Jemarimu, Harimaumu

Ah, jaman sudah berganti. Pepatah lama sudah berubah rupanya. Menyesuaikan dengan konteks.

Mulutmu, Harimaumu!

Yang lebih relevan saat ini adalah ‘jemarimu, harimaumu‘. Dengan teknologi komunikasi seperti pesan pendek berbasis daring, kita bisa berucap apapun dengan siapapun di waktu kapanpun dengan mudah. Semudah mengetikkan kata-kata melalui antarmuka pada layanan pesan pendek yang gratis.

Tak hanya berbincang dengan satu orang alias japri – jaringan pribadi. Kita bisa membilang banyak hal dengan begitu banyak orang di saat yang sama melalui grup pada pesan pendek.

Saking mudahnya kita chatting, kita lupa dengan etika yang tak tertulis maupun aturan yang tertulis dalam berkomunikasi melalui pesan pendek. Apa yang kita tulis bisa jadi tak dipikir dengan matang terlebih dahulu. Lalu tiba-tiba ada orang yang tersinggung. Duh!

Saya suka bercanda. Pun dalam media daring melalui layanan pesan pendek. Asyik. Membuat orang tertawa itu menyenangkan. Namun candaan bisa berubah menjadi bumerang kala tidak melihat situasi dan suasana yang ada. Tanpa pikir panjang – tanpa melihat konsekuensinya – beberapa kali saya ‘salah’ dalam chatting. Sekali lagi, duh!

Apalagi dalam situasi pandemi karena virus corona bernama Covid-19, begitu banyak orang merasakan dampak negatif dari kondisi kesehatan dan keadaan ekonomi yang tak menentu. Banyak orang yang galau, cemas, takut, stres, atau bahkan mencapai kondisi depresi. Suatu guyonan yang sumbang tentu memicu rasa pedih yang menyakitkan.

Pagi ini pun jemari saya menjadi harimau saya. Alpa dengan kondisi yang ada, saya hanya menyeletuk ringan. Seorang teman lama tersakiti. Saya sudah tak sengaja menyinggung perasaannya. Segera saya japri untuk minta maaf. Hal terbaik yang bisa saya lakukan. Saya tak ingin menambah beban hidupnya dengan kata-kata saya yang sesungguhnya tak ada maksud untuk menyinggung.

Harimau sudah terlanjur lepas dari sangkarnya. Hanya karena jemari saya lupa saya kekang ‘tali kendalinya’. Duh! Harimau itu sudah ‘memakan perasaan’. Untunglah teman lama tersebut cukup lapang dada untuk memberi maaf. Hubungan kembali membaik. Harimau sudah kembali ke kandangnya.

Pelajaran sudah saya dapati hari ini. Untuk tetap selalu mengekang jemari saya supaya tak membuat harimau itu menerkam korban yang baru. Tahan diri adalah hal terbaik yang bisa saya usahakan. Menahan diri supaya lebih bijak berkata-kata. Baik dalam bentuk chat atau percakapan secara langsung.

Ingat selalu untuk tahan diri di tengah situasi pandemi yang tak lucu ini.

Jemarimu, Harimaumu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s