Kiki’s Delivery Service

Film anime. Judulnya aneh dan tidak meyakinkan. Seperti laiknya bilang Layanan Antar Joni. Sambil membayangkan abang ojol yang pakai jaket hijau.

Bedanya Si Kiki ini bisa terbang. Tak punya sayap. Si Kiki ini penyihir cilik. Oleh karena itu bisa mengangkasa dengan naik sapu terbangnya. Ajaib? Namanya saja penyihir.

Bagi para penyihir di film ini, mereka harus pergi dari rumah mereka saat akil balik. Di sini saat usia mereka 13 tahun. Muda sekali, kan? Belum juga anak SMA. Para penyihir itu pergi jauh dari rumah untuk mencari kota atau desa di mana mereka bisa tinggal dan bekerja.

Dengan lambaian tangan dari orang tua dan teman-temannya, penyihir cilik dengan pita merah besar itu terbang. Awalnya mengasyikkan. Lalu berubah menjadi penuh tantangan. Hingga Penyihir cilik yang selalu ditemani oleh kucing hitam bernama Jiji ini mendarat di suatu kota yang memiliki menara jam yang indah.

Mencari pekerjaan. Menemukan tempat tinggal. Mengenal orang-orang baru. Termasuk bocah muda yang bercita-cita untuk bisa terbang bernama Tombo.

Ada suka duka. Hingga Si Kiki pada suatu hari kehilangan kemampuannya untuk terbang. Penyihir dan tidak bisa terbang. Ada krisis dalam diri Si Kiki.

Ada banyak tantangan. Ada pula perjalanan. Dan momen-momen mengharukan. Untuk selanjutnya bagaimana, silakan lihat sendiri. Tak seru bila saya ceritakan sampai akhir.

Film anime yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki ini memang tampil sederhana. Tenang. Mengalir lancar. Namun ada detil pada tiap momennya. Sampai di beberapa adegan, saya terharu. Menitikkan air mata. Film anime ini mengingatkan saya pada masa saat saya merantau; yang tentu penuh suka duka.

Dan memang film ini hendak menyampaikan pesan bahwa setiap orang memiliki masa muda yang membingungkan. Ada dunia baru untuk dijelajahi yaitu saat masa sekolah sudah usai dan beranjak ke dunia kerja. Menjadi dewasa. Suka atau tidak. Namun menjadi dewasa itu suatu keharusan.

Film ini juga menyentil tentang impian yang kadang hilang dalam perjalanan hidup. Seperti Si Kiki yang pada suatu saat tak lagi bisa terbang dengan sapu terbangnya. Bagi saya sendiri, ada satu dua hal yang mana saya tak mampu melakukannya seperti saat masih muda.

Di akhir film, perjalanan si penyihir cilik ini berakhir dengan manis. Tak perlu ada pangeran hebat yang bisa mengalahkan naga seperti film kartun Disney. Tak seheboh film-film jaman sekarang yang berakhir dengan klimaks dengan happy forever. Di film ini, kehidupan berjalan dengan alami. Mengalir dengan segala suka dan duka yang akan dialami Si Kiki di hari-hari berikutnya di masa depan.

Hayao Miyazaki, sang animator legendaris itu, hanya memotret satu masa dalam kehidupan orang muda. Saat paling mendebarkan ketika akil balik tiba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s