Status WhatsApp

Salah satu fitus WhatsApp yang cukup keren dan sering digunakan adalah Status WhatsApp. Pengguna WhatsApp bisa menuliskan kata-kata. Bisa juga mengunggah gambar statis. Pun video. Status WhatsApp bertahan selama 24 jam. Setelah itu terhapus dengan sendirinya. Ephemeral sifatnya. Sementara waktu. Tak permanen.

Justru itu yang menarik. Konten yang diunggah oleh pengguna WhatsApp hanya bertahan maksimal sehari saja. Dengan begitu, konten dalam Status WhatsApp akan berubah-ubah lebih sering. Membuatnya lebih menarik untuk diulik. Begitulah sifat manusia, ingin tahu urusan orang lain. Kepo! Penasaran. Bisa juga hanya sekedar iseng melihat-lihat status alias apa yang ingin dibagikan oleh pengguna WhatsApp lainnya.

Lalu sebenarnya apa yang orang pikirkan saat mereka mengunggah Status WhatsApp mereka?

Ada beberapa fungsi dari Status WhatsApp.

Bebas Beropini

Jelas. Menyampaikan pikiran mereka. Menyikapi suatu kondisi yang sedang terjadi. Misal ketika awal ada penyebaran corona virus, banyak orang menyampaikan apa yang ada di benak mereka tentang si Covid-19 tersebut. Opini yang disampaikan bebas. Kadang condong ke arah politik. Ada juga yang menyoal kemasyarakatan. Pendapat tentang isu ini dan itu. Pokoknya sesuatu yang seakan menjawab pertanyaan what do you think about that thing?

Curhat Colongan

Namanya rasa tidak senang. Sebal. Sedang ngga mood. Males. Mager. Masalah cinta. Galau yang tak dapat ditahan-tahan lagi. Rasa senang. Euforia. Rasa bosan. Ambigu. Ragu. Apapun yang berbau perasaan yang tak tahu mau disampaikan ke siapa. Inginnya ditanggapi. Ini juga kadang hanya berbentuk emoji. Entah emoji senang atau sedih. Yang diinginkan adalah orang yang cukup care atau selo akan segera mengajak chat. Lalu bertanya ‘kamu kenapa?’. Dan curhat pun terjadi.

Pengumuman Pribadi

Boleh dong menggunakan tempat publik bernama Status WhatsApp untuk ‘menempelkan pengumuman’ kepada publik – yang mungkin membacanya. Atau tidak membacanya. Semisal, ‘maaf, saya seminggu ini mau hiatus tidak mengakses ponsel karena mau menenangkan diri’. Entah itu karena sedang males atau mungkin sekedar menutupi kalau pulsa datanya sudah habis.

Promosi

Baiklah. Namanya juga usaha. Boleh-boleh saja bikin iklan di Status WhatsApp. Kalau jualannya cuma satu dua, tak apa. Kadang ada yang semua jualannya dipajang di Status WhatsApp yang berhalaman banyak. Lebih dari 10 produk yang berarti 10 halaman Status WhatsApp. Melelahkan bagi orang lain yang harus menggeser halaman-halaman Status WhatsApp tersebut. Biasanya iklan yang terlampau banyak di Status WhatsApp membuat saya memilih mute status orang tersebut; bahkan bila orang tersebut adalah teman atau keluarga. Bikin cape.

Kotbah

Saat ayat-ayat suci ditampilkan di Status WhatsApp, saya hanya membatin. Ini memang siapa yang butuh kata-kata surgawi seperti itu? Diri orang yang mengunggahnya? Atau dia berpikir dengan ‘menyebarkan’ kebaikan melalui kalimat petuah yang membuat orang jauh dari dosa akan memberinya pahala? Bisa jadi. Melihat status-status tersebut membuat diri saya kadang menjadi orang yang paling berdosa. Ya, ampun! Dosa apa yang saya lakukan hari ini sehingga harus diingatkan dengan bait-bait yang teramat sakral itu di Status WhatsApp?

Teka Teki Tebak Tebakan

Ya, kadang ada yang suka memberi pertanyaan yang misterius atau sekedar ingin iseng dengan teka-teki.

Sarana Silaturahmi

Ada waktu di mana kita ingin menyapa teman atau keluarga kita. Namun tanpa konteks karena lama tak bersua membuat bertegur sapa lewat WhatsApp menjadi gagu kaku penuh rasa rikuh. Namun begitu ada unggahan di Status WhatsApp, kita bisa ikut mengomentari. Tegur sapa jadi tak hanya ‘apa kabar?’ – yang kesannya membosankan dan bikin mati gaya. Langsung menanggapi apa yang ada di Status WhatsApp menjadi pintu bersilaturahmi yang nyaman.

Pamer

Begitulah salah satu sifat manusia. Ingin memamerkan sesuatu. Misal sebuah meja kursi dengan latar belakang yang cozy di sebuah kafe yang keren beken dan kekinian. Bisa juga makanan yang instagram-able. Pun dengan mobil baru. Keromantisan dengan pacar. Foto bayinya yang lagi lucu-lucunya; bukan pas lagi repot-repotnya ngompol. Pokoknya show off!

Apa lagi ya?

Belum terpikirkan saat ini. Namun pasti ada saja yang memanfaatkan Status WhatsApp untuk sesuatu yang baru – selain yang ada di atas.

Menurutmu sendiri, bila suka dan sering menggunakan Status WhatsApp, apa yang sering kamu unggah di Status WhatsApp-mu?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s