf tersebut terpapar coronavirus yang belum ada obatnya dan terpaksa tinggal di salah satu negara Eropa yang terkena dampak paling besar, semisal, Italia. Dan tewas di tanah asing tanpa mayatnya bisa dipulangkan dan dimakamkan tanpa kehadiran keluarga. Sedih, kan?

Justru karena You Only Live Once, menurut hemat saya, seseorang haruslah mengambil tindakan yang bijaksana. Menghindari resiko dengan memiliki lebih banyak persiapan. Tentu umur panjang membuat diri kita mendapat kesempatan yang lebih baik untuk merasakan berbagai pengalaman hidup. Bisa “bermain” lebih lama untuk menapaki lika-liku kehidupan ini. Tak sekedar bermain penuh resiko, cepat mati dan hanya menikmati segelintir pengalaman hidup saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s