Kewajaran Baru

New normal. Alias kewajaran baru. Digaungkan berkali-kali. Oleh pemerintah. Oleh media. Oleh siapa saja. Menjadi topik obrolan terhangat setelah Covid-19 – virus dari jenis corona yang membuat orang gentar. Menakutkan karena virus ini terbukti bisa mengambil nyawa orang banyak. Covid-19 itu salah satu perwujudan dari Si Maut.

Saya tidak tahu lagi apa sih maksudnya kewajaran baru. Mungkin saat ini sudah wajar bila memakai masker kemana-mana. Tak perlu bertukar salam dan cukup menangkupkan kedua tangan di depan dada alias namaste.

Tak wajar bila ada anak-anak belajar di rumah. Biasanya anak didik meluangkan waktu di sekolah. Namun saat ini di rumah seharian. Sehari-hari orang tua mereka harus menjadi ‘guru’ yang mendampingi putra-putrinya belajar. Padahal jaman dulu sekali sebelum ada sekolah, suatu hal yang wajar bagi anak-anak untuk belajar di rumah dari orang tuanya langsung. Aneh, kan?

Saya belum yakin benar dengan istilah kewajaran baru. Apakah hal yang tak wajar, hanya karena pandemi, lalu bisa disebut sebagai hal yang wajar? Entah. Tak tahu.

Semoga kewajaran baru ini bukan menjadi hal yang abnormal atau upnormal. Namun menjadi sesuatu yang baru. Gaya hidup yang baru. Waspada dengan adanya Covid-19 yang belum hilang tapi mau tak mau kita harus hidup berdampingan dengan virus corona tersebut.

Apa yang masih wajar di era yang benar-benar ambyar seperti sekarang ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s