Ronda Malam dan Covid-19

Adanya pandemi tak menyurutkan peran masyarakat desa untuk ronda malam. Namun ronda malam mengalami perubahan. Pertama, tidak ada lagi suguhan cemilan dan minuman untuk melewatkan waktu karena khawatir kalau makan minum berarti harus membuka masker. Belum lagi harus menyediakan tempat cuci tangan dan sabun cair. Ribet. Kedua, waktu jaga dipersingkat semata hanya mengumpulkan uang jimpitan, menghitungnya, dan pulang. Tak lebih dari 60 menit. Lebih cepat lebih baik sehingga bisa meminimalkan penyebaran virus corona dan memaksimalkan physical distancing.

Ronda malam di cakruk sesingkat apapun itu tetap saja ada topik-topik yang diangkat sebagai bahan obrolan ringan. Namanya juga ronda malam di tengah situasi tanggap darurat Covid-19 maka topik yang dibicarakan tak jauh dari seputar pandemi.

Kapan sekolah dibuka kembali?

Bapak-bapak yang ada di cakruk membincang tentang sekolah anak-anak mereka di era Kewajaran Baru alias new normal. Ada yang usul supaya sebaiknya pemerintah meliburkan sekolah hingga akhir tahun dan tahun ajaran baru mulai lagi di bulan Januari tahun 2021.

Saya hanya membatin. Bukan perkara mudah mengubah periode belajar pada saat sekolah menerima siswa-siswi baru. Diliburkan hingga 6 bulan ke depan bisa membuat sekolah kehilangan murid baru – yang berarti uang gedung dan spp – dan akhirnya gulung tikar. Tak hanya sekolah swasta, sekolah negeri juga bisa tutup selamanya bila tak ada cukup murid baru – meski disubsidi oleh pemerintah sekalipun.

Selain itu ada rasa khawatir bila anak sekolah boleh masuk bulan Juli ini maka bisa jadi penyebaran virus gelombang kedua akan meningkat tajam. Cukup satu dua anak atau guru yang positif virus corona, satu sekolah bisa ditutup sementara. Kembali lagi sekolah secara online alias daring.

Dosa karena tak beribadah, siapa yang menanggung?

Pemerintah melalui Departemen Agama memberi instruksi supaya tempat ibadah – untuk semua agama yang diakui di Indonesia – sebaiknya ditutup untuk sementara. Hingga situasinya lebih baik dengan tujuan menghindarkan tempat ibadah menjadi tempat penyebaran virus corona.

Tetap saja ada satu dua bapak ronda yang mempertanyakan hal ini. Kalau saya tak sembahyang di rumah ibadah, memangnya pemerintah yang menanggung dosanya?

Saya hanya diam saja. Pemerintah – menurut saya – tak ingin melarang kegiatan keagamaan di rumah ibadah. Hanya saja kita semua tahu bahwa kondisinya tak memungkinkan untuk menjamin virus corona tak menyebar di tempat ibadah. Bayangkan ada banyak orang yang datang dan tak diketahui benar akan kondisi tubuhnya. Bila ada satu dua umat yang terjangkit virus corona, sangat mungkin umat yang lainnya tertular. Ingat berita tentang superspreader di mana satu umat yang terkena virus corona setelah pulang dari Wuhan menularkannya pada ratusan umat lain di Korea Selatan.

Ini bukan masalah berdosa terhadap Sang Khalik karena tak sembahyang di rumah ibadah. Bukan pula pelarangan kegiatan agama. Ini tentang mencegah penyebaran virus corona. Sang Khalik memberikan kita akal sehat sehingga bisa terhindar dari virus yang mematikan. Bila semua berbondong-bondong ke rumah ibadah saat pandemi masih terjadi, bisa jadi ada sekian ribu umat yang ‘pergi menghadap Sang Khalik’ secara berjemaah. Akhirnya pemerintah juga yang disalahkan karena tak melakukan pencegahan penyebaran virus corona di tempat ibadah.

Rapid Test

Ada yang membincang tentang rapid test yang bisa dilakukan di rumah sakit terdekat. Biayanya mahal, 400an ribu. Namun tes lainnya yang menggunakan swab lebih mahal lagi hingga 800an ribu. Ya, ini antara perlu dan tidak. Menjadi sebuah ironi bila setelah melakukan tes dengan hasil yang non-reaktif, membayar mahal, dan ketika pulang dari rumah sakit malah tertular pasien yang menderita Covid-19. Kan, malah jadi problem tersendiri yang sebenarnya tak perlu terjadi.

Aman Terkendali

Untunglah desa kami aman terkendali dari penyebaran Covid-19. Tidak ada yang sakit. Tidak ada yang terbukti reaktif. Terdampak secara ekonomi dan sosial namun tidak ada masalah dengan kesehatan.

Sayangnya tetap saja ada yang terjangkit Demam Berdarah. Ada satu anak yang meninggal karena peran nyamuk. Peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau membuat kondisi lembab karena curah hujan yang terjadi disertai temperatur yang mulai meningkat. Alhasil jumlah populasi nyamuk meningkat drastis.

Portal-portal desa sudah ditutup. Tak ada lagi mobil dan motor yang lewat sembarangan. Namun tetap saja squadron nyamuk tak bisa dibendung. Mungkin karena ada saja warga yang tak sadar untuk menjaga kebersihan rumah dan sekitarnya.

Semoga

Begitu pandemi mulai, ini salah satu kata yang kerap muncul di perbincangan sehari-hari. Yaitu kata semoga. Semoga, ya ini harapan dari bapak-bapak ronda malam ini – pandemi segera berakhir. Semoga kehidupan menjadi normal kembali. Dan semoga – ini saya yang hanya membatinnya dalam hati – ronda malam bisa kembali menghadirkan sajian enak untuk cemilan dan minuman hangat sehingga bisa menstimulasi semangat untuk giat jaga malam selama dua jam itu.

Salam dari Cakruk di tengah pandemi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s