Upah Penerjemah

Pagi ini di grup WhatsApp penerjemah, ada salah satu penerjemah yang bertanya sesuatu yang penting dalam dunia alih bahasa.

“Translation price enaknya berapa?”

Ini pertanyaan sensitif. Perlu jawaban. Namun tidak enak jawabnya. Masing-masing penerjemah tentu punya pricing yang berbeda-beda. Banyak faktor yang mempengaruhi. Jam terbang. Pengalaman. Percaya diri. Seberapa baik seorang penerjemah menghargai dirinya. Bahkan ada yang masih tahap mulai menerjemahkan. Tentu ‘upah menerjemahkannya’ beragam. Tak bisa diambil satu standar yang dipakai bersama-sama.

Cara menghitung biaya menerjemahkan juga bervariasi. Ada yang dihitung berdasarkan jumlah kertas A4. Ada yang memakai kalkulasi jumlah kata dari dokumen sumber. Malah ada yang mematok biaya dengan kisaran biaya bekerja dalam satu jamnya. Ditambah juga dengan model penerjemahan secara borongan, satu dokumen penuh setara dengan berapa rupiah; tanpa ribet memikirkan cara penghitungan secara detail.

Dalam dunia penerjemahan, tak selalu kontraprestasi berbentuk nominal uang. Ada yang sekedar ‘ucapan terima kasih’ dari lubuk hati yang paling dalam. Saya pernah menerjemahkan dan dibayar dengan es krim. Enak, es krimnya. Pernah pula ada yang memberi satu tas backpack yang bagus sebagai bentuk apresiasi. Apapun bentuk penghargaannya, saya terima dengan senang. Mengerjakan sesuatu yang berguna bagi orang lain dan mendapat rejeki.

Tentu saya sekarang ini mencoba menghindari permintaan penerjemahan gratisan. Ini profesi saya. Saya mencari penghidupan, salah satunya, dari giat menerjemahkan. Lucu dan sedikit perih bila ada yang membilang ‘kan, buat kamu nerjemahin itu gampang‘. Jelas ada usaha, waktu, tenaga dan pemikiran yang harus dicurahkan. Mosok sih gratisan? Bagaimana negeri +62 bisa makmur bila banyak orang ‘menggampangkan’ sebuah profesi.

Tentu saya memberi alokasi dalam menerjemahkan secara Pro Bono – secara sukarela tanpa bayaran. Namun pilah-pilih. Tak asal. Saya bisa membantu orang menerjemahkan bila memang masuk akal alasannya. Pun demikian, juga turut berkontribusi berbagi dalam komunitas penerjemah yang saling meningkatkan kualitas bersama.

Kembali ke pertanyaan di atas, jawabannya sudah dijawab bersama-sama oleh anggota komunitas. Bahkan ada yang menyarankan untuk melihat referensinya di situs resmi Himpunan Penerjemah Indonesia. Bisa juga melihat di internet, harga referensi yang dipakai oleh penerjemah lainnya.

Seperti profesi lainnya, yang umumnya bergerak dalam bidang jasa, ‘ongkos’ menerjemahkan itu tergantung ‘kasta’ masing-masing penerjemah. Kembali lagi pada jumlah jam terbang, banyaknya pengalaman dan tingkat percaya diri. Ada yang benar-benar berkualitas tinggi dan ‘mahal’ tapi sepadan dengan hasil penerjemahannya. Ada yang sesuai harga pasaran. Ada yang disesuaikan dengn target pasarnya – klien yang dilayani. Itupun ada juga yang memang suka ‘banting harga’ karena memang ‘butuh banget uang’ dan tidak paham dengan kalkulasi biaya penerjemahan yang standar.

Besaran upah dikembalikan lagi pada sebuah slogan lawas.

You pay peanut, you get monkey.
Ono rego, ono rupo.

Kualitasnya setimpal dengan upahnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s