Pilih Zaenab atau Sarah?

Saat masih remaja, saya menonton drama televisi berjudul Si Doel. Tidak banyak pilihan tontonan waktu itu. Opsi terbatas. Unik juga dramanya karena menghadirkan latar belakang kehidupan masyarakat Betawi di ibukota.

Bingung Memilih

Saya sebel karena Si Doel – sebagai tokoh sentral di drama ini – bingung memilih dengan siapa dia akan menjalin hubungan asmara. Ada Zaenab, yang diperankan oleh Maudy Koesnaedi, gadis lemah lembut yang cantik wajahnya. Ada juga Sarah, yang dilakonkan oleh Cornelia Agatha, yang tubuhnya montok dan modern.

Tak hanya di drama yang berjilid-jilid Si Doel tak juga menjatuhkan keputusannya. Di dua film yang menjadi bagian dari trilogi film Si Doel, tetap saja Si Doel tak pernah bisa memilih satu saja untuk dinikahi.

Saat film ketiga – dari tiga film dalam trilogi Si Doel – akhirnya diputar di bioskop, saya penasaran dengan apa yang menjadi klimaks kisah asmara Si Doel.

Bagaimana ceritanya, Si Doel ini memilih Zaebab atau Sarah?

Saya malas menonton filmnya. Namun tetap menunggu siapa yang menjadi pilihan si Doel. Setelah beberapa saat melupakan rasa penasaran itu, jawabannya baru saja saya baca malam ini dari artikel Kompas berjudul Pilih Zaenab Ketimbang Sarah, Rano Karno Punya Alasannya.

Pilihannya adalah…

Baiklah, Si Doel – yang diperankan oleh Rano Karno yang sudah menua itu – memilih Zaenab.

Saya membatin dalam hati. Ya, iyalah. Zaenab masih perawan. Belum menikah. Masih mencintai Si Doel. Zaenab juga lemah lembut dan memiliki kesabaran tingkat dewa. Zaenab wajahnya masih cantik – meski tak lagi semuda dulu sewaktu jaman drama televisi Si Doel – dan tubuhnya langsing terawat.

Coba lihat Sarah – dulunya sih lumayan seksi berisi – yang sekarang sudah jadi tante-tante gendut chubby. Tak lagi menarik. Dari sisi penampilan saja, meski sudah tua, tentu Si Doel masih waras untuk memilih mana yang masih enak dipandang mata.

Si Doel ternyata sudah punya anak dengan…

Lalu saya membaca artikel itu. Oh, ternyata Si Doel sudah pernah memiliki anak dengan Sarah. Oh la la! Si Doel dan Sarah sudah melakukan hubungan suami istri namun belum menikah. Anak di luar nikah. Entah kenapa juga, Si Doel dan Sarah tak juga menikah. Saya tak tahu ceritanya karena tak menonton filmnya.

Nikah Siri

Rasa jengkel saya bertambah tatkala menyadari bahwa Si Doel memilih menikahi Zaenab dengan nikah siri. Sekedar nikah siri. Kenapa? Enak sekali, Si Doel ini. Sudah menikmati saat intim dengan Sarah hingga menghasilkan anak dan sekarang ingin menikmati Zaenab tanpa harus ribet menikah secara resmi.

Siapa yang bego?

Saya heran. Apakah dua perempuan tersebut benar-benar bego karena terpaksa berbagi lelaki bertahun-tahun lamanya? Apa Si Doel yang memang seorang lelaki yang begitu memikat sehingga mampu menaklukkan dua hati selama berabad-abad bertahun-tahun? Sehebat apa sih Si Doel? Memangnya di ibukota tak ada pria lain yang lebih baik dari Si Doel?

Alasannya tetap tak jelas.

Dan meski judul artikel tersebut Pilih Zaenab Ketimbang Sarah, Rano Karno Punya Alasannya. Tetap tak dituliskan di artikel tersebut apa sebenarnya alasan Si Doel memilih Zaenab.

Rano Karno – yang merangkap sebagai pemeran Si Doel dan penulis ceritanya – tentu satu-satunya yang paham apa alasannya. Mungkin Rano Karno merasa dilematis untuk menjatuhkan pilihannya. Bila Si Doel memilih Zaenab dikira kok enak milih yang masih perawan. Setali tiga uang, bila Si Doel memilih menikahi Sarah, pasti banyak penonton yang kecewa kenapa Zaenab disia-siakan seperti itu.

Win-win Solution

Padahal bila ingin win-win solution, Si Doel bisa menawarkan solusi yang enak bagi ketiganya. Tentu lebih enak buat Si Doel tapi yang jelas dua perempuan tersebut – Zaenab dan Sarah – tetap bisa memiliki Si Doel. Solusinya adalah poligami. Wkwkwkwk. Saya hanya bisa ngakak. Si Doel ternyata bego. Kenapa juga tak memilih jalan tengah yaitu poligami. Nikahi saja kedua-duanya. Enak.

Serius? Kenapa tidak? Kan, Rano Karno merangkap sebagai Si Doel dan penulis ceritanya. Suka-suka Rano Karno, kan? Zaenab dan Sarah bisa berbagi lelaki. Semuanya bisa saling memiliki. Tak ada yang harus kehilangan. Toh, mereka bertiga sudah terbiasa bertiga. Si Doel, Zaenab dan Sarah. Poligami jawabannya.

Ini memang cerita ketika cinta harus memilih.

Sayangnya tak seperti itu. Kisah tentang harus memilih yang diakhiri dengan poligami jelas akan menjadi cerita yang antiklimaks. Tak seru. Bikin banyak penonton akan mencibir. Kalau akhirnya poligami kenapa tidak dari dulu-dulu saja. Pasti drama dan filmnya tak akan sampai berjilid-jilid.

Tapi ya tak akan menjadi drama televisi yang panjang dan tiga film trilogi bila memilih pasangan semudah memilih minum kopi atau minum teh. Memilih pasangan dan menikahinya bukan hal yang mudah. Poligami tak selalu menjadi solusinya. Mungkin karena tak ada perempuan yang mau berbagi hati, berbagi lelaki.

Basi

Ya, sudahlah. Drama percintaan Si Doel sudah basi. Tak lagi menarik. Katanya sih, Rano Karno ingin meneruskan kisah Si Doel dengan format baru. Yang mana sepertinya mau diteruskan hingga bertahun-tahun ke depan. Mungkin sampai Zaenab dan Sarah sudah tak lagi jadi tante-tante tapi sudah jadi nenek-nenek. Ceritanya tak lagi menarik. Basi. Seperti kerupuk yang sudah melempem karena ditaruh di toples yang lupa ditutup.

Akhir cerita. Begitulah. Sarah tak jadi dinikahi meski sudah mengandung dan melahirkan anak bagi Si Doel. Sedangkan Si Doel asyik menikmati hidup baru bersama Zaenab yang sudah menunggu sekian dekade tahun. Entahlah. Suka-suka Rano Karno sebagai penulis ceritanya.

One thought on “Pilih Zaenab atau Sarah?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s